Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sedikit awan, 25.1 ° C

Tahun 2017, Transaksi Fintech Diprediksi Capai Rp 250 Triliun

Ai Rika Rachmawati
BANDUNG, (PR).-Nilai transaksi financial technology (fintech) di Indonesia sepanjang tahun ini diprediksi akan mencapai 19 miliar dolar atau sekitar Rp 253,44 triliun (1 dolar = Rp 13.339). Nilai transaksi tersebut baru mencapai 25 % total potensi fintech di seluruh Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp 1.000 triliun tahun ini.

Demikian diungkapkan Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana di Bandung, Minggu 7 Mei 2017. Ia memprediksi, pada 2021, nilai transaksi fintech di Indonesia akan mencapai 37,146 miliar dolar atau Rp 495,5 triliun.

"Potensi fintech didukung investor. Sepanjang 2016, ada Rp 486,3 miliar investasi yang masuk ke sektor ini. Layanan fintech yang paling familiar di Indonesia adalah payment dan lending," katanya.

Potensi fintech di sektor transaksi elektronik (e-payment), menurut dia, datang dari relatif masih kecilnya penetrasi alat pembayaran kartu di Indonesia, baik kartu debit, kredit, maupun e-money. Di sisi lain, regulator juga terus mendukung pertumbuhan e-payment.

Ia menilai, rencana Bank Indonesia (BI) untuk segera mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang National Payment Gateway (NPG) akan mendorong fintech dengan infrastruktur yang saling terkoneksi dan kemampuan operasional terpadu antara ATM, kartu debit, dan e-money. Meledaknya e-commerce juga dipastikan akan mendongkrak penggunaan fintech.

Data Bank Indonesia mencatat, dalam tiga tahun terakhir e-payment melonjak tajam. Pada 2016, jumlah e-payment tercatat mencapai 683,13 juta transaksi dengan nilai Rp 7,06 triliun.

Jumlah tersebut naik tajam dibandingkan tahun 2015. Saat itu, e-payment baru mencapai 535,58 juta transaksi senilai Rp 5,28 triliun dan pada 2014 sebanyak 203,37 juta transaksi senilai Rp 3,32 triliun.

Sementara itu, ditemui pada Paytren Vaganza 2017 di Eldorado, Bandung, akhir pekan lalu, Direktur Utama Paytren, Hari Prabowo, juga mengatakan, fintech berpotensi tumbuh subur di Indonesia. Hal itu, menurut dia, tidak terlepas dari masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum tersentuh perbankan.

"Padahal, banyak di antara mereka yang memiliki uang dan smartphone serta sudah melek teknologi internet. Inilah yang menjadi pasar potensial fintech. Mereka pulalah yang menjadi sasaran pemasaran Paytren," tuturnya.***
Bagikan: