Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Berawan, 22 ° C

Jokowi: Nilai Tukar Rupiah Melemah Akibat Perang Dagang AS-Tiongkok

Gita Pratiwi (error)

JAKARTA, (PR).- Presiden Joko Widodo mengatakan ekspor dan investasi menjadi dua hal penting dalam memperkuat fundamental perekonomian Indonesia. "Kalau itu bisa kita lakukan, ekspornya meningkat, sehingga defisit neraca perdagangan bisa kita selesaikan. Defisit transaksi berjalan kita, 'current account defisit' bisa kita selesaikan," kata Jokowi.

Ia menyampaikan itu dalam sambutannya saat realisasi ekspor kendaraan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia di IPC Car Terminal, Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu 5 September 2018.



Menurut Presiden, seperti dikutip dari Antara, ia telah memerintahkan menteri di bidang ekonomi untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan selama satu tahun.



Dengan peningkatan ekspor, maka devisa negara akan meningkat dan neraca perdagangan makin stabil, kata Jokowi.



Selain itu, Kepala Negara menilai pelemahan kurs mata uang global terjadi karena faktor eksternal yaitu kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. Tidak kalah penting karena perang dagang antara AS dengan Tiongkok.

Koordinasi antar pelaku ekonomi



Presiden menjelaskan untuk menghadapi hal itu, koordinasi dengan para pelaku ekonomi menjadi kunci untuk kestabilan ekonomi dalam negeri. "Saya kira yang paling penting kita harus waspada, kita harus hati-hati. Saya selalu melakukan koordinasi di sektor fiskal, sektor moneter, dan sektor industri, pelaku-pelaku usaha," kata Jokowi.



Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi melemah sebesar 25 poin menjadi Rp14.920 dibanding posisi sebelumnya Rp14.895 per dolar AS.



Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengingatkan masyarakat jangan cemas terhadap fenomena pelemahan mata uang rupiah.



Menurut dia, pemerintah telah responsif dalam menahan pelemahan nilai tukar rupiah.



Kendati rupiah terdepresiasi sekitar 7 persen, namun jumlah itu masih lebih rendah dibanding mata uang negara lain seperti rupee India (9,7 persen), rand Afrika Selatan (minus 15,98 persen), dan real Brazil (minus 20,26 persen).***

Bagikan: