Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Harga Gabah Naik, BPS Minta Pemerintah Waspada

Tia Dwitiani Komalasari
Petani.*
Petani.*

JAKARTA, (PR).- Harga gabah kering panen (GKP) Agustus 2018 di tingkat petani dan tingkat penggilingan rata-rata mulai mengalami kenaikan masing-masing 3,05 persen dan 3,27 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan yang cukup besar terrsebut mengindikasikan adanya pengurangan suplai gabah yang selanjutnya bisa berpengaruh pada harag beras.

Berdasaran data Badan Pusat Statitsik (BPS), rata-rata harga GKP di tingat petani Agustus 2018 sebesar Rp 4.774 per kg. Sementara harga rata-rata GKP Juli 2018 sebesar 4.870 per kg.  Meskipun demikian, harga beras premium turun tipis 0,65 persen menjadi Rp 9.458 per kg. Sementara rata-rata harga beras kualitas medium turun 0,28 persen menjadi 9.172 per kg. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah turun 0,42 persen menjadi Rp 8.977 per kg.

Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan harga gabah mengaami kenaikan pada Agustus 2018. Hal itu berbeda dengan harga beras yang justru turun tipis. Menurut dia, hal itu disebabkan karena seringkali beras yang dijual merupakan stok lama. “Jadi tidak serta merta berbanding lurus antara harga gabah dan harga beras. Terdapat jeda di sana akibat penggunaan stok sebelumnya,”ujar dia di Jakarta, Senin 3 September 2018.

Dia mengatakan, pemerintah justru harus mewaspadai kenaikan harga gabah yang relatif tinggi. Hal itu menandakan adanya pengurangan stok sehingga harganya naik. Apalagi bulan Oktober dan November merupakan musim tanam yang jumlah panennya jauh lebih kecil. “Kalau belajar dari tahun lalu, pemerintah harus antisipasi karena ini yang menyebabkan inflasi akhir tahun lalu menjadi sangat tinggi. Inflasi beras memang memerlukan perhatian khusus karena memilki andil yang tinggi,” ujar dia.

Harga Bergejolak Tinggi



Sementara itu indeks harga konsumen Agustus 2018 mengalami deflasi sebesar 0,05 persen. Dengan demikian, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2018 mencapai 2,13 persen. Sementara tingkat inflasi dari tahun ke tahun (Agustus 2018 terhadap Agustus 2017) mencapai 3,2 persen. “Ini menunjukan bahwa inflasi masih berada di kisaran target pemerintah 3,5 persen,”ujar Suhariyanto.

Dia mengatakan, kelompok bahan makanan menjadi penyumbang deflasi terbesar terutama penurunan harga telur ayam, bawang merah, daging ayam,bayam dna cabai. Kelompok lainnya yang menyumbang deflasi adalah penurunan tarif angkutan udara. Sementara kelompok penyumbang inflasi terbesar adalah pendidikan, rekreasi, dan olah raga. Hal itu dipengaruhi kenaikan biaya sekolah SD, SMP, dan SMA.

Sementara berdasarkan komponennya, inflasi inti Agustus 2018 sebesar 2,9 persen. Inflasi harga diatur pemerintah sebesar 2,55 persen dan inflasi bergejolak sebesar 4,97 persen. Menurut Suhariyanto, tingginya inflasi bergejolak ini perlu diwaspadai.

“Ini berarti ke depan perlu ekstra hati-hati. Pemerintah perlu memperhatikan pergerakan harga bahan makanan yang begejolak,”ujar dia.

Sementara itu pengaruh event Asian Games pada inflasi relatif kecil karena hanya diselenggarakan di dua provinsi. “Mungkin di daerah terasa, namun di Palembang saja, bulan Agustus ini malah terjadi deflasi,”ujarnya.***

Bagikan: