Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Kendalikan Inflasi, Jokowi Minta Pemda Tingkatkan Perdagangan Antardaerah

Tia Dwitiani Komalasari

JAKARTA, (PR).- Presiden Joko Widodo meminta perdagangan antardaerah ditingkatkan untuk membantu ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan sehingga inflasi bisa terkendali.

Pemerintah daerah juga diminta mendorong pembangunan pasar pengumpul atau pasar induk sehingga biaya transportasi bisa terkendali.

“Tolong, kepala daerah yang terkait dengan pasokan dan ketersediaan pangan dilihat terus. Kita sering terjebak rutinitas administratif, tanda tangan kebijakan, tapi yang di lapangan tidak dipantau. Tolong dilihat inflasi naik atau turun, masalahnya apa, apakah distribusi atau infrastruktur yang jelek,”ujar Jokowi saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi di Jakarta, Kamis 26 Juli 2018.

Menurut Jokowi, perdagangan antardaerah sangat penting. Saat ini seringkali ada provinsi yang memiliki inflasi tinggi karena pasokan kurang sementara di tempat lainnya mengealami kelebihan bahan pokok.

Kepala daerah dituntut untuk menetahui informasi mengenai stok bahan pangan baik wilayahnya sendiri maupun daerah lain. Jika ada pasokan yang kurang, pemerintah daerah bisa melakukan perdagangan dengan provinsi atau kabupaten lain.

“Misalnya beras, kalau pasokan kita kurang, cek provinsi mana yang surplus. Misalya Jatim surplus, kita telefon lalu mita kirim,”ujar dia.

Pasar induk



Selain itu, pemerintah daerah juga diminta membangun pasar pengepul atau pasar induk. Hal itu dilakukan untuk menekan biaya transportasi tinggi yang menyebabkan harga bahan pokok mahal.

“Sekarang pasar induk beras paling gede Cipinang. Yang tidak bener adalah saat Sulawesi surplus, kirim ke Cipinang, Jatim surplus kirim ke Cipinang, Jabar surplus kirim ke Cipinang. Tapi nanti dari Cipinang dikirim lagi ke Indonesia timur sehingga bolak balik transportasinya mahal dan dobel,” kata Jokowi.

Meski demikian, Jokowi menyampaikan apresiasi terhadap koordinasi yang dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta instansi lainnya dalam mengendalikan inflasi.

Hal itu bisa terlihat dari capaian inflasi yang berada di bawah empat persen selama empat tahun terakhir.

Dia berharap agar koordinasi tersebut tersu dilanjutkan sehingga angka inflasi semakin turun ke depannya antara satu sampai dua persen.

“Kita harapkan inflasi bisa rendah sehingga stabil seperti negara maju,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry warjiyo mengatakan, inflasi nasional dapat terjaga selama tiga tahun terakhir dalam kisaran target. Realisasi inflasi volatile food juga semkain menurun bahkan menunjukkan angka terendah selama 13 tahun terakhir pada tahun 2017.

“Pencapaian penting inflasi ini merupakan buah daru koordinasi kebijakan yang semakin kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan bank Indonesia dalam nejaga stabilitas makroekonomi. Bank Indonesia mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui berbagai program inovatif yang telah dilakukan oleh Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Daerah.***

Bagikan: