Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Umumnya cerah, 21.9 ° C

Cubeacon, Si Kubus Ajaib

Ai Rika Rachmawati
CUBEACON, perangkat pemancar iBeacon produksi PT Eyro Digital Teknologi, Surabaya.*
CUBEACON, perangkat pemancar iBeacon produksi PT Eyro Digital Teknologi, Surabaya.*

BANDUNG, (PR).- Kiprah Tiyo Avianto dkk di Cubeacon dalam babak final Asean ICT Award (AICTA) 2016 tidaklah ujug-ujug, ada proses panjang di dalamnya. 

Semuanya bermula dari pada 2013 lalu, ketika Tiyo dan dua koleganya (Riza Alaudinsyah dan Fariz Yunian) meriset protokol komunikasi yang dirilis Apple yakni iBeacon yang bluetooth low energy.  

Sebagai alumni Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Tiyo merasa tertantang ketika Apple menyampaikan teknologi tersebut dalam WWDC (Worldwide Developer Conference) beberapa tahun silam. Sebab, perusahaan digital itu hanya menyampaikan lini teknologi tanpa mengeluarkan produk. 

"Maka, saya berpikir ini pasti ada peluang bisnis besar di belakangnya. Kami para developer ditantang create aplikasi dan teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan. Akhirnya, berdiri Cubeacon April 2014 dengan bendera PT Eyro Digital Teknologi," kata pria yang kini menjadi CEO Cubeacon tersebut di Bandung, Kamis, 1 September 2016.

Hasil penelitiannya adalah produk dan layanan berbasis layanan backend as a services (BaaS), dan sekaligus menjual perangkat kerasnya. Hasil akhirnya? Memungkinkan pengiriman informasi ke smartphone berdasarkan lokasi tertentu tempat dipasang sensor Cubeacon.

Melalui perangkat berbentuk kubus ini, para pemilik bisnis bisa memberikan informasi/promosi atau diskon ke ponsel konsumen (yang menyalakan bluetooth-nya) otomatis ketika konsumen berada di wilayah pemancar iBeacon radius 100 meter. 

Jika ini dianggap sama dengan pengiriman SMS sejenis, Cubeacon beda. Sebab, sudah menawarkan aplikasi pemrosesan profiling konsumen yang kerap diproses perangkat tersebut, sehingga informasi/promosi bisa dikustomisasi. 

Bahkan, pengelola mall kelak bisa tak lagi bergantung sepenuhnya ke CCTV. Dengan pemasangan Cubeacon, maka akan terlihat blok mana saja yang ramai pembeli dan apa yang laris terjual atau tidak. Maka itu, pengaturan pusat perbelanjaaan bisa dilakukan lebih cerdas dan berbasis data.  

Dalam implementasi di perusahaan/pabrik, si "kubus ajaib" ini tinggal dipasang di pintu masuk. Karyawan tinggal diminta aktifkan bluetooth ponselnya, maka begitu melewati pintu masuk, otomatis tercatat di sistem kehadiran pada peranti lunak. 

Mesin yang bisa berbicara ke mesin ini, sambung Tyo, juga bisa diterapkan di rumah kita. Misalnya perangkat disimpan di pintu gerbang, begitu mendekati, maka bis masuk pesan dari istri ke suami soal menu makan malam yang sudah disediakan. Semuanya terjadi tanpa perlu ketik lagi pesan instan secara manual. 

Lantas, karena temuan Apple, apa hanya untuk iPhone? Jawabannya tidak. 

Ini kompatibel dengan Android dengan saratnya versi OS harus Android 4.3 atau lebih serta memakai chip Bluetooth 4.0. Rata-rata Android seri terbaru sudah mengadopsinya. 

"Teknologi ini difokuskan program loyalitas. Memang di Indonesia masih dianggap belum familiar karena belum terbiasa, makanya kami fokus pasar Jepang yang sudah familiar teknologi iBeacon dan program loyalitas," katanya, seraya mengatakan selain di Surabaya, perusahaan sudah kantor Jepang, tepatnya di Chiba-ken, Ichikawa-shi, Fukuei. 

Selain Jepang, pihaknya sudah menerima pembelian dari Amerika Serikat, Brasil, Singapura, dan tentunya Indonesia. Eyro Digital menawarkan Cubeacon Developer Kit berupa tiga buah Cubeacon Box dan akses ke Cubeacon BaaS gratis selama tiga bulan dengan banderol US$ 90 (Rp 1,1 juta) dan dipromosikan hingga Rp700 ribu-an di laman e-dagang besar di tanah air. Kini, Cubeacon sedang pengembangan produk yang arahnya menjadi reader dari sinyal iBeacon yang dipancarkan.***

 

Bagikan: