Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Umumnya cerah, 18.2 ° C

Imbas Perang Dagang, Produk Tiongkok Kian Masif Membanjiri Pasar Domestik

Yulistyne Kasumaningrum

BANDUNG, (PR).- Imbas perang dagang antara AS-Tiongkok telah merambah dan dirasakan Indonesia. Salah satu indikatornya terlihat dari semakin membanjirnya produk Tiongkok ke pasar domestik pasca dilancarkannya perang dagang tersebut.

Perkembangan itu menyebabkan banyak produk lokal yang mulai kewalahan menghadapi membanjirnya produk asal Tiongkok. Pasalnya, harga produk impor Tiongkok tersebut lebih rendah 20-30% sehingga dikhawatirkan akan mengganggu kinerja industri domestik.

Demikian terungkap dalam Seminar Ekonomi Outlook yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran bekerjasama dengan HU PIkiran Rakyat, di Kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung, Selasa 27 November 2018.

Bertindak sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut Deputi Direktur Divisi Pengembangan Ekonomi Kantor Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Dudi Dermawan, Wakil Ketua Kadin Jabar Memed Murzid, dan Akademisi Unpad Rudi Kurniawan, serta moderator Wakil Pemimpin Redaksi PR Erwin Kustiman.

Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Utama Pikiran Rakyat Perdana Alamsyah, Direktur Bisnis PIkiran Rakyat Januar P. Ruswita, Wakil Rektor Bidang Riset Pengabdian Kepada Masyarakat, Kerjasama, Inovasi, dan Usaha Keri Lestari, serta Dekan FEB Unpad Yudi Azis.

Dudi memaparkan berdasarkan data yang dimiliki secara umum volume perdagangan dunia dan harga komoditas diperkirakan melambat. Hal itu sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan masih tingginya risiko trade war.

Namun sejumlah komoditas sebetulnya menunjukkan peningkatan harga. Salah satunya tembaga yang menunjukkan peningkatan harga 7,1%. Namun persoalannya, perang dagang antara AS-CIna yang menyebabkan bea masuk tembaga Cina menjadi tinggi akhirnya beralih ke Indonesia.

“Dampaknya kenaikan ini tidak dirasakan Indonesia. Apalagi tembaga impor tersebut harganya 20-30% lebih rendah. Artinya, perang dagang sudah merambah masuk ke Indonesia itu yang perlu diwaspadai karena kita memiliki industri domestik yang mulai kewalahan dengan perkembangan ini,” katanya.

Hal senada diungkapkan Memed. Dikatakan sejak Presiden AS Donald Trump mencanangkan visi “Make America Great Again” memaksa perang dagang, tarif masuk ke AS dinaikkan, dan juga fasilitas ke negara mitra utama banyak yang dicabut. Langkah itu terimbas pada Indonesia.

“Cina sebagai global source kesulitan melempar produknya. Yang menjadi pertanyaannya, kehadiran digital marketing 85% produk yang dijual produk Cina. Ini menjadi pertanyaan karena menekan usaha ritel tanah air,” katanya.

Kelonggaran Tiongkok mengancam



Jabar merupakan pasar yang sangat seksi dengan jumlah penduduk yang mencapai 47 juta jiwa menjadikan pasar wilayah ini sangat atraktif untuk bisnis. Semua pemain ingin masuk ke pasar Jabar termasuk produk dari Tiongkok.

“Perlu antisipasi terjadinya banjir produk Cina karena mereka bingung mau lempar kemana, yang saat ini semakin masif membanjiri. Bahkan, pengusaha Cina berani memberikan kelonggaran, seperti jangka waktu pembayaran yang panjang mencapai 10-12 bulan dari sebelumnya 2 bulan. Ini menjadi ancaman,” katanya.

Sementara itu Rudi mengatakan potensi Indonesia dalam memanfaatkan dampak langsung dari pengalihan impor AS dari Tiongkok terbatas. Negara yang justru berpotensi besar adalah Vietnam, Filipina, dan Kamboja. Dipaparkan penurunan ekspor produk Tiongkok yang juga diekspor Indonesia ke AS bernilai 1,3% PDB dengan nilai tambah domestik 1,0% GDP.

“Artinya produk yang menjadi subjek perang dagang itu bukan produk ekspor penting bagi Indonesia. Kecil. Kalau dilihat segi kemiripan ekspor dengan Cina kecil bagi Indonesia,” katanya

Untuk pengalihan investasi, Rudi mengatakan berdasarkan indeks korelasi antara ekspektasi penurunan impor AS dari Tiongkok dan impor AS dari setiap negara East Asia HS 8-digit akibat tariff yang paling mungkin menerima investasi adalah dari Taiwan, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Sedangkan, nilai indeks terendah dimiliki Indonesia dan Myanmar.

“Ini dilihat dari sisi kemiripan produk. Di Asean, Indonesia ini paling kecil menerima investasi dari Cina, berbeda dengan negara lain seperti Kamboja yang begitu terbuka,” katanya.

Lebih lanjut untuk dampak tidak langsung, Tiongkok tergantung pada impor barang antara dan bahan baku dari negara-negara East Asian termasuk Indonesia. Kemudian, apabila ekspor Tiongkok ke AS turun maka akan menimbulkan efek knock-onmelalui backward linkages.

“Jika perang dagang ini berlanjut dna semakin memburuk, maka industri manufaktur di Cina akan menurun yang berdampak menurunnya permintaan barang antara dan bahan baku ini. Kamboja, Indonesia, dan Vietnam relatif tidak terpengaruh karena rendahnya partisipasi dalam rantai nilai global Tiongkok,” ujarnya. ***

Bagikan: