Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 28.5 ° C

Harga Migas Melemah, Badak NGL Lakukan Efisiensi

Satrio Widianto
JAKARTA, (PRLM).- PT Badak Natural Gas Liquefaction atau Badak NGL, perusahaan terbesar di Indonesia di bidang pengolahan gas alam cair dan salah satu kilang LNG terbesar di dunia melakukan efisiensi seiring terus melemahnya harga minyak dan gas dunia. Efisiensi itu bertujuan untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan kinerja perusahaan.

"Di tengah pelemahan harga migas, Badak NGL melakukan efisiensi biaya di berbagai fungsi/departemen dengan tetap mempertahankan reliabilitas (keandalan) dan keamanan kilang LNG. Efisiensi dilakukan antara lain melalui renegosiasi asuransi kilang, inhouse maintenance, in-house dry docking untuk tugboat, renegosiasi pengadaan, in-house traning, dan restrukturisasi organisasi," ungkap Dirut Badak NGL, Salis S Aprillian di Jakarta, Rabu (3/2/2016).

PT Badak NGL adalah perusahaan yang dibentuk pada 26 November 1974 oleh PT Pertamina (Persero), Huffco Inc, dan Japan Indonesia LNG Company (JILCO). Saat ini komposisi pemegang saham Badak NGL adalah Pertamina 55%, Vico Indonesia 20%, Total E&P Indonesie 10%, dan JILCO 15%.

Diungkapkan, pada 2015 Badak NGL, perusahaan di Bontang, Kalimantan Timur itu, membukukan penjualan LNG sebesar 189 standar kargo atau sekitar 10,6 juta metrik ton per tahun. Realisasi penjualan ini adalah sekitar 111% di atas target sepanjang tahun lalu sebesar 170 standar kargo.

Namun, pada 2016 perseroan memproyeksikan penjualan LNG sebesar 147 kargo atau sekitar 8,3 juta metrik ton per tahun, turun dibandingkan realisasi tahun lalu. Penurunan penjualan itu lebih disebabkan oleh berkurangnya pasokan gas alam dari hulu.

Dikatakan, untuk mencapai target penjualan LNG tahun ini, Badak NGL mengalokasikan belanja modal dan operasi sebesar 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,76 triliun. Alokasi belanja modal antara lain untuk untuk modifikasi kilang (interconnecting module 1&2), DCS retrofit, dan lean gas project.

“Kami memang ada maintenance salah satu train, akan tetapi sudah ada back up sehingga kilang tetap bisa beroperasi dengam empat train,” ujarnya.

Selain itu, menurut Salis, Badak NGL menyusun beberapa skenario untuk dapat melanjutkan operasi dalam bingkai yang diberi nama the Second Life Cycle of Badak NGL. Di antara skenario itu adalah masuknya produser baru, yaitu ENI Jangkrik yang memiliki gas kering (lean gas) dan kemungkinan meningkatnya kembali produksi Blok Mahakam pasca-pengalihannya kepada Pertamina.

Pengamat gas, Harry Karyuliarto, mengatakan, dengan turunnya harga minyak mentah dunia dan ditambah kondisi kelebihan pasokan di wilayah Asia Pasifik, pasar LNG tidak menggembirakan, harga LNG internasional otomatis tertekan sangat rendah.

Dalam dunia LNG, kondisi ini sering disebut dengan buyers market. “Ini merupakan kondisi untuk beli LNG. Sayangnya, meskipun kesempatannya ada, infrastruktur domestiknya belum memadai sehingga Indonesia tidak bisa memanfaatkan kondisi tersebut,” katanya. (Satrio Widianto/A-147)***
Bagikan: