Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 25.1 ° C

Ponsel Ilegal Hilangkan Pendapatan Pajak 20 Persen

Tia Dwitiani Komalasari

JAKARTA, (PR).- Telefon selular (ponsel) ilegal yang beredar di Indonesia berpotensi menghilangkan pendapatan pajak hingga 20 persen dari total yang seharusnya didapatkan dari penjualan komoditas tersebut. Kementerian Perindustrian akan melakukan kerja sama dengan Qualcomm untuk memeriksa nomor yang tercantum pada International Mobile Station Equipment (IMEI) di dalam setiap perangkat ponsel impor yang maasuk ke Indonesia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan, ini merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan‎ untuk melindungi industri dan keamanan konsumen dalam negeri.‎ Petugas akan memantau seluruh ponsel dengan proses wajib pendaftaran tipe dan nomor identitas produknya. "Kami berencana melakukan kerja sama dengan Qualcomm untuk mengidentifikasi ponsel yang akan masuk maupun telah ada di Indonesia. Ini dilakukan untuk mencegah ponsel ilegal, serta. menyelamatkan industri dan keamanan konsumen Indonesia,” kata dia di Jakarta Sabtu 8 April 2017.

Menurut Airlangga, pengidentifikasian tersebut dimulai dari pemeriksaan nomor yang tercantum pada IMEI di dalam perangkat ponsel. "Kalau upaya ini bisa kita terapkan dengan baik, kerugian negara bisa dihilangkan akibat ponsel-ponsel yang ilegal," ujarnya.

Berdasarkan perhitungan Qualcomm, ponsel ilegal yang beredar di Indonesia berpotensi menghilangkan pendapatan negara sebesar 20 persen karena tidak ada pajak yang dipungut. "Selain untuk mendapat angka kerugian dari ponsel ilegal, kerja sama ini juga diharapkan bisa menekan cybercrime yang terus meningkat," ujar Airlangga.

Sementara itu, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, perangkat ponsel ilegal yang beredar kian marak seiring dengan peningkatan kebutuhan teknologi di masyarakat. "Maka kita pelajari kemungkinan kontribusi pemerintah untuk menghadapi pertumbuhan teknologi tersebut. Sebagai produsen chipset untuk smart device, Qualcomm memiliki akses pusat data untuk IMEI di seluruh dunia dan memiliki pengalaman di Turki, di mana bisa meningkatkan penerimaan negara dari ponsel," ujarnya.

Dengan jumlah penduduk terbanyak di Asean, Indonesia menjadi pasar terbesar bagi perusahan ponsel dunia. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, jumlah pelanggan telekomunikasi seluler di Indonesia meningkat sebesar empat kali lipat, dari 63 juta menjadi 211 juta pelanggan. 

Saat ini jumlah ponsel yang beredar di Indonesia diperkirakan sebanyak 300 juta unit atau melebihi penduduk yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa. Untuk itu, menurut Putu, dari sisi pemerintah dan industri harus mempunyai sikap. "Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta pihak berwenang lainnya,"ujarnya.

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, nilai impor ponsel pada 2015 sekitar 2,2 miliar dolar AS dengan jumlah 37,1 juta unit ponsel. Jumlah itu menurun menjadi 773,8 juta Dolar AS dengan jumlah 18,4 juta unit pada 2016. Sedangkan, untuk jumlah produksi ponsel di dalam negeri sebesar 24,8 juta unit pada 2015, naik menjadi 25 juta unit pada 2016. Saat ini telah berdiri sebanyak 17 manufaktur dalam negeri yang mampu merakit produk ponsel.‎***

Bagikan: