Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 28.8 ° C

Kurs Dolar AS Rp 14.000, Indef Ungkap 3 Penyebab Rupiah Melemah

Tia Dwitiani Komalasari
PETUGAS menghitung uang kertas dolar AS pecahan 100 dolar saat melayani pembeli di penukaran uang DolarAsia di Jln. Cibaduyut, Kota Bandung, Jumat 29 November 2013.*
PETUGAS menghitung uang kertas dolar AS pecahan 100 dolar saat melayani pembeli di penukaran uang DolarAsia di Jln. Cibaduyut, Kota Bandung, Jumat 29 November 2013.*

JAKARTA, (PR).- Nilai mata uang rupiah yang semakin tergerus‎ dolar AS tidak hanya dipengaruhi oleh faktor global seperti Suku Bunga The Fed. Rupiah melemah juga merupakan respons pasar terhadap kondisi dometik seperti sentimen negatif pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2018. Inflasi serta efek Bank Indonesia yang lambat merespons kenaikan suku bunga acuan juga jadi penyebab.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance‎ Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan tekanan rupiah akibat faktor global memang semakin meningkat pada triwulan II tahun 2018. Investor semakin berspekulasi terhadap keputusan Bank Sentral Amerika, The Fed, yang akan menaikan suku bunganya pada bulan Juni. 

"Apakah memang akan naik atau tidak, karena kemarin kan ditahan. Jadi kalau Juni suku bunga The Fed naik, otomatis imbal hasil surat hutang Amerika Serikat akan lebih menarik. Dan investor akan merombak portfolio mereka dan menarik dananya ke Amerika Serikat," ujar dia di Jakarta, Selasa 8 Mei 2018.

Tekanan terhadap rupiah juga biasa terjadi di triwulan II karena‎ merupakan momentum bagi banyak perusahaan emiten di Bursa Efek Indonesia untuk membagikan devidennya. Sementara porsi kepemilikan asing di Bursa Efek Indonesia sangat besar. Kata Bhima, bila investor akan membagikan deviden, mereka akan melakukan konversi ke mata uang dolar AS sebelum dikirim ke asal negaranya.

"Ini memang faktor seasonal yang terjadi di setiap triwulan II," ujar dia.

Meskipun demikian, menguatnya kurs dolar AS tidak hanya semata faktor global. Menurut Bhima, faktor domestik juga berperan besar terhadap keluarnya dana asing ke luar negeri.‎ Salah satunya adalah ssentimen negatif terhadap pengumuman pertumbuhan ekonomi yang dilakukan BPS, Senin 7 Mei 2018. Dalam pengumuman tersebut, dinyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I tahun 2018 sebesar 5,06 persen.

Pertumbuhan ekonomi timbulkan pesimisme



Menurut Bhima, angka tersebut menimbulkan pesimisme pada pasar bahwa ‎pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 bisa mencapai target 5,4 persen. Seharusnya pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2018 tersebut bisa mencapai di atas 5,1 persen.

Pertumbuhan ekonomi tersebut juga tidak lebih baik dibandingkan dengan negara tetangga. Seperti Vietnam yang bisa mencapai 7,3 persen atau Malaysia yang berada di atas lima persen.‎ 

"Akhirnya investor asing melihat ada yang salah dengan fundamental ekonomi Indonesia. Ini yang sebabkan beberapa investor bisa pulang kembali ke Amerika Serikat atau beralih ke negara-negara ASEAN lainnya," ujar dia.

Selain itu, Bhima mengatakan, kurs dolar menguat juga merupakan dampak dari kebijakan Bank Indonesia yang lambat merespin kenaikan suku bunga acuan. Sejak awal 2018, Bank Infonesia terus melakukan upaya stabilisasi dengan menggerus cadangan devisa sebesar 3-5 miliar dolar AS. "Kalau cadangan devisa terus tergerus, bagaimana bisa menahan dana asing keluar? Seharusnya BI segera menaikkan suku bunganya sebesar 25 sampai 50 basis poin menjelang puasa dan lebaran," ujar dia.

Sementara itu Ekonom Indef,‎ Berly Martawardaya, mengatakan sulit bagi Bank Indonesia untuk tidak menaikan suku bunga pada bulan ini. Apalagi jika bank sentral negara lain telah menaikan suku bunga mereka.

Selain itu, Berly mengatakan, faktor geoploitical global juga menambah keraguan investor asing. "Jadi Amerika Serikat selain perdang dagang dengan Tiongkok, juga dengan Iran dan Korea Utara," ujar dia.‎***

Bagikan: