Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 28.5 ° C

Waspadai Penipuan Perbankan, Uang Rp 7,5 Miliar Bisa Hilang

Satrio Widianto
JAKARTA, (PRLM).- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang memproses kasus yang dihadapi Hj Syarifah Mujenah Baagil terkait hilangnya tabungan sebesar RP 7,5 miliar yang ditabung di sebuah bank di cabang Banjarmasin. Diduga, ia terbujuk oknum karyawan bank untuk mengalihkan simpanannya menjadi produk tabungan asuransi hingga tidak bisa dicairkan.

"Kasus itu saat ini sudah dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sedang diproses. Seharusnya pihak bank juga tidak boleh lepas tangan. Kerugian nasabah ini seharusnya mendapat ganti rugi. Bank juga harus melindungi para nasabahnya,” kata Director Trust & Trust Lawfirm, Aprillia Supaliyanto dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (26/2/2016).

Menurut Aprillia, nasabah berusia 74 tahun itu sangat shock karena uang yang disimpan tidak bisa dicairkan. Padahal, ia menyimpan uangnya di bank yang saham mayoritasnya dikuasai sebuah pemprov itu, untuk mendapatkan beragam manfaat sebagai bekal untuk mengisi hari tuanya.

Aprillia menambahkan, Syarifah menanamkam uangnya ketika jajaran bank mendatangi rumahnya. Kala itu salah satu unsur pimpinan bank menjelaskan berbagai hal tentang produk-produk yang dimiliki di antaranya tabungan deposito.

Pimpinan bank juga menjelaskan jika menanamkan uangnya maka akan aman dan lebih menguntungkan. Syarifah tercatat sebagai nasabah premium yang diprioritaskan sehingga tidak perlu pergi ke bank untuk melakukan transaksi. Semua pelayanan dilakukan di rumah.

Kedatangan pimpinan bank kemudian ditindaklanjuti oleh pegawainya yang bernama Nurwidyanti. Selama kurun waktu dua tahun, Nur rutin mendatangi rumah Syarifah untuk melakukan berbagai transaksi baik menyetorkan uang maupun mengambil uang.

Sekitar Oktober 2015, Nur kemudian menawarkan produk lain yang dikatakan lebih menguntungkan dan banyak manfaat yakni dana tabungan asuransi. Karena tertarik maka seluruh uang tabungannya senilai Rp 7,5 miliar dialihkan ke tabungan asuransi seperti yang ditawarkan Nur.

Uang senilai Rp7,5 miliar ditempatkan dalam bentuk dana tabungan asuransi yang dipecah menjadi 21 sertifikat asuransi mata Gold. Sertifikat itu atas nama Syarifah dan 3 anaknya yakni Syarifah Mufidah Alydrus, Said M Ishaq Alydrus dan Syarifah Fitriah Alyadrus. Namun ketika akan mencairkan uangnya, pihak bank menyatakan bahwa tidak ada uang milik Syarifah dan 3 anaknya tersebut. “Anehnya, pihak bank menyatakan bahwa urusan uang Syarifah kaitannya dengan Nur dan bukan dengan pihak bank,” tandas Aprillia.

Aprillia menduga kliennya merupakan korban penggelapan yang dilakukan pihak bank. “Buktinya dalam rekening koran ada sejumlah transaksi yang tak dikenal. Kami menduga ada tindakan penggelapan uang dengan menggandakan kartu ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Penggadaan ATM hanya bisa dilakukan orang dalam bank. Apalagi selain klien kami, ada puluhan korban yang mengalami hal sama dengan jumlah total sekitar Rp 30 miliar,” kata Aprillia.

Aprillia sudah melapor ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jakarta pada 11 Februari 2016 lalu. Dikatakan, respon OJK, cukup positif. Direktur Investigasi OJK yang dipimpin Hendra langsung membentuk tim dan terjun langsung ke Kalimantan untuk melakukan pemeriksan terhadap bank dan Syarifah.

Dalam 2-3 hari ke depan pihaknya akan dikabarkan tentang hasil investigasi tersebut. “Harapan klien kami, agar uangnya bisa kembali. Selain itu orang-orang yang terlibat bisa diproses sesuai hukum yang berlaku,” ungkap Aprillia.

Selain ke OJK, Aprillia juga akan melaporkan kasus ini ke polisi. Karena menurutnya, kejahatan perbankan yang dialami kliennya dilakukan secara korporasi, bukan personal seperti yang diungkapkan pihak bank, dalam hal ini kepada Nur. Karena apapun yang dilakukan pegawainya maka atasan yang harus bertanggung jawab. (Satrio Widianto/A-147)***
Bagikan: