Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Rupiah Anjlok, IHSG Ikut Jeblok

Tia Dwitiani Komalasari

JAKARTA, (PR).- Nilai indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot tajam hingga mencapai level 5.600 ‎pada perdagangan Rabu 5 September 2018. Gejolak ini bersamaan dengan pelemahan Rupiah yang dipengaruhi oleh perpindahan arus modal keluar terutama Amerika Serikat.

Indeks ‎Harga Saham Gabungan dibuka di level 5.868,78 melemah 0,62 persen atau 36,52 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pada akhir sesi I, IHSG merosot tajam 3,33 persen ke 5.708,88. Penurunan IHSG ini merupakan yang paling dalam dibandingkan negara-negara Asia lainnya.

Pelemahan IHSG terus berlanjut hingga mencapai 3,71 persen pada sesi II hingga ke level 5.686,33. Hingga akhirnya IHSG ditutup di level 5.683 atau melemah 3,76  persen.

Kepala Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan, pelemahan IHSG tersebut lebih banyak disebabkan oleh pengalihan dana investasi. Pengalihan dana tersebut terutama ke Amerika Serikat.

Meskipun demikian, William mengatakan, peluang untuk terjadinya penguatan IHSG masih terbuka lebar. Hal itu ditopang dengan kondisi fundamental perekonomian masih berada dalam kondisi stabil.

Direktur Riset Center of Reform on Economu (CORE), Piter Abdulah, mengatakan terjadinya krisis ekonomi di Turki dan Argentina memang tidak memiliki dmapak langsung pada Indonesia karena hubungan perdagangan dua negara tersebut kecil.‎ Namun hal ini menambah ketidakpastian global meninggi. 

Piter mengatakan, ketidakpastian global ini berujung pada perilaku investor yang mencari tempat aman untuk berinvestasi. Krisis Turki dan Argentina mempengaruhi negara lain untuk memindahkan investasi dari negara berkembang lainnya termasuk Indonesia.

"Kenaikan suku bunga The Fed juga membuat arus modal keluar semakin besar. Ini yang menyebabkan terjadi pelemahan nilai tukar Rupiah dan juga IHSG,"ujar dia.‎  

Rupiah Semakin Melemah



Sementara itu nilai tukar Rupiah semakin melemah hingga nyaris mencapai Rp 15.000 per Dolar AS. Hingga penutupan perdagangan Rabu 5 September 2018, Rupiah berada di level Rp 14.938 per Dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pelemahan Rupiah disebabkan oleh tekanan faktor eksternal. Hal itu terutama penguatan ekonomi Amerika Serikat, sementara negara-negara lainnya justru mengalami pelemahan.

Bank Sentra Amerika Serikat yang diprediksi akan kembali menaikan suku bunganya bulan ini juga membuat arus modal asing banyak yang masuk ke Amerika Serikat.‎ Arus modal tersebut termasuk dari negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Di sisi domestik, defisit transaksi berjalan turut mendorong adanya depresiasi rupiah. Sebab defisit transaksi berjalan tersebut menandakan bahwa kebutuhan akan valas semakin besar.

Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan, Sekar Putih Djarot, mengatakan OJK mengintensifkan pengawasan di sektor jasa keuangan sebagai bagian monitoring secara reguler terhadap industri jasa keuangan termasuk transaksi valas. "Hal itu terutama pengawasan yang ketat dan intensif untuk memastikan transaksi valas dilakukan berdasarkan kebutuhan sesuai underlyingnya,"ujar dia.‎‎***

Bagikan: