Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 31.1 ° C

Sepi Pembeli, Sejumlah Pedagang Daging Berhenti Jualan

Tati Purnawati
SEORANG pekerja sedang memberi pakan ternak peliharaannya di pasar Induk Hewan Bojong Pakuwon, Cideres. Pesanan sapi sejak tiga bulan terakhir turun hingga mencapai 70 persen.*
SEORANG pekerja sedang memberi pakan ternak peliharaannya di pasar Induk Hewan Bojong Pakuwon, Cideres. Pesanan sapi sejak tiga bulan terakhir turun hingga mencapai 70 persen.*
MAJALENGKA,(PRLM).- Sejumlah pedagang daging di Pasar Majalengka dan Kadipaten berhenti berjualan karena lesunya pembeli. Tempat Pemotongan Hewan di Pasar Hewan Bojong Pakuwonpun sudah tiga hari belakangan ini tidak melakukan pemotongan hewan baik sapi ataupun domba.

Di pasar Majalengka tidak lebih dari tiga kios pedagang yang menyediakan daging segar. Selebihnya menjual daging yang telah disimpan di lemari pendingin. Bahkan ada kios yang hanya menyediakan gajih sapi serta beberapa kilogram daging yang sudah beku.

Kondisi tersebut karena lesunya pembeli sehingga daging tidak terjual seluruhnya, penurunan omset penjualan daging ataupun sapi hidup pedaging mencapai 70 persenan. Karenanya banyak palen dan penyuplai daging yang berhenti sementara hingga kondisi harga normal kembali.

Menurut keterangan Dudung salah seorang penjual daging sapi lesunya penjualan daging ini sudah cukup lama dan belakangan banyak pedagang yang terpaksa berhenti mengambil daging baru karena daging lama masih tersisa. “Penjualan daging terus merosot sejak harga mengalami lonjakan hingga Rp 120.000 per kg,” ungkap Dudung.

Mantri Hewan Nana Suhana yang kesehariannya bertugas di Rumah Potong Hewan di Pasar Ternak Bojong Pakuwon mengakui terjadinya penurunan omset pemotongan hewan sejak hampir tiga bulan lalu, kalau biasanya dalam sehari RPH bisa memotong hingga puluhan ekor sapi kini dalam seminggu paling hanya memotong tiga hingga empat ekor sapi saja.

Nana mengatakan, berdasarkan data yang ada, pada Bulan Januari pemotongan sapi dalam sebulan hanya mencapai 50 ekor saja, sebelum Desember setiap hari Rumah potong hewan minimal masih mendapat pesanan pemotongan hingga 9 ekor sapi.

Menginjak Fenruari pemotongan hewan lebih sedikit lagi dalam kurun waktu 16 hari hanya ada 9 ekor sapi yang dipotong. Bahkan tiga hari terakhir tidak ada palen ataupun pedagang daging sapi yang memotong hewan ternaknya. “Ada sejumlah pemasok daging yang biasanya motong di RPH kami kini berhenti melakukan pemotongan, padahal mereka ini penyangga pasar tradisional, Pa Ibro yang biasa memotong hingga 9 ekor per hari kini berhenti, H Beben juga demikian dan beberapa penyplai daging lainnya, sekarang harganya sulit dijangkau,” ujar Nana.

Menurut Nana serta sejumlah pedagang sapi, Padi (46) dan Wata (34) harga sapi potong kini cukup mahal, sehingga bila dijual dalam bentuk daging dan tulang kepada palen akan rugi. Makanya sekarang hampir semua peternak menjual sapi berdasarkan berat tubuh sapi bukan daging.

“Dulu harga sapi bila dihitung kilogramnya hanya mencapai 46.000 per kg, sehingga harga tulang daging bisa dijual seharga Rp 90.000 per kg, sekarang kalau motong sapi jatuhnya harga tulang daging bisa mencapai Rp 103.000 hingga Rp 104.000 per kg, wajar kalau sekarang di tingkat pengecer harga daging mencapai Rp 120.000 per kg, karena di palen sudah lebih dari 100.000 per kg,” ungkap Padi yang sudah puluhan tahun berjualan sapi.

Menurut mereka penjualan daging dan sapi potong kini turun drastis hingga 70 persenan. Padi yang biasanya mampu menjual 3 hingga 4 ekor sapi dalam seminggu kini sudah sepuluh hari belum bisa menjual sapinya, sementara pemeliharaan harus terus dilakukan.
“Sekarang semua penjual ternak rugi,” kata padi.(Tati Purnawati-Kabar Cirebon/A-147)***
Bagikan: