Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

Terpengaruh Krisis Turki, BI Naikan Suku Bunga Acuan

Tia Dwitiani Komalasari

JAKARTA, (PR).- Rapat Dewan Gubernur‎ Bank Indonesia memutuskan untuk menaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Dengan demikian, BI 7 Days Repo Rate saat ini mencapai 5,5 persen.

Gubernur Bank Indonesia‎, Perry Warjiyo, mengatakan keputusan tersebut konsisten dengan upaya untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas aman.

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan dan prospek perekonomian domestik maupun global, untuk memperkuat respon bauran kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar dia dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018.

Perry mengatakan, kenaikan suku bunga acuan tersebut juga mempertimbangkan kondisi ketidakpastian global yang terjadi saat ini. Sementara pertumbuhan ekonomi tidak merata.

Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tetap tumbuh kuat didukung akselerasi konsumsi dan investasi. Sementara itu, ekonomi Eropa, Jepang, dan Tiongkok masih cenderung menurun. 

"Dengan perkembangan tersebut, The Fed diperkirakan akan tetap menaikan Fed Fund Rate secara gradual, sementara European Central Bank dan Bank of Japan cenderung menahan suku bunga," ujar dia.

Perry mengatakan, ketidakpastian ekonomi global semakin tinggi dengan munculnya resiko rambatan dari gejolak ekonomi Turki. Gejolak tersebut disebabkan oleh kerentanan ekonomi domestik, persepsi negatif terhadap kebijakan otoritas, serta meningkatnya ketegangan hubungan antara Turki dan Amerika Serikat.

"Bank Indonesia terus mewaspadai resiko dari sisi eksternal tersebut, termasuk kemungkinan dampak rambatan dari Turki, meskipun diyakini bahwa ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat didukung oleh indikator fundamental ekonomi yang sehat dan komitmen kebijakan yang kuat," ujarnya.

Sementara itu di sisi domestik, Perry mengatakan, defisit transaksi berjalan meningkat pada triwulan II tahun 2018 senilai 8 miliar Dolar AS atau 3 persen dari PDB. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,7 miliar Dolar AS atau 2,2 persen dari PDB. Sampai dengan semester I 2018, defisit transaksi berjalan masih dalam batas aman yaitu 2,6 persen.

Nilai tukar Rupiah sejak awal tahun telah terdepresiasi 7,04 persen dibandingkan dengan Dolar AS. Meskipun demikian, Perry mengatakan, angka tersebut lebih rendah dari negara‎ India, Brazil, Afrika Selatan, dan Rusia.

"Ke depan, Bank Indonesia terus mewaspadai resiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya. Kebijakan tetap ditopangd engan strategi intervensi ganda dan startegi operasi moneter untuk menjaga kecukupan liquiditas," tuturnya.***

Bagikan: