Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Umumnya cerah, 17.3 ° C

Kenaikan Harga BBM Bersubsidi Bayangi Pertumbuhan Ekonomi 2019

Tia Dwitiani Komalasari

JAKARTA, (PR).- Besarnya potensi pemerintah menaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menghantui pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 mendatang. Hal itu terjadi lantaran pemerintah malah menurunkan alokasi subsidi energi, di tengah potensi peningkatan harga minyak dunia yang terjadi tahun depan.

Seperti diketahui sebelumnya pemerintah menargetkan target subsidi energi 2018 mencapai Rp 94,5 triliun. Meskipun demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan bahwa total subsidi energi 2018 mencapai Rp 163,5 triliu‎n.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE), Mohammad Faisal, mengatakan pemerintah sebenarnya sudah berusaha untuk menahan kenaikan BBM subsidi sejak tahun 2018. Hal ini menyebabkan beban APBN 2018 menjadi bertambah berat, karena harus menutupi anggaran subsidi energi yang membengkak hingga 73 persen. 

Namun, Faisal mengatakan, tekanan kenaikan harga minyak dunia akan semakin tinggi tahun depan. Inilah yang menyebabkan CORE memprediksi pemerintah akan menaikan harga BBM bersubsidi di tahun 2019.

"Padahal logikanya jika harga BBM bersubsidi tetap saja seperti sekarang, maka yang terjadi seharusnya pemerintah menaikan alokasi anggaran untuk subsidi BBM sehingga bisa menutupi harga keekonomiannya. Namun ini angarannya malah diturunkan, itu artinya kemungkinan kenaikan harga BBM bersubsidi memang sudah direncanakan," ujar Faisal dalam acara Diskusi CORE Economic Outlook 2019 di Jakarta, Rabu 21 November 2018.

Menurut Faisal, kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut diprediksi baru dilakukan setelah Pemilu yang jatuh pada April 2019.

"Sekarang kan masih ditahan-tahan (menaikan harga BBM) karena menghadapi tahun politik. Termasuk diantaranya tarif listrik," ujar dia.

Ia menilai kenaikan tersebut beresiko mempengaruhi inflasi tahun 2019. Jika harga BBM bersubsidi naik, kemungkinan harga BBM non subsidi akan ikut naik juga.

Padahal pemerintah telah menurunkan ‎target inflasi dari 3,5±1 persen menjai 3 ± 1 persen pada 2019. Bila kenaikan BBM terjadi, dia memprediksi inflasi 2019 bisa mencapai lebih dari 4 persen.

"Memang inflasi tidak akan mencapai 8 persen seperti pada 2014, kami prediksi sekitar 4-5 persen. Namun menaikan subsidi BB‎M juga akan mempengaruhi daya beli masyarakat, konsumsi yang selama ini jadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi pun jadi terganggu," ucapnya.

Dia mengatakan, kondisi tersebut membuat CORE memprediksi target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 sebesar 5,3 persen yang ditetapkan pemerintah menjadi sulit tercapai.‎ Pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi tersebut masih berada di rentang 5,1 persen hingga 5,2 persen.

Ekonomi global



Sementara itu Deputi‎ Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, mengatakan BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 sama dengan tahun ini. Bank plat merah itu sebelumnya memprediksi pertumbuhan ekonomi 201 mencapai 5,1-5,2 persen.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 mendatang masih akan dibayangi ketidakpastian ekonomi global. Hal itu terutama terjadi akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

"Pertumbuhan ekonomi global akan mengarah ke bawah tiga persen," ujar Dody.

Selain Amerika Serikat, Dody mengatakan, normalisasi suku bunga juga kemungkinan akan dilakukan Uni Eropa. Sementara Bank Sentral Amerika diperkirakan akan kembali menaikan suku bunganya sebanyak 2-3 kali pada 2019.‎***

 

 

Bagikan: