Pikiran Rakyat
USD Jual 14.325,00 Beli 14.025,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Fed Tegaskan Normalisasi Kebijakan Moneter AS Mendekati Tahap Akhir

Tia Dwitiani Komalasari
GUBERNUR Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) Wilayah New York John C. Williams menyampaikan pandangannya dalam sesi Central Banking Forum 2018 pada Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018. Forum tersebut membahas berbagai isu perekonomian terutama kebijakan moneter dan pertumbuhan ekonomi.*
GUBERNUR Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) Wilayah New York John C. Williams menyampaikan pandangannya dalam sesi Central Banking Forum 2018 pada Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018. Forum tersebut membahas berbagai isu perekonomian terutama kebijakan moneter dan pertumbuhan ekonomi.*

NUSA DUA, (PR).- Presiden Federal Reserve Bank of New York (Fed NY), ‎John Williams, menegaskan bahwa proses normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral Amerika sudah mendekati tahap akhir. Meskipun demikian, The Fed masih akan melakukan peningkatan suku bunga dalam dua tahun mendatang. 

Seperti diketahui, normalisasi kebijakan moneter tersebut memiliki dampak kuat terhadap nilai tukar mata uang negara lain termasuk Indonesia. Sejak awal 2018, Rupiah telah terdepresiasi lebih dari 10 persen.

Williams mengatakan, FOMC (Federal Open Market Comittee/Dewan Rapat Kebijakan Bank Sentra Amerika Serikat)‎ telah dalam proses untuk menormalkan kebijakan moneter secara bertahap selama beberapa tahun terakhir.

"Melihat ke depan, saya terus berharap bahwa peningkatan suku bunga secara bertahap akan paling mendorong ekspansi ekonomi dan pencapaian tujuan mandat ganda kami,"ujar dia saat acara Central Banking Forum 2018 yang merupakan rangkaian Annual Meeting‎ International di Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018.

Sejak pertama menaikkan suku bunga dari mendekati nol pada bulan Desember 2015, dia mengatakan, FOMC terus meningkatkan kisaran target untuk tingkat dana federal karena ekonomi telah membaik. Kebijakan yang dihasilkan FOMC telah menaikan suku bunga The Fed menjadi 2,25 % pada akhir September 2018.  

"Kami berulang kali menekankan bahwa kami meramalkan ini menjadi proses normalisasi bertahap, yang mencerminkan keseimbangan risiko untuk mencapai tujuan kami. Secara khusus, risiko penurunan terhadap pencapaian pekerjaan dan sasaran inflasi kami di tengah suku bunga yang sangat rendah merupakan argumen yang kuat untuk pendekatan kebijakan yang relatif hati-hati dan dapat diprediksi. Ini membuktikan nilainya: Perekonomian AS terus berkembang pada kecepatan yang sehat bahkan ketika the Fed menaikkan suku berkali-kali,"‎ ujar dia.

‎Menurut Williams, FOMC telah meringkaskan pernyataannya akhir-akhir ini dan menggunakan lebih sedikit panduan ke depan tentang jalur kebijakan masa depan. Dalam pernyataannya baru-baru ini, FOMC menghapus bahasa yang menunjukan bahwa kebijakan moneter tetap akomodatif.

‎"Biar saya perjelas, pernyataan-pernyataan yang lebih ringkas ini tidak menandakan perubahan dalam pendekatan kebijakan moneter kami. Sebaliknya, mereka mewakili evolusi alami dari bahasa yang menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan kebijakan kita dalam konteks kekuatan prospek ekonomi dan inflasi yang mendekati 2 persen sebagai tujuan jangka panjang kita," kata Williams.

Skenario kebijakan



Sementara itu Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan‎ Indonesia merespon kebijakan bank sentra AS dan ketidakpastian ekonomi global. Saat ini, ekonomi Indonesia masih stabil dan berdaya tahan. Hal itu  tercermin dari pertumbuhan dan inflasi yang baik, serta stabilitas sistem keuangan yang terjaga. 

Meskipun demikian, Perry mengatakan, pihaknya tetap harus memperhatikan pengaruh ekonomi global. Untuk itu, skenario kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia adalah memastikan daya saing pasar keuangan Indonesia agar tetap menarik, dan defisit transaksi berjalan tetap terjaga.

"Bank Indonesia juga selalu hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Pendalaman pasar keuangan juga terus dipercepat, agar pasar keuangan Indonesia semakin prospektif," ujar dia.

Dia menambahkan, komunitas internasional dapat saling membantu. Komunikasi yang baik dan jelas, termasuk dari AS, merupakan salah satu faktor kunci mengurangi ketidakpastian ekonomi global. Negara-negara ekonomi maju juga perlu senantiasa memahami dampak yang mungkin ditimbulkan kebijakannya bagi ekonomi global.***

Bagikan: