Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 26.3 ° C

Jokowi: Perbankan Masih Main Aman

Muhammad Ashari
PRESIDEN Joko Widodo menyampaikan paparan dihadapan pimpinan bank umum di Indonesia, di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 15 Maret 2018. Presiden mendorong bank-bank BUMN dan swasta di Indonesia untuk dapat bersaing dengan bank asing serta melakukan inovasi dan berani mengambil resiko.*
PRESIDEN Joko Widodo menyampaikan paparan dihadapan pimpinan bank umum di Indonesia, di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 15 Maret 2018. Presiden mendorong bank-bank BUMN dan swasta di Indonesia untuk dapat bersaing dengan bank asing serta melakukan inovasi dan berani mengambil resiko.*

JAKARTA, (PR).- Perbankan Indonesia dinilai masih bermain aman. Pasalnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) dan kelebihan cadangan dana bank (excess reserve) relatif besar. Namun pertumbuhan penyaluran kredit masih rendah dan belum memenuhi target.

Berdasarkan Otoritas Jasa Keuangan, rasio kecukupan modal perbankan sebesar 23,36% dan kelebihan cadangan dana bank mencapai Rp 626 triliun pada tahun 2017. Sementara pertumbuhan kredit 8,24%, masih dibawah target 9-12%. Adapun non performing loan berhasil diturunkan dari sekitar 3% menjadi 2,5%.

Presiden Joko Widodo menduga modal perbankan yang tinggi sebagai tanda jika dunia perbankan di Indonesia selama ini masih bermain aman. Terlebih bila mencermati data pertumbuhan penyaluran kredit yang belum memenuhi target.

“Apakah perbankan kita ini terlalu aman dengan angka sebesar itu? Mungkin bapak ibu sekalian terlalu main aman. Angkanya tinggi sekali,” kata dia ketika memberikan sambutan dalam pertemuan antar pemimpin bank di Istana Negara, Kamis, 15 Maret 2018.

Untuk CAR, ia menyebutkan, dana minimal biasanya berada di angka 12%. Dengan CAR di angka 23,36% menunjukkan bila perbankan di Indonesia sesungguhnya sangat liquid.

Menurutnya, perbankan memang perlu berhati-hati. Akan tetapi bila dengan prinsip itu perbankan terus-terusan tidak berani mengambil resiko, maka secara perlahan bisnis akan mati.

“Main aman itu sebuah ilusi. Di dunia sekarang ini, dimana sangat terbuka, dinamis, mengglobal, dan teknologi berkembang cepat, tidak ada yang namanya aman,” kata dia.

Presiden menambahkan, bisnis perbankan kini berlangsung dalam kondisi yang sangat terbuka. Bank di dalam negeri kini berhadapan dengan bank-bank luar negeri. Ia mewanti-wanti agar bank di dalam negeri bersiap menghadapi persaingan yang sangat ketat pada tahun-tahun mendatang.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, dalam sambutannya, mengatakan, secara umum perbankan Indonesia tidak mengalami hal yang mengkhawatirkan dengan adanya rasio kecukupan modal dan kelebihan cadangan dana bank yang besar. Kedua hal itu dikatakannya memberikan ruang yang cukup besar untuk memberikan pinjaman atau menumbuhkan penyaluran kredit.

Adapun terkait pertumbuhan penyaluran kredit yang masih rendah, ia mengatakan, beberapa bank masih dalam konsolidasi kredit macet. Perbankan menghapus kredit macet agar NPL rendah. Menjaga NPL tetap sehat penting karena akan menunjukkan indikator perekonomian Indonesia.

Menurutnya, upaya perbankan yang berhasil menurunkan catatan kredit macet pada akhir tahun 2017 menjadi hal yang bagus. “Ini indikasi yang bagus. Menunjukkan perbankan Indonesia kuat dimana modalnya bisa menutup kredit macet,” kata dia.

Untuk tahun ini, Wimboh mengatakan, pertumbuhan penyaluran kredit ditargetkan naik menjadi 12% pada tahun ini. Bila target itu terpenuhi, bisa berkontribusi secara signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tahun ini diproyeksikan di kisaran 5,4%. Dengan CAR dan cadangan kelebihan dana yang besar, perbankan bisa dengan mudah meraih target 12%. “Kalau (perbankan) mau dan demand ada,” katanya.

Kredit pendidikan



Pada kesempatan yang sama, presiden juga meminta dunia perbankan menyediakan fasilitas kredit pendidikan. Indonesia dinilainya perlu meniru AS yang telah menyalurkan kredit pendidikan melampaui penyaluran pinjaman kartu kredit.

Jokowi menyebutkan, di AS, total nilai penyaluran kredit pinjaman adalah 1,3 triliun dollar AS. Sementara pinjaman kartu kredit 800 miliar dollar AS. “Kaget saya membaca itu. Kalau di negara kita bisa seperti ini, maka yang konsumtif akan pindah ke hal-hal yang produktif. Tolong ini dipelajari,” kata dia.

Bila kredit pendidikan bisa diterapkan, Jokowi menilai bisa memberi nilai tambah di sektor pendidikan. “Mungkin pendidikan ini bisa menjadi produk finansial baru bagi kita. Jadi, tolong potensi-potensi inovasi menjadi perhatian serius kita,” tuturnya.***

Bagikan: