Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Literasi Keuangan Perlu Dipupuk Sejak Dini

Asep Budiman
SISWA antre menabung di Mobil Kas Keliling Bank Syariah Bukopin (BSB), di Sekolah Yayasan Persatuan Guru Islam Indonesia (YPGII), Jalan Pranatayuda, Kota Bandung, Selasa, 24 Januari 2017 lalu. Kehadiran mobil kas keliling di lingkungan sekolah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kegemaran palajar untuk menabung.*
SISWA antre menabung di Mobil Kas Keliling Bank Syariah Bukopin (BSB), di Sekolah Yayasan Persatuan Guru Islam Indonesia (YPGII), Jalan Pranatayuda, Kota Bandung, Selasa, 24 Januari 2017 lalu. Kehadiran mobil kas keliling di lingkungan sekolah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kegemaran palajar untuk menabung.*

BANDUNG, (PR).- Literasi keuangan anak-anak Indonesia dinilai masih rendah lantaran kurangnya pembelajaran, baik di sekolah maupun di rumah. Pengenalan terhadap literasi keuangan perlu dilakukan sejak dini dengan digitalisasi.

"Literasi keuangan di tingkat sekolah dasar masih rendah karena kurangnya kesempatan untuk belajar," ujar Management Advisor Prestasi Junior Indonesia (PJI) Rob Gardiner saat pengenalan literasi keuangan digital kepada siswa SDPN Sabang, Kota Bandung, Selasa, 18 April 2017.

Atas dasar hal tersebut, Citi Indonesia melalui Citi Peka (Peduli dan BerKarya) bersama PJI memperkenalkan program “Digital Financial Literacy for Children” bagi siswa sekolah dasar kelas 3, 4, dan 5 di Indonesia. Program ini memiliki tujuan untuk mendorong para siswa agar mengerti akan literasi digital yang terkait dengan industri keuangan, terutama perbankan. 

Melalui pendanaan dari Citi Foundation, program ini akan berlanjut hingga Juli 2017 dengan melibatkan sekitar 2.244 siswa di tujuh sekolah yang mencakup empat kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Tangerang, Surabaya, dan Bandung. Di kelas, para siswa diberikan pengetahuan mengenai pentingnya menabung, memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, mengenali metode pembayaran yang tersedia di pasar, baik tunai, kredit maupun debit, serta mempelajari pengetahuan kewirausahaan tingkat dasar dengan cara yang menyenangkan dan interaktif melalui gawai. Citi Indonesia membekali setiap kelompok siswa yang terlibat dengan satu gawai, sehingga mereka dapat belajar secara interaktif dan menumbuhkan kerja sama tim yang baik.

Rob menyebutkan, program ini diperkenalkan kepada siswa-siswa sekolah dasar di 120 negara dengan menggunakan hardcopy atau poster. Namun, Indonesia menjad negara pertama yang diperkenalkan dengan literasi keuangan digital.

"Kami ingin membangun dasar pemahaman literasi keuangan terutama di era digital bagi siswa sekolah dasar. Ke depannya, diharapkan mereka menjadi generasi yang mampu menggerakkan industri keuangan Indonesia menjadi lebih maju,” ujarnya.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan, sejalan dengan fokus bisnis Citi Indonesia yang mengedepankan digitalisasi perbankan, kegiatan sosial kemasyarakatan yang kami usung pun menggunakan teknologi digital yang mumpuni. Bersama PJI, Citi Indonesia memberikan edukasi mengenai keuangan kepada siswa setingkat sekolah dasar.

“Melalui program ini, kami berharap para siswa dapat menjadi duta keuangan bagi keluarga mereka dengan menyampaikan semua informasi yang didapat melalui kegiatan ini kepada seluruh anggota keluarga. Sehingga generasi muda dapat turut serta dalam era digital dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan kemudahan serta berbagai manfaat,” kata Batara.

Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia, Elvera N Makki menyatakan, derasnya arus informasi melalui gadget dan smartphone yang dapat dengan mudah diakses melalui koneksi internet semakin sulit dibendung, termasuk bagi anak-anak yang sudah terpapar dengan penggunaan gawai. Program ini diluncurkan untuk memanfaatkan tren penggunaan gawai ke arah yang positif dengan memasukkan modul-modul edukasi keuangan dan pendekatan interaktif yang aman, komprehensif, dan menyenangkan bagi anak-anak. 

"Terdapat tiga modul yang digunakan dalam kegiatan pengenalan yang diselaraskan dengan kurikulum pendidikan nasional Indonesia, termasuk konten dan kegiatan yang berkaitan dengan perbankan, bisnis, karier, komunikasi, pembangunan ekonomi, uang, produsen dan konsumen, sumber daya, pasokan, dan permintaan," tuturnya.***

Bagikan: