Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian cerah, 20.8 ° C

Puskepi Minta Pemerintah Stabilkan Harga BBM

Satrio Widianto
PETUGAS membersihkan lantai di kawasan salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kulalet, Jln. Raya Banjaran, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis 7 Januari 2016. Pascaturunnya harga BBM baik subsidi maupun nonsubsidi pada Selasa 5 Januari 2016, pasokan malah terlambat.*
PETUGAS membersihkan lantai di kawasan salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kulalet, Jln. Raya Banjaran, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis 7 Januari 2016. Pascaturunnya harga BBM baik subsidi maupun nonsubsidi pada Selasa 5 Januari 2016, pasokan malah terlambat.*
JAKARTA, (PR).- Pemerintah diminta memastikan harga bahan bakar minyak terus stabil. Jika terus naik turun, hal itu akan menimbulkan beban bagi rakyat di saat menghadapi puasa Ramadhan, hari Raya Idulfitri, Iduladha dan jelang Natal.

"Konsistensi pemerintah akan berdampak memberatkan beban masyarakat karena itulah lebih dibutuhkan kebijaksanaan yang tepat dari pemerintah," kata pengamat kebijakan energi dari Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria di Jakarta, Senin 28 Maret 2016.

Selama ini pemerintah menggunakan formula harga yang sudah ditetapkan dan akan mengkoreksi harga jual BBM turun atau naik setidaknya tiga bulan sekali. Ini dilakukan dengan menggunakan acuan harga rata rata MOPS dan rata rata kurs rupiah ‎terhadap dolar AS pada tiga bulan terakhir.

Menurut Sofyano, harga minyak dunia sangat anomali. Jika tiga bulan yang lalu rata rata bertengger pada posisi 28-34 dolar Amerika Serikat/barrel, maka saat ini perlahan-lahan telah mendekati posisi 41 dolar AS/barrel.

Dia meminta, demi kepentingan orang banyak, pemerintah tidak harus terpaku dengan formula harga yang sudah ditetapkan. Karenanya, pemerintah sebaiknya tidak menurunkan harga jual BBM sebagaimana ditetapkan dalam formula harga yang sudah disepakati dengan legislatif.

"Penurunan harga BBM dalam jumlah signifikan, katakan sebesar Rp 1.000/liter sekalipun, tidak akan membuat harga harga komoditas lain seperti beras, minyak goreng, cabai, bawang dan lain-lain akan turun. Bahkan, tarif angkutan pun belum tentu turun sebagaimana yang diharapkan rakyat. Artinya, penurunan harga dengan besaran yang harus mengacu kepada rata-rata harga minyak dunia di tiga bulan terakhir, tidak akan memberi manfaat besar bagi lapisan besaran masyarakat," ujar Sofyano.

Pemerintah, kata dia, lebih baik membuat tabungan dari hasil selisih harga jual. Jadi, ketika harus turun tetapi tidak diturunkan sesuai acuan formula harga. Sementara keuntungan yang diperoleh karena turunnya harga minyak dunia lebih baik dimanfaatkan sebagai anggaran cadangan untuk antisipasi ketika harga minyak naik tetapi harga jual BBM tidak dinaikkan.

Selisih harga itu, kata Sofyano, harusnya bisa pula dipergunakan untuk mendukung ketahanan enerji nasional. "Ketahanan energi daerah perlu pula mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dengan membangun infrastuktur energi di daerah dengan guna dana stabilitasi yang diperoleh dari hasil tidak menurunkan sepenuhnya harga jual BBM," katanya.

Karena itu, lanjut dia, jika pemerintah tetap akan melaksanakan penurunan harga jual BBM per 1 april 2016 mendatang,‎ maka Puskepi menyarankan agar penurunan harga jual BBM tersebut tidak lebih dari Rp 500/liter," ungkapnya.***
Bagikan: