Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 17.3 ° C

Ini Harga Rumah dan Tanah di Kawasan Elite Kota Bandung

Asep Budiman

BANDUNG, (PR).- Rumah dijual bekas di Kota Bandung mendominasi pangsa pasar penjualan rumah tapak. Selain lahan yang semakin terbatas, harga tanah pun relatif tinggi. Kondisi ini menyebabkan perumahan yang didirikan lebih menyasar kalangan menengah ke atas.

Pertumbuhan rumah dijual pun terus meluas ke daerah pinggiran Kota Bandung, seperti Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Di daerah penyangga Kota Bandung itu, baik harga tanah, perumahan, maupun properti lainnya pun terus mengalami kenaikan signifikan.

Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia Jawa Barat, Asep Ahmad Rosidin, menyampaikan data itu, Menurut dia, membenarkan bahwa kenaikan harga tanah akan mendongkrak harga rumah cukup signifikan. Ketika sebuah kawasan dibangun menjadi perumahan mewah, secara otomatis harga tanah di sekitarnya akan terkerek naik.

"Di barat, ada Kota Baru Parahyangan dengan harga tanah Rp 6 juta-Rp 7 juta per meter. Di utara, ada perumahan Graha Puspa sekitar Rp 5 juta per meter. Di timur, ada Summarecon sekitar Rp 8 juta per meter. Sementara di selatan, ada Batununggal, Mekarwangi, Singgasana berkisar Rp 9 juta-Rp 11 juta per meter," ucapnya, Minggu 13 Agustus 2017.

Tingginya harga tanah di kawasan tersebut menunjukkan bahwa harga tanah di Kota Bandung untuk kawasan strategis dapat berkali-kali lipat. "Kalau luar Kota Bandung seperti itu, berati dalam kota berapa? Dalam kota diwakili Jalan Ir H Djuanda dan Jalan Asia Afrika. Harga tanah di Jalan Ir H Djuanda sekitar Rp 60 juta per meter. Tahun lalu, haraganya Rp 50 juta per meter. Sementara harga tanah di Jalan Asia Afrika sekitar Rp 50 juta per meter.

Pikiran Rakyat Head Office #pikiranrakyat #HUTPR51 - Spherical Image - RICOH THETA



Harga rumah dijual



Menurut Asep, harga rumah dijual di kawasan lain di dalam Kota Bandung pun tak kalah tinggi meski relatif lebih rendah dari jalan-jalan tersebut. "Kalau sayap-sayapnya lebih rendah dari itu. Daerah Dago sekitar Rp 20 juta-Rp 30 juta per meter. Jalan protokol kurang lebih Rp 20 juta per meter," tuturnya.

Dari sisi volume, Asep mengungkapkan, suplai rumah bekas lebih banyak dibandingkan dengan rumah baru. Dia menyebutkan, perbandingan suplai rumah baru hanya 22% dan rumah bekas mencapai 78%.

Menurut dia, hanya beberapa pengembang tertentu yang mampu mendirikan perumahan di dalam kota. "Di Bandung ada beberapa developer, kebanyakan agen rumah bekas," ucapnya.

Kendati dari sisi persentase volume unit rumah dijual bekas lebih banyak, Asep menilai, pertumbuhan kenaikan harga rumah baru lebih bagus. Laju penjualan rumah baru pun relatif lebih cepat yang mungkin disebabkan keterbatasan unit.

"Lagi banyak, nomor satu Summarecon yang masih in charge. Kemudian Kota Baru dan Buana Suta di Gedebage. Sisanya hampir semua di daerah selatan, seperti Batununggal, Mekarwangi, Grup Matahari Bumi Siliwangi, Cherryville, dan lain-lain," ujarnya.

Asep menyebutkan, pertumbuhan perumahan baru sekarang lebih banyak ke arah selatan. Sementara di dalam kota pemanfaatan lahan relatif untuk pembangunan apartemen dan hotel. "Di kota relatif tidak ada karena bertempur dengan high rise building," kata Asep.***

Bagikan: