Tangis Ulama Pecah Atas Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Gus Miftah: Apa yang Kita Bela?

- 2 Oktober 2022, 11:35 WIB
Ilustrasi kerusuhan Aremania di BRI Liga 1 kontra Persebaya, simak kronologi versi Kapolda Jatim Nico Afinta.
Ilustrasi kerusuhan Aremania di BRI Liga 1 kontra Persebaya, simak kronologi versi Kapolda Jatim Nico Afinta. /ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

PIKIRAN RAKYAT – Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu malam 1 Oktober 2022 menjadi peristiwa paling kelam dalam sejarah sepakbola Indonesia.

Ratusan nyawa melayang dalam tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, tercatat 129 orang dikabarkan harus meregang nyawa.

Tragedi yang terjadi usai Arema FC kalah dari Persebaya Surabaya 2-3 itu harus dibayar mahal dengan kengerian yang merenggut ratusan nyawa.

Walhasil, tragedi berdarah itu menjadi sorotan tak hanya publik sepakbola Indonesia tetapi juga masyarakat luas secara umum.

Baca Juga: Meski Dilarang FIFA, Polisi Tetap Tembakkan Gas Air Mata saat Kericuhan di Kanjuruhan, Netizen: Nggak Lucu!

Tak terkecuali ulama kelahiran Lampung, 5 Agustus 1981, Gus Miftah turut menyoroti peristiwa tragis tersebut.

Melalui unggahan di media sosial Tik Tok @gusmiftah99, ulama lulusan Pesantren Tegalsari, Ponorogo itu menangis mendengar banyaknya korban nyawa yang hilang.

“Inalillahi wainalillahi rojiun, tidak layak kiranya nyawa melayang gara-gara sepakbola, apa yang kita bela? Sepakbola bukan agama, kenapa harus kembali terjadi begitu banyak orang kehilangan nyawa hanya gara-gara sepakbola,” kata Gus Miftah.

Gus MIftah pun mengajak semua pihak untuk memberikan Al Fatihah kepada seluruh korban yang tewas di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Halaman:

Editor: Rahmi Nurfajriani


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x