Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Masih Jadi Tanda Tanya, Telkom Diminta Jelaskan Penyaluran Dana CSR

Satrio Widianto

JAKARTA, (PR).- Pemberitaan soal dana Bina Lingkungan atau Corporate Social Responsibility (CSR) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang dianggap diskriminatif, masih menggelinding. Untuk itu, anggota dewan mendorong Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengaudit kegiatan CSR badan usaha milik negara  yang dikelola serta disalurkan secara tidak proporsional.

"Saya kira ini memang harus diaudit oleh BPK. GCG ini harusnya proprosional sesuai yang diperuntukkan untuk masyarakat secara adil"  Kata Azam Azman, Wakil Ketua Komisi VI DPR dalam siaran pers di Jakarta, Kamis 26 April 2018, dari diskusi bertema "menyoal kinerja PT Telkom". 

Turut hadir pada diskusi itu adalah ekonom dari Indef Bhima yudhistira, Ismed Hasan Putro (pemerhati BUMN); serta Marwan Batubara, pengamat dari Indonesian Resources Studies (IRESS).

Sebelumnya, Koordinator Aliansi Masyarakat untuk Keadilan (AMUK)  Jamal saat menggelar demo di Gedung PT Telkom, Senin 16 April 2018 mendesak Direktur Utama (Dirut) PT Telkom mundur dari jabatannya terutama dana CSR  untuk rumah ibadah yang  dibagikan tidak secara adil dan proporsional. 

Menurut Azam, gejala ketidakadilan ini jika dibiarkan, akan berdampak buruk karena PT Telkom terkesan pilih kasih dalam memberikan bantuan kepada rumah ibadah.

"Untuk menghindari perbedaan besaran terkait penyaluran CSR PT Telkom yang sudah marak di medsos apalagi sudah menyangkut pernyataan petinggi ormas keagamaan, maka sebaiknya ada audit khusus oleh BPK" kata politikus Partai demokrat tersebut. 

Laba bersih



Marwan Batubara dari Indonesian Resources Studies menegaskan, harus ada permintaan secara resmi kepada BPK bisa melalui anggota dewan atau Presiden langsung yang menyampaikan kepada Menneg BUMN sebagai pemegang komando tertinggi di perusahaan pelat merah demi memperbaiki kinerjanya. 

Sementara jika dilihat dari sisi kinerja PT Telkom, Azam azman menyoroti, kendati perseroan mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp22,1 triliun pada 2017, atau tumbuh 14,43 persen dibanding laba 2016 yang senilai Rp19,35 triliun. Namun pertumbuhan laba 2017 lebih lambat dibandingkan laba 2016 yang mampu menanjak 24,94 persen (year-on-year/yoy).

"Ini menjadi sangat penting bahwa keberadaan Telkom ini harus lebih cepat pertumbuhan kinerjanya, kalau enggak akan tertinggal jauh, dan kalau saya lihat, perlu didukung oleh manajemen yang lebih baik, perlu didukung manajemen puncak yang lebih agresif," tegas Azam.***

Bagikan: