Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.505,00 | Berawan, 24.5 ° C

85 Persen Devisa Ekspor Tidak Dikonversikan ke Rupiah

Tia Dwitiani Komalasari
PARA anggota Koperasi Ikan Hias Laladon Berkah Kecamatan Ciomas menunjukkan kantung berisi ikan hias yang akan diekspor ke Arab Saudi beberapa waktu lalu. Ikan hias tersebut akan mengisi akuarium keluarga kerajaan Arab Saudi.*

JAKARTA, (PR).- Sebanyak 85 persen devisa hasil ekspor Indonesia tidak dikonversikan ke rupiah. Hal itu menjadi salah satu kendala bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan defisit transaki berjalan.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, devisa hasil ekspor yang masuk ke perbankan Indonesia hanya 80 sampai 81 persen. Diperlukan pembenahan regulasi agar devisa hasil ekspor yang masuk ke Indonesia lebih banyak lagi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, devisa hasil ekspor yang dikonversi ke rupiah juga sangat minim.

"Kurang lebih sekitar 15-16 persen yang dikonversikan ke rupiah,"ujarnya di Jakarta, Jumat 3 Agustus 2018.

Perry mengatakan, pemerintah melalui Kementrian Keuangan telah memberikan insentif pajak bagi eksportir yang memasukkan devisanya ke Indonesia. Hal itu juga berlaku bagi eksportir yang melakukan konversi ke rupiah.

Bank Indonesia berupaya untuk mendorong konversi devisa hasil ekspor melalui swap dan forward yang biayanya relatif murah.

"Biaya swap di BI kurang lebih sekitar lima persen untuk tenor satu bulan. Itu cukup murah sehingga kami juga dorong eksportir lakukan konversi ke rupiah atau lakukan swap bagi importir. Bayar hutang juga tidak harus semua ke pasar spot, bisa melalui forward dengan biaya yang relatif murah," ujarnya.

Selain itu, Perry mengatakan bahwa Bank Indonesia juga terus memastikan agar nilai tukar rupiah stabil. Saat ini prioritas Bank Indonesia dalam jangka pendek adalah menstabilkan ekonomi, khususnya nilai tukar.

"Kami terus memantau terus pasar dan tidak segan intervensi untuk melakukan stabilitas nilai tukar. Kami juga membuat bagaimana swap dan forward itu lebih murah dan terus mengeksplorasi opsi lain yang memungkinkan,"ujarnya.

Di tempat terpisah Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan maksud dari pernyataannya mengenai devisa bocor adalah dalam konteks pertumbuhan ekonomi.

"Jadi bukan dalam konteks dikorupsi," ujarnya.

Menurut Darmin, pemerintah akan melakukan berbagai upaya kebijakan untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi termasuk menarik devisa agar lebih banyak dikonversikan ke rupiah. Dia meyakini pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua tahun 2018 lebih baik dari periode sebelumnya.***

Bagikan: