Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 22.6 ° C

Kebutuhan Rumah di Jawa Barat Tinggi, Program Subsidi Belum Maksimal

Hendro Susilo Husodo
Pembangunan Perumahan.*

 

NGAMPRAH, (PR).- Penduduk di Jawa Barat yang semakin banyak menuntut kebutuhan rumah yang juga tinggi, tetapi tingkat kepemilikan rumah masih belum merata. Di sisi lain, program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bagi masyarakat berpenghasilam rendah (MBR) pun masih belum maksimal.

Ketua Pengembang Indonesia (PI) Jabar Firaldi Akbar Zulkarnain mengatakan, Jabar termasuk provinsi yang terpadat penduduknya, dengan jumlah anak muda yang sangat banyak. Dengan demikian, kebutuhan akan rumah di Jabar pun sangat tinggi. Sementara harga tanah di lokasi yang cukup strategis sudah relatif mahal.

"Ada tanah yang murah, tapi itu ada di daerah yang jauh dari lokasi strategis. Atau tanahnya itu bukan horizontal, tapi vertikal ke atas. Nah, kalau vertikal, pembangunan petumahan itu berarti membutuhkan modal yang besar," kata Aldi di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 29 Agustus 2018.

Pemerintah, lanjut dia, sudah mengadakan program FLPP untuk kredit pemilikan rumah (KPR) khusus rumah bersubsidi, dalam rangka membantu MBR dalam memiliki rumah. Akan tetapi, para pengembang di Jabar masih cukup kesulitan untuk mewujudkan pembangunan perumahan bersubsidi. 

"Memang perkembangan FLPP di Jawa Barat juga belum maksimal, itu yang saya rasakan sebagai praktisi. Kenapa, karena banyak aturan-aturan main yang cukup memberatkan. Misalnya, semuanya itu harus Standard Nasional Indonesia, kemudian soal peraturan dan sebagainya," katanya. 

Aldi menyatakan, persoalan itu pun sebetulnya telah disampaikan oleh perwakilan PI saat mengikuti rapat pleno dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Oleh karena itu, dia berharap agar pengembang dapat dimudahkan dalam membangun perumahan bersubsidi.

"Semangat untuk membangun perumahan FLPP dari kawan-kawan itu masih tinggi. Jadi, untuk potensi pertumbuhan rumah, khususnya di Jawa Barat, juga masih besar. Soalnya, di Jabar ini ada market-nya, masih ada tanahnya, dan ada kontraktornya," ucapnya.

KPR meningkat



Terpisah, Presiden Direktur Kota Baru Parahyangan Ryan Brasali mengatakan, dibandingkan tahun lalu, pertumbuhan KPR di Kota Baru Parahgangan pada semester awal 2018 mengalami peningkatan sekitar 10 persen. Bahkan, kata dia, pada Juli-Agustus ini penjualan rumah naik hampir 50 persen.

"Kondisinya sudah semakin stabil, karena pilkada serentak di Bandung Barat dan di Jabar berlangsung lancar. Stabilitas politiknya nasional juga aman, karena kandidat yang muncul buat Pilpres 2019 tidak menimbulkan gejolak," kata Ryan, di sela konferensi pers BCA Expo 2018 di Padalarang, Senin 20 Agustus 2018.

Dari 1.250 hektare lahan yang direncanakan akan dibangun perumahan dan fasilitas lainnya, dia menyebutkan, pembangunan Kota Baru Parahyangan sudah seluas 450 hektare. "Kami membangun kota ini sudah semakin lengkap. Kami pun berkomitmen mengembangkan fasilitas-fasilitas lainnya," ujarnya.***

Bagikan: