Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sebagian cerah, 25.9 ° C

Pengafkiran Dini Bibit Ayam Dihentikan

Nurhandoko
CIAMIS, (PRLM).- Pengafkiran dini bibit ayam atau parent stock (PS) broiler tahap ketiga, sebanyak 3 juta ekor ayam pedaging tidak jadi dilaksanakan. Penghentian pemusnahan tersebut atas dasar permintaan dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

"Afkir dini tahap ketiga sebanyak 3 juta ekor tidak jadi dilaksanakan. Penghentian tersebut setelah ada evaluasi oleh KPPU," kata Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Heri Dermawan, Jumat (19/2/2016).

Dia menjelaskan semula diputuskan pengafkiran dini parent stock diputuskan sebanyak 6 juta ekor. Pemusnahan tersebut dibagi dalam tiga tahap, pertama sebanyak 2 juta ekor, tahap berikutnya 1 juta ekor, dan tahap ketiga sebanyak 3 juta ekor.

"Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi pasokan ayam, sehingga akan dapat mendongkrak harga di pasar. Pengafkiran itu bermula dari keluhan kalangan peternak yang merugi akibat turunnya harga ayam," tuturnya.

Heri Dermawan mengatakan banyak faktor yang mengakibatkan harga ayam dipasar. Misalnya harga pakan atau ransum dan bibit ayam atau DOC. Ransum pakan naik, karena bahan bakunya seperti jagung naik, dan lainnya.

Saat ini, dia menambahkan, ada hal lain yang mengakibatkan naik atau turnnya harga. Ketika harga jagung yang menjadi bahan baku utama ransum ayam naik, tidak menjadi otomatis harga daging ayam ikut naik. Demikian pula, ketika harga DOC naik tidak identik dengan naiknya harga daging ayam.

"Harga ransum dan DOC hanya bagian dari beberapa indikator untuk menaikkan atau menurunkan harga. Sebab kalau pihak perusahaan atau pengusaha bisnis ayam menginginkan naik, otomatis harga akan naik. Jadi faktor lainnya dari sisi pengusaha atau perusahaan," ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Ketua Gopan, Heri Dermawan, saat ini yang dibutuhkan adalah adanya kesimbangan suplay dan demand atau penawaran dengan permintaan. Termasuk adanya kesimbangan antara harga ayam di kandang dengan di pasar. Misalnya ketika harga di kandang Rp 12.000 -13.000 per kilogram, di pasar harganya Rp 21.000 - Rp 22.000. (nurhandoko wiyoso/A-88)***
Bagikan: