Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20 ° C

Triawan Munaf Ajak Perguruan Tinggi Gali Potensi Ekonomi Kreatif Indonesia

Catur Ratna Wulandari
KEPALA Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf memberi kuliah umum di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu 10 Oktober 2018. Bekraf menggandeng perguruan tinggi untuk menggali potensi ekonomi kreatif Indonesia.*
KEPALA Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf memberi kuliah umum di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu 10 Oktober 2018. Bekraf menggandeng perguruan tinggi untuk menggali potensi ekonomi kreatif Indonesia.*

BANDUNG, (PR).- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggandeng perguruan tinggi untuk menggali potensi ekonomi kreatif Indonesia. Penguatan ekonomi kreatif terus dilakukan untuk mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi kreatif terbesar di dunia.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengatakan, Bekraf telah membuat nota kesepahaman dengan sekitar 30 perguruan tinggi di Indonesia. Dengan kerja sama itu, Bekraf memberikan mentoring kepada mahasiswa di perguruan tinggi, misalnya pelatihan membuat kemasan yang baik, cara-cara mengakses permodalan, meningktkan pemasaran dan sebagainya. Ilmu-ilmu tersebut bisa langsung diterapkan oleh mahasiswa untuk memperkaya produk yang dihasilkannya.

"Sebaliknya para ahli di perguruan tinggi kami ajak ke daerah untuk menggiatkan potensi di sana. Kami butuh antropolog, kami juga membutuhkan ahli desain kemasan, dan lain-lain," kata Triawan Munaf usai memberi kuliah umum di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu 10 Oktober 2018.

Triawan mengatakan, Indonesia merupakan salah satu kekuatan ekonomi kreatif di dunia. Indonesia berada di urutan ketiga dengan Sektor industri kreatif Indonesia menyumbang 7,30% GDP atau sekitar Rp 852 triliun. Angka itu menempatkan Indonesia pada urutan ketiga ekonomi kreatif terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Korea. Indonesia masih di atas Rusia, Singapura, dan Kanada.

"Indonesia perlu menangkap energi dari posisinya yang strategis. Indonesia perlu mengembangkan ide-ide pengembangan ekonomi kreatif," katanya.

Untuk itulah Indonesia pada November mendatang menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy 2018 di Bali. "Sudah ada dua pertemuan awal yang menghadirkan 50 negara," ujarnya.

Saatnya ekonomi kreatif Indonesia memimpin



Konferensi internasional ini mengangkat tema "Inclusively Creative". Triawan menjelaskan, tema ini dimaksudkan untuk menunjukkan ekonomi kreatif bisa didalami dan dipraktekkan oleh semua orang. Semua mempunyai kesempatan yang sama untuk mengambil peran mengembangan industri kreatif.

"Rencananya konferensi ini dihadiri oleh Muhammad bin Salman, pangeran Saudi Arabia yang membuat berbagai terobosan di negaranya. Mereka sedang menggiatkan ekonomi kreatif juga," tuturnya.

Triawan mengatakan, ekonomi kreatif bisa menjadi masa depan ekonomi global. Data Bank Dunia 2015 menunjukkan, pendapatan ekonomi kreatif di dunia mencapai 2.250 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan pendapatan 10 negara ASEAN.  

Data Ernst & Young menunjukkan, sebanyak 29,5 juta orang pekerja di sektor industri kreatif.

"Membawa Indonesia menjadi kekuatan ekonomi kreatif dunia merupakan tugas yang berat. Perlu dilaksanakan dengan benar dan konsisten. Pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur, penegakan hukum terkait perlindungan hak kekayaan intelektual merupakan sejumlah aspek yang harus dibenahi," tuturnya.

Ia menambahkan, konferensi internasional itu ingin meyakinkan pasar dunia bahwa Indonesia bukan saja bangsa dengan jutaan keragaman tetapi juga jutaan kesempatan bagi dunia. ***

Bagikan: