Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Umumnya cerah, 23.7 ° C

Arisan, Menabung ala Pedagang

Yulistyne Kasumaningrum
RELATIONSHIP Manager Bank BRI Muhammad Yagi memperlihatkan saldo salah seorang nasabah yang berprofesi sebagai pedagang, saat melakukan jemput uang nasabah atau "cash pick up", di Pasar Kiaracondong, Kota Bandung, Senin,30 Juli 2018. Layanan menjemput uang tunai ke nasabah itu, dilakukan untuk membantu pedagang yang terbiasa menyimpan uang di rumah karena ketidakpahaman dan waktu yang sempit untuk pergi ke bank, padahal mereka merupakan nasabah potensial.*
RELATIONSHIP Manager Bank BRI Muhammad Yagi memperlihatkan saldo salah seorang nasabah yang berprofesi sebagai pedagang, saat melakukan jemput uang nasabah atau "cash pick up", di Pasar Kiaracondong, Kota Bandung, Senin,30 Juli 2018. Layanan menjemput uang tunai ke nasabah itu, dilakukan untuk membantu pedagang yang terbiasa menyimpan uang di rumah karena ketidakpahaman dan waktu yang sempit untuk pergi ke bank, padahal mereka merupakan nasabah potensial.*

MAYORITAS masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan arisan. Namun siapa sangka, aktivitas identik dengan kegiatan sekumpulan ibu-ibu tersebut ternyata dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan di masyarakat. Khususnya di kalangan pedagang pasar tradisional yang hingga kini masih dianggap sulit tersentuh layanan keuangan formal. Menariknya, jumlah nominal yang dapat dikumpulkan melalui aktivitas arisan pun terbilang fantastis sekitar Rp 20 juta per hari.

Reni (41), salah seorang pedagang di Pasar Kiara Condong, Kota Bandung yang juga berperan sebagai pengelola arisan menuturkan saat ini ada 3 kelompok arisan yang ia kelola. Setiap kelompok masing-masing beranggotakan 20 orang yang seluruhnya merupakan pedagang di pasar tradisional tersebut.

“Arisan ini sudah turun temurun. Uang yang dikumpulkan oleh masing-masing orang itu ibarat menabung tanpa disadari,” ujarnya saat ditemui bersama sang suami, Yana di Pasar Kiara Condong, Bandung, Senin 30 Juli 2018.

Dikisahkan pada mulanya arisan tersebut digelar dengan tujuan untuk mendisiplinkan para pedagang dari sisi keuangan. Alasannya, banyak dari para pedagang yang kesulitan mengatur keuangannya. Maka kemudian, dibuatlah kelompok arisan dengan harapan melalui arisan para pedagang dapat terbantu dalam mengelola keuangannya.

Apalagi selama ini ada yang keliru dari pemahaman masyarakat tentang menabung bahwa uang yang ditabungkan merupakan uang sisa dari pendapatan yang ada. Padahal, jika melihat konsep menabung secara utuh, hal tersebut bertolak belakang karena sesungguhnya uang yang ditabungkan merupakan uang yang telah disisihkan sejak awal dan bukan merupakan uang sisa.

Prinsip itulah yang kemudian diterapkan dalam arisan. Selain bersifat wajib bagi para pesertanya, nominal uang yang disetor pun nominalnya tetap. Dengan demikian mau tidak mau pedagang harus menyisihkan dananya sejak awal. Artinya jika hari ini tidak setor maka besaran setoran pada keesokan harinya merupakan hasil dari kelipatan.

“Jadi harus disiplin, setiap hari harus mengumpulkan uang sesuai besaran yang disepakati,” katanya. 

Reni mengaku sejak awal, bahkan hingga saat ini tidaklah mudah dalam menjaga kedisiplinan tersebut. Pasalnya, masih sering ditemui adanya anggota yang lupa untuk menyetorkan uangnya. Sehingga, ia sebagai pengelola harus rajin melakukan jemput bola ke peserta arisan. Pengambilan setoran dilakukan setiap pukul 10.00.

Sejak 1,5 dekade yang lalu ketika arisan pada pedagang tersebut dimulai, Yana mengatakan, sudah banyak catatan positif yang dihasilkan melalui aktivitas ini, selain tentunya para peserta jadi terbiasa menabung. Ia mencontohkan, dari mengikuti arisan ada pedagang yang mendapatkan modal usaha, ada yang bisa membeli rumah ataupun tanah dari uang arisan. Kemudian, ada pula yang digunakan untuk membayar biaya perkuliahan anak atau perawatan rumah sakit.

“Dari awal, arisan ini hitung-hitung menabung, syukur-syukur, bisa jadi untuk modal usaha dan itu terjadi. Keuntungan dari arisan ini, mereka bisa mendapatkan dana dengan cepat bagi yang membutuhkan modal. Bahkan, tidak memerlukan agunan seperti jika meminjam ke bank,” kata Reni seraya menambahkan biaya administrasi bagi panitia arisan sebesar 1 persen dari setiap penarikan,” ujarnya.

Disinggung mengenai besaran dari  arisan para pedagang yang ia kelola, Reni menuturkan, jumlahnya mulai dari Rp 200.000-500.000 per hari. Adapun pengocokan atau penarikan dilakukan setiap 10 hari. Artinya dari sekali pengocokan, uang yang ditarik mencapai Rp 40-100 juta.

“Tidak langsung jumlahnya segitu, tapi dari yang kecil dulu misalnya Rp 50.000 per hari. Awalnya banyak yang takut tidak bisa, tetapi begitu dijalani, commit dan disiplin, ternyata bisa. Bahkan, jumlahnya semakin meningkat. Dari sini terlihat ternyata bisa menyisihkan uang diawal itu,” katanya.

Lebih lanjut, meski menggunakan konsep arisan, Reni menegaskan ia tetap melibatkan perbankan pada aktivitas arisan. Diakuinya, sejak setahun terakhir uang arisan disetor ke bank dengan sistem jemput bola setiap harinya agar lebih aman. Sedangkan sebelumnya uang arisan disimpan di kediamannya. 

Tak hanya menyetorkan, ia juga secara bertahap memperkenalkan ke pedagang peserta arisan mengenai layanan perbankan. Mulai dari mendorong pedagang untuk membuka rekening, menabung, hingga mengajukan pinjaman.

“Saya juga mencoba memperkenalkan kepada para pedagang mengenai bank itu sendiri. Karena harus diakui masih ada pedagang yang khawatir atau takut ke bank. Nah dari arisan ini kita coba mengenalkan mereka dengan perbankan, termasuk bagaimana mengajukan pinjaman ke bank,” katanya.

Relationship Manager dari Bank BRI Rully Setiyadi dan Muhammad Yagi mengakui dengan melihat kondisi di lapangan pihaknya harus proaktif dan menyesuaikan ritme dari pedagang. Diungkapkan sulit jika meminta pedagang untuk menabung langsung ke bank karena sejumlah kendala. Terutama terkait kendala waktu pedagang yang tidak cocok dengan operasional perbankan.

“Pedagang ini kerjanya mulai pukul 01.00 dinihari hingga jam 7-10. Selesai berdagang mereka harus membersihkan tempatnya dengan kondisi yang sudah lelah. Kemudian, harus ke bank yang mungkin mengantri. Sehingga sulit makanya yang paling memungkinkan adalah dengan melakukan jemput bola ke pasar-pasar,” katanya. 

Disisi lain, Rully menambahkan aktivitas arisan yang dilakukan para pedagang sangat menitikberatkan pada aspek kepercayaan, baik antar peserta, pengelola, maupun antara pengelola dengan peserta yang secara tak langsung menjadi poin penting didalam memitigasi risiko. Aspek tersebut sangatlah sulit diperoleh dan harus melalui proses yang tidak sebentar. 

“Hal inilah yang kemudian juga membantu kami dari perbankan, karena para peserta dari arisan ini tentunya telah terseleksi, misalnya dalam hal ingin mengajukan pinjaman,” ujarnya. 

Sejak beberapa waktu terakhir, pemerintah dan otoritas keuangan termasuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) gencar menyosialisasikan pentingnya menabung. Hal tersebut diantaranya berkaitan dengan masih rendahnya budaya menabung di tanah air. Tercatat rasio savings to gross domestic product (GDP) Indonesia masih sekitar 31 persen, jauh dibawah Singapura masing-masing 49 persen, dan Filipina 46 persen. Bahkan, keinginan masyarakat Indonesia untuk menabung kian menurun yang tercermin dari angka Marginal Propensity to Save (MPS) dari 0,92 pada 2011 menhadi 0,44 pada 2014.

Pengintegrasian antara aspek keuangan dengan budaya atau tradisi masyarakat telah menjadi perhatian dari banyak pihak sejak beberapa waktu terakhir. Profesor dari Universitas Leiden Slikkerveer saat berkunjung ke Pikiran Rakyat beberapa waktu lalu mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya keluruhan tradisi dalam berinteraksi sosial yang berbasis gotong royong.

Kearifan lokal tersebut menurut dia dapat digunakan dan diintegrasikan dengan perkembangan modern sehingga program yang dijalankan lebih inklusif bagi masyarakat. Alasannya, karena budaya merupakan salah satu faktor yang telah melekat pada masyarakat.

Termasuk diantaranya arisan yang merupakan tradisi turun temurun di masyarakat Indonesia. Catatan positif dari aktivitas arisan pedagang di Pasar Kiara Condong merupakan salah satu contoh, bagaimana tradisi mampu mendorong literasi dan inklusi keuangan para pedagang pasar tradisional.***

Bagikan: