Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Tepis Ketergantungan Impor Akut, Kedelai Lokal Semakin Dicari

Kodar Solihat
PERAJIN tempe, Ayep (61) memperlihatkan hasil olahannya di Blok Aci, Kelurahan Margahayu Utara, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Minggu 9 September 2018. Para produsen mengeluhkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar  Amerika Serikat membuat harga bahan baku utama kedelai mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp 7.400 per kg kini menjadi Rp 7.700 per kg sehingga ongkos produksi meningkat dengan keuntungan yang semakin menipis.*
PERAJIN tempe, Ayep (61) memperlihatkan hasil olahannya di Blok Aci, Kelurahan Margahayu Utara, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Minggu 9 September 2018. Para produsen mengeluhkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat harga bahan baku utama kedelai mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp 7.400 per kg kini menjadi Rp 7.700 per kg sehingga ongkos produksi meningkat dengan keuntungan yang semakin menipis.*

BANDUNG, (PR).- Perdagangan komoditas kedelai lokal mu­lai bergerak pada ­sejumlah sentra produksi tahu dan tempe di Jawa Barat. Komoditas kedelai lokal diklaim cukup ­di­minati juga oleh para perajin tahu, tempe, dan susu kedelai saat harga kedelai impor ­harganya tinggi mengikuti kurs dolar yang terus melambung.

Wakil Ketua Asosiasi Pedagang Komoditas Agro (APKA) Jawa Barat Muchlis Anwar, di Bandung, Jumat 7 September 2018 mengatakan, walau pe­minat kedelai lokal naik, hambatannya adalah dari segi pasokan. Ke­nya­taannya, fenomena keberadaan ke­delai lokal pada beberapa daerah  sangat terbatas dibandingkan dalam kelompok komoditas pajale (padi, jagung, dan kedelai). 

”Untuk itu, kami mendesak dan memohon Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan sejumlah kabupaten yang menjadi sentra produksi, dapat bersungguh-sungguh meng­ajak para petani agar mau bercocok tanam kedelai. Soalnya, kebutuhan kedelai lokal tidak akan henti-hentinya dan terus dibutuhkan oleh para konsu­men,” ujar Muchlis Anwar. 

Menurut dia, kontinuitas pasokan kedelai lokal kondisinya mendesak, apalagi kondisi kini konsisten yang terus menerus terjadi pe­lemahan terhadap rupiah. Akibatnya, har­­­ga kedelai impor terus meninggi yang memberatkan para konsumen. 

Disebutkan, ketersediaan kedelai lokal sangat terbatas di Jawa Barat, akibat ketergantungan konsumen pada kedelai impor masing tinggi. Usaha produksi kedelai lo­kal pun harus ditunjang hasil usaha yang rasional baik bagi para petaninya.

Dikatakan pula oleh Muchlis Anwar, salah satu penyebab masih rendahnya pasokan kedelai lokal adalah harga beli kepada pe­tani oleh sejumlah pebisnis. Harga kedelai lokal umumnya masih dihargai kisaran Rp 2.000-Rp 2.500/kg, walau ada harga pembeli­an pemerintah (HPP) kedelai lokal terakhir pada harga di petani Rp 8.500/kg dan acu­an penjualan di konsumen Rp 9.200/kg, se­dangkan kedelai impor acuan pembelian di petani Rp 6.550/kg dengan acuan penjualan di konsumen Rp 6.800/kg mengacu Per­men­dag Nomor 27 Tahun 2017.

Lebih memilih panen kedelai lokal muda untuk bajigur



Pada sisi lain pula, menurut dia, kedelai lokal sampai kini masih harus tetap dicampur dengan kedelai hanya untuk menjaga kualitas hasil. Sudah hal biasa, kedelai lokal sampai kini umumnya masih dijadikan pencampur dengan kedelai impor agar ada mar­gin keuntungan untuk produksi tahu, tempe, dan susu kedelai. 

Belum pula, katanya, masih cukup banyak petani yang membudidayakan kedelai, lebih memilih memanen muda untuk dijual ke tukang bajigur, sebagai kacang bulu. Soalnya, jika penanaman sengaja dipanen sampai matang, petaninya tak mau ambil risiko menambah biaya produksi dibandingkan harga panen oleh pembeli.

Sementara itu, informasi dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distanhor) Provinsi Jawa Barat, menyebutkan, untuk mendongrak produksi dan produktivitas kedelai lokal di Jawa Barat, sudah diluncur­kan dan direkomendasikan lima va­rietas unggul lokal kedelai. Pembudidayaannya sudah dilakukan sejak musim tanam akhir tahun 2017 dan kini dilanjutkan pada tahun 2018 ini.

Kelima varietas unggul itu adalah Dering 1 (tahan ke­keringan), Dena 1 (toleran na­ung­an hing­ga 50 persen), Devon 1 (tahan ha­ma dan penyakit, ser­ta kandungan gi­zi ber­manfaat), Mutiara 3 (dapat ditanam pada ber­bagai lahan dan ta­han hama (pe­nya­kit),  serta Gro­bo­g­an (daya adaptasi baik pada musim hujan). Kelima varietas ke­de­lai itu semuanya sudah di­lepas oleh Kemen­teri­an Pertanian, de­ngan po­tensi ma­sing-­ma­sing hasil antara 2,8 ton/ha sampai di atas 3,4 ton/ha, de­ngan rata-rata hasil 1,69 ton/ha sampai 2,77 ton/ha.

Saatnya sediakan kedelai lokal berkualitas



Kepala Distanhor Provinsi Jawa Ba­rat Hendi Jatnika me­nga­takan, produsen perlu menggunakan varietas yang cocok dengan kondisi lahan dan lingkungan Jawa Barat. Diharap­kan mampu memberikan produksi lebih baik, berkualitas, dan disukai konsumen.

Disebutkan, walau ada harga pembelian pemerintah Rp 8.500/kg, produktivitas ta­naman kedelai dimaksud minimal harus 1,9 ton/ha. ”Tujuannya agar para petani yang membudidayakan kedelai memperoleh ke­untungan usaha memuaskan,” ujarnya. 

Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTP) Ciganitri Obas Firmansyah mengatakan, de­ngan digenjotnya penggunaan varietas unggulan baru kedelai lokal, diha­rapkan membuat pembudidayaan kedelai menjadi populer di Jawa Barat. Jika menggunakan benih-benih varietas lama kesulit­an benih dan ketakcocokan agro­­klimat sehingga hasilnya sulit me­ning­kat. 

Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Kayuambon, Lembang, Kementerian Pertanian menga­takan, sebenarnya kedelai lokal pun kini su­dah dapat dibudidayakan pada dataran ting­gi dan tak bergantung lagi pada dataran rendah. Uji coba menggunakan varietas lo­kal di Lembang, menunjukkan hasil cukup memuaskan, walau agar cukup aman se­rang­an hama areal tanaman kedelai harus terlindungi tanaman pagar seperti cabai. ***

Bagikan: