Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Hujan singkat, 21.7 ° C

Keran Impor Dibuka, Tata Niaga Gula Lokal Kacau

Ani Nunung Aryani

CIREBON, (PR).- Bulog Subdivre Cirebon terpaksa harus melakukan pembelian gula petani seharga yang ditetapkan pemerintah Rp 9.700 per kilogram. Padahal stok gula dari dua kali pembelian gula petani, masih menumpuk di gudang.

Saat ini, sebanyak 4.500 ton gula hasil pembelian gula petani yang bernaung di bawah pabrik gula BUMN di Cirebon, belum terjual. Bahkan gula pembelian tahun 2017 masih tersisa sekitar 80 ton di gudang Bulog Subdivre Cirebon.

Kasubdivre Bulog Cirebon Dedi Aprilyadi, yang dikonfirmasi mengakui, saat ini Bulog Subdivre Cirebon mulai menyiapkan proses untuk kembali melakukan pembelian gula petani, yang dibawah naungan BUMN.

Dedi juga mengakui, gula yang dibeli petani sebelumnya sebanyak 4.500 masih menumpuk di gudang.

Meski masih menumpuk di gudang, Dedi optimis, stok gula tidak akan lama menumpuk sampai merusak kualitas gula. “Apalagi yang dua kali pembelian juga baru masuk awal Juli lalu, “ katanya Jumat 31 Agustus 2018.

Penjualan gula 2018 pakai stok 2017



Menurut Dedi, selama tahun 2018 ini proses penjualan gula berjalan lancar. Baik dari sindikasi minimarket, toko, maupun rumah pangan kita ditambah yang operasi pasar.

“Namun memang penjualan diambil dari stok pembelian gula petani tahun 2017 lalu. Saat ini yang pembelian tahun 2017 juga masih tersisa sekitar 80 ton, “ katanya.

Menurutnya, untuk operasi pasar dan penjualan langsung di Bulog Mart gula dijual seharga Rp 12.000 per kg, sedangkan untuk penjualan ke kios, RPK dan mini market dijual seharga Rp 11.500 per kg.

“Begitu juga untuk penjualan ke distributor dijual seharga Rp 11.500 per kg. Namun memang sampai saat ini belum ada distributor yang mengajukan pembelian gula ke kami, “ ucapnya.

Dikatakannya, untuk gula pembelian tahun 2017, memang ada yang dibeli distributor. Namun untuk gula pembelian 2018, belum terjual sama sekali.

Diakuinya, sampai saat ini penjualan yang rutin yakni ke salah satu minimarket yang memang sudah ada kontrak langsung dengan pusat.

“Setiap bulan rata-rata penjualan gula untuk salah satu minimarket rata-rata 12 ton per bulan, “ katanya.

Menurut Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI)  Jabar Haris Sukmawan, untuk lelang periode 6 dan 7 pihaknya sudah mengajukan ke Bulog Divre Jabar.

Haris Sukmawan yang biasa disapa Wawan mengaku pesimis Bulog bisa terus melakukan pembelian gula petani, dengan kondisi tata niaga gula yang kacau tidak karuan.

Menurutnya, bagaimanapun dana Bulog pasti terbatas. Sementara harga penjualan gula cenderung turun.

“Saat ini distributor hanya berani membeli gula dengan harga Rp 9.200-Rp 9.300 per kg. Bulog pasti akan menahan penjualan kalau harganya segitu. Masalahnya dana untuk kembali membeli gula petani kan jadi mandeg kalau gula di gudang Bulog tidak juga terjual, “ katanya.

Pasar gula lokal kacau



Dibukanya keran impor raw sugar di saat sedang panen, menyebabkan membanjirnya gula rafinasi di pasaran. Dampaknya membuat gula lokal tidak laku terjual.

“Kalau mau harganya hancur-hancuran sih pasti ada yang beli. Tapi kan dengan ongkos produksi yang semakin melambung. Tidak mungkin kami menjual dengan harga hancur-hancuran, “ katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kehancuran industri gula nasional khususnya Jawa Barat sudah di depan mata. Namun pemerintah dinilai malah tutup mata. Sejumlah pihak bahkan menilai, pemerintah bukan hanya sekedar tutup mata, tetapi ikut menjerumuskan ke jurang kehancuran.

Sejumlah indikasi bisa menjadi tolok ukur penilaian tersebut. Di antara kebijakan yang menyulitkan industri gula, dari mulai produksi sampai tata niaga gula.***

Bagikan: