Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 28.4 ° C

Rupiah Diprediksi Melemah di 2019

Tia Dwitiani Komalasari

JAKARTA, (PR).- Nilai tukar Rupiah diprediksi kembali mengalami pelemahan dengan rata-rata Rp 15.250 per Dolar AS pada 2019. Gejolak nilai tukar Rupiah tersebut dipengaruhi normalisasi suku bunga Amerika Serikat, resiko perang dagang dan harga minyak mentah.

Hal itu tercantum dalam Buku Proyeksi Ekonomi Indonesia 2019 yang diluncurkan Institut for Development of Economics and Finance (INDEF). Proyeksi nilai tukar Rupiah tersebut lebih tinggi dibandingkan yang telah ditetapkan pemerintah dalam APBN sebesar Rp 15.000 per Dolar AS.

Eko mengatakan, nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi sebesar 7,86 persen terhadap Dolar AS sepanjang Januari-November 2018. Depresiasi ini cukup besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Wakil Direktur INDEF, Eko Listyanto, mengatakan gejolak nilai tukar Rupiah masih akan tertekan oleh agresivitas bank Sentral Amerika Serikat dalam menormalisasi suku bunganya di 2019.‎ Kenaikan harga minyak dunia juga mempengaruhi defisit transaksi berjalan, sebab defisit neraca perdagangan Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh sektor migas.

Meskipun demikian, Eko mengatakan, pemerintah harus menjadikan depresiasi Rupiah ini sebagai‎ momentum membangkitkan peran dan kontribusi ekonomi domestik.

"Inilah saatnya pemerintah mengoptimalkan kebijakan berbasis bahan baku domestik untuk mengantikan bahan baku dan bahan penolong impor," ujar Eko dalam Seminar Nasioal Proyeksi Ekonomi Indonesia 2019 di Jakarta, Rabu 28 November 2019.

Menurut Eko,‎ pemerintah juga perlu menahan diri dari obral obligasi maupun Daftar Negatif Investasi, jika hanya sekedar untuk memperbaiki situasi jangka pendek atau meningkatkan suplai Dolar AS di pasar domestik.

"Dengan memperhatikan efektivitas utang pemerintah yang tumpul dalam mengakselerasi ekonomi, maka situasi kenaikan suku bunga acuan saat ini tidak boleh menjadi windfall bagi pemerintah untuk memacu utang. Obral obligasi di tengah situasi konstraksi ekonomi dapat berakibat pada pengetatan likuiditas yang belerbihan," kata dia.

Celah pemerintah



Di tempat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan Rupiah mengalami penguatan dalam satu bulan terakhir sehingga berada di level Rp 14.500 per Dolar AS. Dia optimistis masih ada ruang bagi Rupiah untuk menguat kembali.

"Masih ada ruang sebenarnya, tapi kita kan gak habis-habisan untuk memperkuat sekuat-kuatnya langsung," ucap Darmin.

Menurut Darmin, yang terpenting saat ini adalah sudah ada aliran modal masuk ke Indonesia baik melalui Surat Utang maupun lainnya. Dengan demikian, penguatan rupiah bisa bertambah dan bisa menutup defisit transaksi berjalan.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, mengatakan bahwa nilai tukar Rupiah saat ini yang berkisar di rentang Rp 14.500 per Dolar AS masih di bawah fundamentalnya.

"Memang sekarang sudah menguat, tapi kami memandang nilai tukar ini masih under value," kata Perry.

Menurut Perry, penguatan ‎Rupiah sampai sejauh ini belum sebanding dengan tenaga upaya yang telah dilakukan Bank Indonesia. Upaya tersebut diantaranya dengan melakukan intervensi pasar uang dan surat utang.

Selain itu, BI juga telah menaikan suku bunga acuanya sebesar 175 basis poin sepanjang 2018.***

 

 

 

 

Bagikan: