Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Inflasi, Makna dan Pengaruhnya untuk Kita

Tia Dwitiani Komalasari

KETIKA membaca berita ekonomi, seringkali muncul topik mengenai inflasi. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan inflasi? Lalu apa dampaknya pada kehidupan kita sehari-hari?

Dalam arti sederhana, inflasi adalah suatu periode ketika harga-harga naik secara umum atau kemerosotan nilai uang. Sementara deflasi merupakan kondisi sebaliknya.

Di Indonesia, BPS (Badan Pusat Statistik) bertugas melakukan survei dan melakukan penghitungan inflasi yang diumumkan setiap bulannya kepada masyarakat.

BPS menggunakan indikator LHK (Indeks Harga Konsumen) untuk mengukur kemerosotan nilai uang. Penghitungan IHK didasarkan pada Survei Biaya Hidup dengan memonitor perkembangan harga barang atau jasa di setiap kabupaten/kota yang ada di seluruh Indonesia.

Indeks Harga Konsumen tersebut dibagi menjadi tujuh kelompok



1. Kelompok Bahan Makanan seperti beras, cabai, bawang merah, dan lain-lain

2. Kelompok Makanan Jadi seperti minuman, dan tembakau. Kelompok ini misalnya rokok, makanan kemasan, dan minuman kemasan.

3. Kelompok Perumahan meliputi tarif listrik, air, gas, dan bahan bakar.

4. Kelompok Sandang misalnya pakaian atau sepatu

5. Kelompok Kesehatan

6. Kelompok Pendidikan misalnya biaya sekolah yang umumnya dibayar di awal tahun ajaran

7. Kelompok Transportasi dan Komunikasi misalnya tarif tiket pesawat dan pulsa.

Setiap komponen memiliki bobot yang berbeda  dalam mempengaruhi kemerosotan nilai uang. Misalnya, beras memiliki bobot yang lebih tinggi dari pulsa.

Itulah sebabnya kenaikan harga beras Rp 100/kg bisa langsung mempengaruhi peningkatan inflasi. Hal itu berbeda dengan kenaikan tarif pulsa yang tidak berpengaruh signifikan.

BPS mengumumkan inflasi menjadi dua



1. Inflasi inti yaitu komponen yang cenderung menetap dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, misalnya

A. Interaksi permintaan-penawaran

B. Lingkungan eksternal seperti nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang

C. Ekspektasi dari pedagang dan konsumen

2. Inflasi noninti yaitu komponen yang cenderung tinggi volatilitasnya (cenderung mudah berubah atau bergejolak) karena dipengaruhi selain faktor nonfundamental. Komponen ini terdiri atas:

A. Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food)

Kemerosotan nilai uang yang dominan dipengaruhi kondisi luar biasa dari kenaikan maupun penurunan harga bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik dan global.

B. Inflasi Komponen Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Price)

Kemerosotan nilai uang yang dominan dipengaruhi kebijakan pemerintah seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, dan tarif angkutan.

Pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari



Inflasi memiliki dampak positif maupun negatif. kemerosotan nilai uang yang ringan cenderung memberikan dampak positif karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memicu masyarakat untuk berinvestasi.

Akan tetapi, kemerosotan nilai uang yang tidak terkendali menyebabkan masyarakat kesulitan membeli kebutuhan pokok. Kondisi ini pada ujungnya bisa mempengaruhi stabilitas keamanan dan politik. Hal itu menyebabkan pemerintah dan Bank Indonesia selalu berupaya menjaganya agar tetap terjaga.

Setiap tahunnya, pemerintah menetapkan target inflasi saat perumusan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Saat ini, target yang ditetakan pemerintah cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya.

Pendapatan riil masyarakat menurun



Inflasi menyebabkan nilai uang menjadi turun dibandingkan barang atau jasa. Misalnya, bila sebelumnya dengan uang Rp 100.000 kita bisa membeli 10 kg beras jenis tertentu. Dengan adanya kemerosotan nilai uang, beras yang bisa dibeli dengan Rp 100.000 akan kurang dari Rp 10 kg meskipun jenisnya  sama.

Kondisi ini merugikan masyarakat yang memiliki pendapatan tetap setiap tahunnya. Itulah sebabnya dalam perhitungan upah minimum, seringkali memasukan pertimbangan ini.

Beberapa perusahaan sudah menerapkan kebijakan penyesuaian atau kenaikan gaji sesuai kemerosotan nilai uang setiap tahunnya. Namun, banyak perusahaan yang belum menetapkan kebijakan tersebut.

Nilai tabungan



Penurunan nilai uang juga terjadi saat kita menyimpan uang di tabungan dalam waktu lama. Sebab, jumlah bunga yang dihasilkan dari menyimpan uang di tabungan seringkali berada di bawah nilai inflasi.

Oleh sebab itu, banyak penasehat keuangan yang menyarankan investasi apabila ingin menyimpan uang dalam waktu lama seperti untuk biaya pendidikan anak atau dana pensiun. Investasi tersebut bisa berupa emas, tanah atau bangunan, saham, reksa dana, asuransi dan lainnya.

Nilai kredit



Inflasi menguntungkan bagi peminjam karena saat pembayaran kepada pemberi pinjaman, nilai uang menjadi lebih rendah dibandingkan saat meminjam. Misalnya, saat kita meminjam kredit rumah kepada bank, biasanya semakin lama jumlah yang dibayarkan untuk cicilan proprosinya akan semakin mengecil dari pendapatan.

Lebih jauh, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi. Hal itu akan menyulitkan pelaku usaha untuk melakukan investasi dan produksi. Sementara terhadap masyarakat, kemerosotan nilai uang yang tidak terkendali dapat menyebabkan angka kemiskinan meningkat dan pengangguran bertamah. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi pun menjadi melambat.***

Bagikan: