Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian cerah, 19.6 ° C

Startup Indonesia Mulai Melantai di Bursa Saham

Tia Dwitiani Komalasari

JAKARTA, (PR).- ‎Perusahaan e-commerce online-to-offline (O2O) PT Kioson Komersial Indonesia Tbk akan melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Ini merupakan perusahaan startup pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia.

Co-Founder Kioson Jasin Halim, mengatakan IPO ini rencananya menawarkan sebanyak-banyaknya 150 juta lembar saham atau sebanyak-banyaknya 23,07% dari total modal dengan harga‎ Rp 280 sampai dengan Rp 300 per lembar saham. Dengan demikian, Kioson menargetkan untuk memperoleh dana dari hasil IPO sebanyak Rp 42 miliar sampai dengan Rp 45 miliar.

Secara bersamaan, menurut Jasin, Kioson secara juga menerbitkan sebanyak-banyaknya 150 juta Waran Seri I yang menyertai saham baru Kioson atau sebanyak-banyaknya 30% dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh. Saham baru untuk startup itu diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi para pemegang saham. Dalam rangka rencana IPO ini, Kioson mempercayakan PT Sinarmas Sekuritas sebagai underwriter.

Menurut Jasin, ‎sekitar 75,76% dana hasil IPO akan digunakan Kioson untuk mengakuisisi PT Narindo Solusi Komunikasi ("Narindo"). Selebihnya, akan digunakan untuk modal kerja. "Akuisisi ini akan memperkuat struktur dan menambah portofolio Perseroan, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi positif kepada kinerja keuangan Perseroan," ujar Jasin saat paparan publik di Jakarta, Kamis 7 September 2017.

Pertumbuhan ekonomi digital



Berdasarkan hasil survei indikator TIK 2015 Kementerian Informasi dan Komunikasi Republik Indonesia, baru sekitar 8,7 juta orang dari 93,4 juta orang pengguna internet yang aktif sebagai online shopper. Selain itu, jumlah pengguna internet di kota-kota lapis kedua (rural area) baru mencapai 17,3%.‎

"Rencana IPO ini merupakan bagian dari strategi kami dalam melaksanakan misi menjadi jembatan antara underserved market dengan teknologi digital. Kami melihat bahwa pasar yang belum terlayani oleh dunia digital masih sangat luas," ujar dia.

Strategi perusahaan juga sejalan dengan visi pemerintah Indonesia. Negara ini menargetkan untuk bisa menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020. "Dengan adanya layanan yang ditawarkan Kioson, UMKM selaku kios-kios mitra kami dapat berperan menjadi gerbang dalam mengenalkan dunia digital pada underserved market. Dari sini, konsumen akan lebih mudah mengakses layanan e-commerce," ujar dia.

Sementara itu, sebelumnya Bursa Efek Indonesia mendorong agar banyak perusahaan start up ‎yang melakukan penjualan saham di BEI. "Kami berikan fasilitas berupa pelatihan dan pemahaman tambahan.  Tujuannya supaya bisa mencari modal pendanaan untuk mengambangkan perusahaannya," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat.***

Bagikan: