Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.1 ° C

Sentimen Negatif Global Penyebab Rupiah Melemah dan IHSG Tertekan

Gita Pratiwi (error)

JAKARTA, (PR).- Nilai tukar rupiah di Jakarta pada Rabu pagi melemah sebesar 25 poin menjadi Rp 14.920 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14. 895 per dolar AS. Apa penyebab rupiah melemah?

Chief Market Strategist FXTM, Hussein Sayed mengatakan maraknya sentimen negatif di pasar seperti perang dagang serta tingginya harga minyak mentah  membuat depresiasi mata uang negara berkembang.

"Ketegangan perang dagang serta tingginya harga minyak memperbesar masalah di pasar keuangan negara berkembang," katanya seperti dilaporkan Antara.

Ia mengemukakan harga minyak mentah jenis Brent mendekati 80 dolar AS per barel. Diharapkan, harga minyak kembali ke rentang 60-70 dolar AS per barel guna mencegah kekhawatiran pasar terhadap perekonomian di pasar berkembang.



Ia menambahkan sentimen negatif global tak hanya jadi penyebab rupiah melemah. Hal itu akan bertambah bagi pasar negara berkembang apabila The Fed tidak memperlambat laju pengetatan kebijakan moneternya.



Menurut dia, salah satu reaksi yang dapat dilakukan pemerintah adalah menerapkan tindakan penghematan meski dapat menahan laju ekonomi yang lebih tinggi.



Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan di tengah sentimen negatif rupiah yang tinggi saat ini, akan cukup mudah rupiah menembus level baru di atas Rp 15.000 per dolar AS.



"Kemungkinan pelemahan berlanjut mendekati pertemuan the Fed 24-26 September mendatang. Namun, pelemahan ini kemungkinan sementara karena nilai tukar itu menunjukkan overshooting di mana harga dolar AS sudah sangat mahal dalam mata uang rupiah," katanya.

IHSG tertekan



Selain jadi penyebab rupiah melemah, sentimen negatif global menyebabkan pelemahan Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Rabu, 5 September 2018, ketika perdagangan dibuka pagi, dipicu oleh sentimen negatif dari global dan domestik.

IHSG dibuka melemah 36,52 poin atau 0,62 persen menjadi 5.868,77. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 9,07 poin atau 0,97 persen menjadi 922,58.



Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah di mengatakan bahwa akumulasi sentimen negatif mengenai nilai tukar rupiah yang masih rawan terkoreksi terhadap dolar AS. Dilaporkan Antara, terdapat juga ketidakpasatian sentimen perang dagang kembali memicu tekanan bagi IHSG.



"Rupiah yang hampir menyentuh angka psikologis Rp 15.000 per dolar AS, menjadi salah satu pemicu kecemasan investor di pasar saham," katanya.



Di sisi lain, lanjut dia, perang dagang Amerika Serikat dikhawatirkan meluas tidak hanya dengan Tiongkok, tetapi juga Kanada dan Uni Eropa.



Ia mengharapkan berbagai upaya pemerintah dalam menjaga fluktuasi rupiah salah satunya dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dalam rangka mengatur impor barang konsumsi, dapat membuat pergerakan mata uang lebih stabil sehingga menahan tekanan IHSG lebih dalam.



Bursa regional, di antaranya indeks Nikkei turun 64,29 poin (0,28 persen) ke 22.632,60, indeks Hang Seng melemah 276,77 poin (0,99 persen) ke 27.696,56, dan indeks Strait Times melemah 6,30 poin (0,20 persen) ke posisi 3.204,21. ***

Bagikan: