Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.1 ° C

Meningkat Tajam, Kebutuhan Tenaga Kerja di Bidang Ekonomi Digital

Tia Dwitiani Komalasari

JAKARTA, (PR).- Rata-rata jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sebuah perusahaa‎n ekonomi digital tumbuh 35,1 % pada tahun depan. Sementara tenaga kerja yang memiliki kemampuan mumpuni untuk bekerja di sektor tersebut sangat terbatas.

Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Ignatius Untung, mengatakan pihaknya melakukan survei ke perusahaan-perusahaan ekonomi digital di Indonesia. Berdasarkan survey tersebut, rata-rata jumlah karyawan bertambah sebanyak 76,8 % sejak pertama didirikan. Padahal perusahaan ekonomi digital tersebut baru berdiri beberapa tahun belakangan.

Dia mengatakan, saat ini terdapat 350 perusahaan yang tergabung dalam asosiasinya.‎ Sementara 50 perusahaan lagi masih dalam proses pendaftaran. "Diprediksi jumlah yang masuk dalam asosiasi kami baru 50 persen dari yang ada di lapangan, itu berarti total bisa dua kali lipatnya. Sebab ada sebagian dari mereka yang masih start up dan sebagainya," ujar Untung saat konferensi pers idEA works di Jakarta, Kamis 8 November 2018.

Berdasarkan riset yang dilakukan AT Kearney dan Amvesindo dari Google tahun 2017, sektor industri ekonomi digital sudah menduduki posisi tiga besar investasi di Indonesia, setelah tambang serta minyak dan gas.‎ Untuk berkembang, menurut Untung, industri ini sangat membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki talenta.

Meski demikian, industri ekonomi digital ini memiliki tantangan yang cukup tinggi dalam hal sumber daya manusia. Tenaga kompeten yang terbatas menyebabkan perusahaan sering membajak karyawan dari perusahaan lain. Hal itu menyebabkan rata-rata karyawan yang keluar dan masuk dari satu perusahaan setiap tahunnya mencapai 19 persen. "Kalau di perusahaan saya bisa mencapai 50 persen. Ini menyebabkan ongkos karyawan juga menjadi tingi karena tidak mungkin karyawan mau pindah ke perusahaan lain jika gajinya tidak naik,"ujar dia.

Padahal tenaga kerja yang bekerja di sektor ini juga masih membutuhkan peningkatan kualitas sehingga bisa semakin mumpuni bekerja di sektor tersebut. Lulusan perguruan tinggi pun seringkali tidak link and match dengan industri ini.

Ketua Bidang Human Capita Development idEA, Sofian Lusa, mengatakan banyak peran kunci di dalam industri digital sulit ditemukan dan dikelola. "Hal ini bisa dilihat dari tingginya angka turnover di sebuah perusahaan dalam industri terakit, sulitnya menemukan talenta terbaik di industri, hingga kompetisi pasar yang cukup sengit. Sebab, para talenta muda terbaik memilih untuk bekerja di perusahaan unicorn yang bisa memberikan gaji besar dan fasilitas tanpa batas," ujar dia.

Menurut Sofian, terdapat kesenjangan yang besar di dunia kerja. Hal ini membuat idEA berkomitmen untuk membangun jembatan demi mengurangi kesenjangan yang terjadi antara pelaku industri dan talenta. 

Dia mengatakan, kesenjangan ini disebabkan oleh kurangnya wawasan talenta muda mengenai pekerjaan di sektor industri ekonomi digital. Untuk menjembatani hal itu, idEA menyelenggarakan idEA works yang menjembatani institusi pendidikan dengan calon mahasiswa serta pelaku industri. "Di sini kami bisa bertukar informasi dan mempertemukan minat dan bakat dengan pendidikan yang tepat, sehingga nantinya mereka mendapatkan profesi yang tepat, terutama untuk mengatasi kelangkaan di industri ekonomi digital,"ujar Sofian. Rangkaian cara ini akan diselenggarakan Februari 2019. ‎Selain Jakarta, acara ini juga akan diselenggarakan di kota lain termasuk Bandung.***

Bagikan: