Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Hampir 100 Persen Kasus Perbankan Libatkan Orang Dalam

Asep Budiman
BOGOR, (PR).- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, pembobolan perbankan hampir dipastikan melibatkan "orang dalam" dan nasabah. Namun, OJK memastikan kasus perbankan pasti akan terlacak dan terungkap.

"Kasus perbankan 90%-93% itu selalu melibatkan 'orang dalam' dan atau nasabahnya," kata Direktur Pengawasan Bank II OJK Anung Herlianto dalam pelatihan wartawan di Bogor, Sabtu 1 April 2017.

Hal itu didukung pula oleh survei dari Asia Anti-Fraud Foundation yang meneliti kinerja pegawai yang bekerja di sektor keuangan. Dia kaget dengan hasil survei yang menunjukkan betapa penipuan perbankan sangat dimungkinkan terjadi.

"Hasilnya mencengangkan, 70% orang yang bekerja di sektor keuangan itu pada dasarnya tidak jujur," ujar Anung.

Lebih lanjut, kata Anung, sebanyak 50% pegawai sektor keuangan akan merealisasikan niatnya jika konsep ”fraud triangle” terpenuhi yaitu apabila ada kesempatan, kebutuhan, dan kebenaran. Menurutnya, orang yang bekerja bertahun-tahun bisa saja melakukan kesalahan apabila ketiga alasan itu terpenuhi.

"Teller yang bekerja 15 tahun tanpa cacat, hari pertama tahun ke-16 tiba-tiba menarik uang Rp 100.000 dan ketahuan. Kemudian, dituding maling. Celakanya, 25% persen yang punya nyali kalau ada kesempatan, langsung maling," kata Anung.

Namun, Anung memastikan, kasus perbankan cepat atau lambat pasti terungkap. Dia menilai, perbankan saat ini sudah dilengkapi dengan kontrol internal atau sistem keamanan yang cukup baik.

"Satu-dua (oknum) saja. Sepanjang dia memakai transfer elektronik, itu masih bisa kita deteksi. Lagi pula, kasus fraud (penipuan) itu tak begitu banyak dibanding transaksi yang jutaan," tuturnya.***
Bagikan: