Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 19.2 ° C

Bekraf Jembatani Pelaku Usaha Animasi dan Lembaga Keuangan

Ririn Nur Febriani
KETUA Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (AINAKI), Ardian Elkana, memaparkan materinya saat menjadi pembicara pada acara Bekraf Financial Club di di Simply Valore Hotel, Jalan Baros, Kota Cimahi, Kamis 30 Agustus 2018. Acara tersebut sebagai jembatan bagi para pelaku usaha game dan animasi dengan para  lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank.*
KETUA Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (AINAKI), Ardian Elkana, memaparkan materinya saat menjadi pembicara pada acara Bekraf Financial Club di di Simply Valore Hotel, Jalan Baros, Kota Cimahi, Kamis 30 Agustus 2018. Acara tersebut sebagai jembatan bagi para pelaku usaha game dan animasi dengan para lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank.*

CIMAHI, (PR).- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menjembatani pertemuan pelaku ekonomi kreatif subsektor animasi untuk menjelaskan The Nature Of Business  kepada 60 lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank, dalam acara Bekraf Financial Club (BFC) di Simply Valore Hotel Jalan Baros Kota Cimahi , Kamis 30 Agustus 2018. Lewat kegiatan tersebut, diharapkan terjalin kerjasama antara pelaku usaha animasi dan perbankan terkait akses permodalan.

Deputi Akses Permodalan Bekraf Fajar Hutomo menjelaskan, kegiatan Bekraf Finacial Club atau BFC  bertujuan mengenalkan karakteristik bisnis dan rantai nilai subsektor animasi kepada sumber pembiayaan perbankan dan non perbankan. Sehingga sumber pembiayaan mereka dapat disalurkan kepada pelaku ekonomi kreatif subsektor animasi. 

"Kami sudah membuat beberapa kali pertemuan BFC mulai dari film, fashion, musik, kriya, dan kuliner dan sekarang mengadakan BFC di Cimahi untuk sektor animasi," ujarnya.

Menurut Fadjar, industri keuangan perlu memahami terkait bisnis proses dari industri khususnya subsektor animasi kreatif. Karena potensi ini perlu adanya investasi supaya Indonesia dapat lebih maju soal animasi.

"Para bankers diharapkan memahami setelah melihat potensi ini, di mana nilai dan resikonya sehingga mereka punya inisiatif mendanai subsektor ini," ucapnya.

Kendati demikian, majunya industri kreatif animasi di Cimahi sendiri belum bisa menarik banyak investor atau berkembangnya para pelaku industri animasi secara mandiri.

Masih ada kesulitan pendanaan bank terhadap industri animasi



Hingga kini, perbankan belum jor-joran memberikan pinjaman atau penyertaan modal pada pelaku industri kreatif di Cimahi, lantaran masih berpatokan pada karya yang dihasilkan.

"Karena orientasi lembaga keuangan sebagai pemilik modal ini belum terbuka melihat potensi dari industri kreatif, khususnya di Kota Cimahi. Masih ada beberapa syarat yang harus dipenuhi biar modal bisa dikeluarkan," ujarnya.

Cimahi dipilih sebagai tempat pelaksanaan BFC lantaran Cimahi dinilai sudah beberapa langkah di depan soal animasi dibandingkan daerah lain di Indonesia.

"Kita sengaja sengaja memilih Cimahi karena memang Cimahi sudah beberapa langkah ke depan dibanding kota dan wilayah lainnya di Indonesia. Paling tidak Cimahi sudah menetapkan dan menyadari potensinya di sektor animasi. Apalagi kita tau Cimahi punya Baros International Animation Festival (BIAF), memiliki Cimahi Technopark dan BITC yang temanya cocok dengan animasi," ujarnya.

Fajar menyebutkan, Bekraf hanya mencoba untuk menghubungkan antara pemilik modal dan pelaku bisnis animasi, guna melengkapi apa yang sudah dilaksanakan oleh lembaga yang lain khususnya dari akses permodalan agar industri keuangan paham tentang permodalan di industrri sehingga mereka bisa menilai dan serta ikut mengembangkan animasi dari sisi permodalan.

"Jadi BFC merupakan sharing session dari pelaku ekonomi kreatif kepada lembaga keuangan mengenai karakter bisnis mereka.  Lembaga keuangan yang hadir dapat memperdalam pengetahuan subsektor animasi," katanya.

Melalui kegiatan itu Fajar berharap pihaknya dapat mendorong ekonomi kreatif sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia di masa mendatang. 

Setidaknya, kata Fajar, berbagai fasilitas yang telah tersedia bisa meningkatkan iklim investasi pada subsektor animasi. Namun para pelaku industri kreatif di Cimahi perlu bekerja keras meningkatkan 'past-performance' dalam menjalankan industri tersebut.

"Perbankan juga tidak mau mengambil risiko tanpa pertimbangan mendapatkan feedback yang sesuai. Para pelaku industri ini kan masih muda. Kebanyakan pengalaman mereka masih mentah, dan ini yang harus dimatangkan," ujar dia.

Sebagai tindak lanjut, Bekraf menyusun buku pola pembiayaan subsektor fesyen, seni pertunjukan, dan seni rupa. "Buku ini diharapkan bisa meningkatkan minat lembaga keuangan menyalurkan investasi dan pembiayaannya," ujarnya.

Sulitnya start up bersaing dengan pengusaha animasi besar



Kepala Dinas Perdagangan Koperasi UKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi, Adet Chandra, mengatakan, dengan acara BFC, pihak perbankan diharapkan bisa masuk mendanai industri kreatif di Kota Cimahi."Mudah-mudahan itu menjadi suntikan awal untuk mendapatkan penghasilan bagi industri kreatif animasi agar lebih maju. Kalau sudah maju, baru investor bisa masuk mendanai," kata Adet. Menurutnya, untuk saat ini para investor tidak mungkin langsung memberikan dana pada perusahan start up. Sehingga untuk industri kreatif di Kota Cimahi yang sudah survive bisa keluar dari zona nyaman.

"Pelaku usaha animasi yang baru tidak bisa langsung bersaing dengan yang sudah perusahaan besar. Mereka butuh modal, diharapkan akses tersebut diberikan oleh kalangan perbankan dan pelaku Industri keuangan. Dengan modal awal, dapat mendorong investor masuk dan mengembangkan usaha," ucapnya.

Saat ini jumlah industri kreatif animasi di Kota Cimahi ini naik turun. "Alhamdulillah sekarang jumlahnya sudah 11 karena usaha dari para pelaku usahanya itu susah maksimal," kata Adet.

Namun, lanjut Adet, jika industri kreatif tersebut ranahnya sudah masuk dalam bisnis, pihaknya tidak bisa terlibat, hanya saja akan mendorong terkait materi dan kebutuhannya. "Kita memberikan sarana prasarana yang ada di Cimahi Technopark secara gratis seperti komputer tapi kalau kurang mereka bawa sendiri. Itu bentuk perhatian dari Pemerintah Kota Cimahi agar para pelaku industri kreatif di Kota Cimahi biasa semakin tumbuh dan lebih maju," tuturnya.***

Bagikan: