Selasa, 7 April 2020

Meriahnya Calung di Tengah Jalan Malioboro

- 22 Februari 2016, 10:11 WIB
WISATAWAN menikmati alunan musik yang dimainkan oleh Calung Funk di Jalan Malioboro, Yogyakarta.*

PRLM - Banyak sebutan yang disandang oleh Yogyakarta. Salah satunya, orang menyebut sebagai kota yang masih menjunjung tinggi adat istiadatnya. Statusnya sebagai sebuah kerajaan pun menambah kekentalan budaya dari kota yang juga disebut sebagai kota pelajar. Sebagai kota budaya, Yogyakarta tidak hanya menyuguhkan apa yang menjadi ciri khas daerahnya saja. Dalam hal seni musik, kota ini memang identik dengan gamelan, keroncong, dan campur sari. Namun jika berkeliling di seputaran Jalan Malioboro akan menemui tiga sampai empat kelompok musisi jalanan yang memainkan alat musik dari bambu. Salah satunya adalah Calung Funk. Calung Funk merupakan kelompok musik yang kerap main di seberang Malioboro Mall. Alat musik yang dimainkan tak hanya yang terbuat dari bambu, namun ada bedug dan perkusi yang membuat suasana menjadi semarak. Kelompok ini terdiri dari enam orang personil, yakni Isti (bedug kecil), Joni (kempul / kentong), Arif (gambang), Didi (bedug bass), Untung (angklung), dan Joni (perkusi). Setiap malam pukul 20.00 sampai 22.00, mereka siap menghibur wisatawan dengan alunan musik khas Banyumas. Perjalanan Calung Funk diawali pada tahun 2008. Saat itu, keenam personel yang berasal dari Purbalingga ini hijrah ke Yogyakarta. Pertama datang ke Jogja mereka tidak langsung main secara menetap di Jalan Malioboro. “Waktu itu masih keluar masuk pasar, ke jalan-jalan, dan ke rumah warga,” ucap Joko, salah satu personel Calung Funk. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk main menetap di Jalan Malioboro. Selain berpindah-pindah tempat, perjalanan Calung Funk pun sempat berganti personel. Personel lama yang sampai saat ini masih bertahan hanya dua orang saja. Sementara keempat orang lainnya memilih untuk kembali ke Purbalingga. Sekarang, posisi tersebut digantikan oleh orang Jogja dan Rawalo. Calung Funk merupakan perintis pengamen calung lainnya. “Pertama kami datang tahun 2008 itu belum ada pemain calung kaya sekarang mbak,” tutur pria berusia 24 tahun ini. Meskipun sempat banyak bermunculan pengamen calung di beberapa perempatan jalan Kota Yogyakarta, Calung Funk tidak menganggap mereka sebagai pesaing. Menurut mereka, setiap orang ada rezekinya masing-masing. Namun memasuki 2016 ini, pengamen calung yang biasa main di perempatan jalanan Kota Yogyakarta kini semakin sulit dijumpai. Joko menduga jika hal tersebut terjadi karena penertiban yang dilakukan oleh pemerintah. Memang, saat ini sedang beredar isu jika pengamen jalanan merupakan salah satu bentuk pengemisan berkelompok sehingga mengganggu pengguna jalan. “Ya kalau memang mengganggu ada baiknya diberikan tempat baru sebagai solusinya. Jadi tidak hanya dirazia saja,” jelasnya. Kehadiran pemain calung di beberapa perempatan jalan menimbulkan pro dan kontra. Beberapa pihak merasa jika kehadiran mereka justru menghibur saat bosan menunggu lampu merah. Sementara yang lainnya merasa terganggu. “Kalau berhentinya pas di deket mereka itu suaranya keras sekali. Jadi kadang ganggu juga sih,” jelas Alex, yang ditemui di Jalan Sudirman. Sampai saat ini Calung Funk tidak pernah terkena penertiban yang dilakukan oleh pemerintah. Hal tersebut terjadi karena Calung Funk dan beberapa kelompok lain yang biasa main di Jalan Malioboro sudah legal. Mereka sudah mendapatkan kartu identitas secara resmi dari pihak pariwisata setempat. “Waktu itu sempet dikabarin akan ada razia dan kami diminta buat mengumpulkan KTP. Ternyata itu untuk diberikan ID. Jadi kami aman dari razia sampai sekarang,” ucapnya. Malioboro sendiri merupakan salah satu ikon dari Jogja. Bahkan orang mengatakan kalau ke Jogja namun tidak ke Malioboro, berarti belum ke Jogja. Tidak tahu siapa yang pertama kali mengatakannya, namun Malioboro seakan sudah menjadi tempat wajib bagi wisatawan. Kehadiran Calung Funk dan kelompok lainnya membuat suasana Malioboro menjadi ramai di malam hari. Wisatawan yang berkeliling Jalan Malioboro kadang berhenti sejenak saat melewati kelompok pemain calung. Beragam cara wisatawan menikmati alunan musik tersebut. Ada yang merekam penampilan mereka, ada yang hanya diam saja, bahkan ada yang menari di depan para pemain calung. “Buat saya, kehadiran pemain calung sangat menghibur apalagi mereka mainnya bagus. Sama sekali tidak terganggu karena malioboro sudah menjadi landmark kesenian Jogja,” tutur Aldi, wisatawan asal Bekasi yang saat itu sedang melihat pertunjukan Calung Funk. Setelah delapan tahun merintis sebagai musisi jalanan, bisa disebut Calung Funk sudah diundang main di mana-mana. Hotel dan institusi pemerintahan maupun pendidikan merupakan tempat yang paling sering mengundang mereka. Tak jarang mereka mendapat undangan main di luar Yogyakarta seperti Magelang, Wonosobo, Kalimantan, dan Bali. Sempat pula mengisi program acara di RCTI dan Dangdut Academy di Indosiar. Saat ini, mereka memiliki misi untuk melestarikan kesenian tersebut karena di Banyumas sendiri, kesenian ini sudah tidak lagi diminati. Hal tersebut tentu menjadi keprihatinan bagi personil Calung Funk. Bahkan dengan senang hati mereka akan mengajarkan jika ada yang berminat untuk belajar. “Ya kalau sekarang sambil mencari uang sambil menghibur dan melestarikan budaya mbak,” ucapnya. (Yohana Tika-mgg UAJ/A-88)***


Editor: Dikdo Maruto

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X
x