Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.7 ° C

Kesenjangan Kompetensi Lulusan SMK/SMA dengan Kebutuhan Industri Tinggi

Ai Rika Rachmawati
Tangis haru dari para orangtua dan siswa terpecahkan setelah membuka bersama-sama dan melihat surat kelulusan putra-putrinya yang diberikan oleh pihak sekoah di gedung SMK Kesehatan Parigi yang berada di Desa Cibenda Kec Parigi, Kabupaten Pangandaran, Kamis, 3 Mei 2018.*
Tangis haru dari para orangtua dan siswa terpecahkan setelah membuka bersama-sama dan melihat surat kelulusan putra-putrinya yang diberikan oleh pihak sekoah di gedung SMK Kesehatan Parigi yang berada di Desa Cibenda Kec Parigi, Kabupaten Pangandaran, Kamis, 3 Mei 2018.*
BANDUNG, (PR).- Kesenjangan kompetensi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan kebutuhan industri masih tinggi. Kondisi itu menempatkan lulusan SMK/SMA sebagai kontributor terbesar bagi pengangguran terbuka di Indonesia.

Chief Marketing Officer (CMO) Arkademy, Arfiyah Citra Eka Dewi, mengatakan, diperlukan upaya peningkatan kompetensi lulusan SMK/SMA untuk mengikis kesenjangan tersebut. Arkademy adalah startup digital binaan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom) yang bergerak di bidang kursus sevara daring untuk pemrograman, internet of think (IoT), big data, dan software defined network.

"Mengapa banyak lulusan SMA dan SMK menganggur? Karena adanya gap kompetensi," tuturnya, di Bandung, Rabu 30 Mei 2018.

Ia mencontohkan kemampuan dasar teknologi informasi (TI) yang diperlukan industri yang jauh berbeda dengan apa yang diajarkan di sekolah. Di sisi lain, tidak banyak pelajar SMK/SMA yang berinisiatif mempelajari hal lain yang tidak diajarkan di sekolah.

"Di sekolah diajarinya html, css, php. Padahal, di industri itu kemampuan dasar yang dicari adalah yang menguasai react laravel, react. redux, dan react Javascript," tuturnya.

Siswa SMK/SMA, menurut dia, juga tidak berkesempatan mengerjakan order industri seperti yang biasa ditemukan di perguruan tinggi. Akibatnya, mereka tidak memiliki portofolio proyek yang berguna untuk bagi kariernya di kemudian hari.

Kondisi itulah yang membuat di satu sisi banyak lulusan SMK/SMA sulit mendapatkan pekerjaan dan di sisi lain tidak sedikit industri kesulitan memperoleh tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. Gap seperti itu pulalah yang tak jarang mendorong perusahaan mencari tenaga kerja asing (TKA) untuk mengisi sejumlah posisi.

Oleh karena itu, ia menghimbau agar siswa SMK/SMA terus berupaya meningkatkan kompetensi diri melalui berbagai kursus untuk mengasah keterampilan sesuai dengan minat dan bakat. Apalagi, saat ini banyak kursus yang bisa diikuti secara daring.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2018, tingkat pengangguran terbuka (TPT) SMK menempati posisi tertinggi, sebesar 8,92%. Disusul TPT Diploma I/II/III sebesar 7,92% dan SMA 7,19%. TPT universitas sebesar 6,31%, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 5,18%, serta TPT lulusan SD sebesar 2,67%.

Tingginya TPT lulusan SMK sudah terjadi sejak tahun lalu. Per Februari 2017 TPT lulusan SMK mencapai 9,27%. Kendati demikian, secara tren, TPT lulusan SMK mengalami penurunan.***
Bagikan: