Pikiran Rakyat
USD Jual 14.273,00 Beli 13.973,00 | Umumnya cerah, 23.2 ° C

Lonjakan Nilai Impor Indonesia Dorong Melebarnya Defisit Neraca Perdagangan

Tia Dwitiani Komalasari
SUASANA aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018 lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Juli 2018 sebesar USD 18,27 miliar, naik 62,17 persen apabila dibandingkan dengan kondisi impor pada Juni 2018, dan impor ini merupakan yang terbesar sejak Januari 2008.*
SUASANA aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018 lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Juli 2018 sebesar USD 18,27 miliar, naik 62,17 persen apabila dibandingkan dengan kondisi impor pada Juni 2018, dan impor ini merupakan yang terbesar sejak Januari 2008.*

JAKARTA, (PR).- Nilai impor Indonesia melonjak ‎tajam mencapai 17,62 miliar Dolar AS atau naik 20,6 persen dibandingkan September 2018. Hal ini mendorong melebarnya defisit neraca perdagangan tahun berjalan 2018 (Januari-Oktober) mencapai 5,51 miliar Dolar AS. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2018 mencapai 15,8 miliar Dolar AS. Angka tersebut sebenarnya meningkat 5,87 persen jika dibandingkan bulan lalu atau naik 3,59 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Meskipun demikian, pertumbuhan impor Oktober 2018 jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Hal itu menyebabkan neraca perdagangan Oktober 2018 kembali mengalami defisit 1,82 miliar Dolar AS.

Jika dilihat per sektor, defisit neraca perdagangan Oktober 2018 tersebut tidak hanya terjadi di sktor migas, namun juga non migas masih sebesar 1,43 miliar Dolar AS dan 0,39 miliar Dolar AS.

"Ini memang bukan defisit non migas pertama, sebelumnya pernah terjadi di Mei dan Juni. Namun defisit migas terjadi setiap bulannya," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Kamis 15 November 2018.

Dia mengatakan, kenaikan nilai impor migas disebabkan oleh adanya kenaikan harga minyak mentah dunia dan hasil minyak dunia. Sementara kenaikan impor non migas di Oktober 2018, didorong oleh semua sektor, baik barang konsumsi, bahan baku penolong, dan barang modal.

Menurut Suhariyanto, pemerintah memang mulai mengurangi proyek pembangunan infrastruktur yang mendorong naiknya bahan baku/penolong. Meskipun demikian, ada beberapa proyek yang perjanjiannya sudah kepalang tanggung dilaksanakan.‎

Hal inilah yang mendorong impor bahan baku/penolong naik. Ia menyanggah jika kenaikan impor konsumsi menandakan kebijakan pajak penghasilan impor yang baru diterapkan pemerintah tidak berhasil. Menurut dia, kenaikan impor konsumsi itu dipengaruhi dalam rangka persiapan menjelang natal dan libur akhir tahun.

"Kebijakan itu penerapannya kan membutuhkan waktu untuk bisa melihat hasilnya. Jadi saya tidak bisa mengatakan bahwa kebijakan tersebut tidak berhasil," kata dia. 

Meskipun demikian, dia berharap agar pemerintah tetap mewaspadai defisit neraca perdagangan yang semakin melebar ini.

"Kita berharap agar kenaikan impor ini ditanggulangi sehingga tidak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kwartal IV," ujarnya.***

 

Bagikan: