Sabtu, 30 Mei 2020

Krisis Virus Corona, Klub dan Pemain Liga Inggris Belum Sepakat Soal Pemotongan Gaji

- 4 April 2020, 09:20 WIB
LIGA Inggris /Premiere League
PIKIRAN RAKYAT - Pandemi virus corona COVID-19 bukan sekadar menghentikan kompetisi sepak bola global, namun juga memukul perekonomian industri sepak bola. Pemotongan gaji pemain hingga karyawan klub terpaksa dilakukan, namun di Inggris, pemotongan gaji pemain belum mencapai kesepakatan.
 
Asosiasi Pemain Profesional Inggris (PFA) meminta pemain menunda pemotongan gaji dari klub karena sampai saat ini belum ada kesepakatan final dengan klub-klub Inggris. Sama seperti kompetisi olahraga lainnya di berbagai belahan bumi, Liga Premier Inggris juga terpaksa ditangguhkan sampai waktu tidak ditentukan lantaran pandemi virus corona.
 
Terhentinya roda kompetisi berimbas pada memburuknya keuangan klub lantaran tidak ada pemasukan. Akibatnya, klub-klub Inggris harus melakukan penyesuaian pengeluaran terutama terkait gaji elemennya.
 
 
Namun berbeda dengan klub-klub liga lain seperti Barcelona, Juventus, dan Atletico Madrid yang memotong gaji pemainnya, sejauh ini klub-klub Liga Inggris justru memangkas upah staf alias bukan pemain atau pelatih.
 
Pemangkasan gaji staf itu sudah dilakukan Tottenham Hotspur, Newcastle United, dan Norwich City. Kebijakan tersebut menuai kritik banyak pihak termasuk Pemerintah Inggris yang menilai langkah tersebut tidak bijak. Pasalnya, justru para pemainlah yang memiliki gaji besar sehingga seharusnya tidak masalah jika dipotong minimal 20 persen.
 
PFA sebagai asosiasi para pesepak bola profesional di Inggris dari level Liga Premier sampai League Two merespons kritik itu. Para pemain, menurut PFA, bukannya menolak pemotongan gaji oleh klub. Namun sejauh ini memang belum ada pembicaraan lebih lanjut dan kesepakatan dengan pihak klub.
 
 
"Berlawanan dengan yang diberitakan media, PFA tidak pernah meminta para pemain menolak pemotongan gaji. Apa yang masih kami bicarakan saat ini adalah mencari metode yang terstruktur dan padu agar semua klub mendapatkan keadilan," demikian pernyataan resmi PFA
 
"Para pemain sudah bicara kepada kami bahwa staf non-sepakbola itu sangat vital untuk klub dan mereka tidak ingin adanya pemotongan yang tidak adil. Tidak adil tentunya untuk masyarakat luas jika kami menggunakan dana bantuan pemerintah," ujar PFA.
 
Oleh karena itu, dalam pernyataannya PFA mengatakan akan mengadakan pembicaraan lebih lanjut dengan Asosiasi Manajer Inggris (LMA), Liga Premier, dan juga FA terkait mekanisme penyesuaian gaji. PFA juga ingin mengetahui kondisi keuangan klub masing-masing. 
 
 
"Kami menerima bahwa pemain harus mau bersikap adil dan meringankan beban keuangan klub akibat COVID-19 demi kelangsungan masa depan mereka dan juga olahraga ini. Kami menyarankan kepada para pemain untuk menerima kenyataan ini," katanya.
 
PFA juga meminta klub yang secara finansial dalam kondisi sehat untuk tetap membayar penuh gaji pemain dan seluruh stafnya. Sejauh ini baru tim Leeds United yang secara sukarela dipotong gajinya demi menyehatkan keuangan klub di saat pandemi corona.
 
Klub-klub Championship dan lainnya dibuat babak belur akibat terhentinya kompetisi karena mereka sangat mengandalkan pemasukan dari tiket pertandingan dan merchandise untuk menggerakkan roda perekonomian klub. Leeds sebagai salah satu klub mapan di Championship harus menyeimbangkan kasnya demi bertahan lantaran pandemi COVID-19 diperkirakan bisa berlangsung lama.
 
 
Karena itu pula, para pemain, staf pelatih termasuk manajer Marcelo Bielsa, dan juga petinggi klub secara sukarela menerima pemotongan gaji dalam beberapa bulan ke depan. 
 
Kebijakan tersebut membuat Leeds bisa menyelamatkan sebanyak 272 staf non-sepakbola seperti karyawan klub serta stadion bisa tetap gajian dan selamat dari PHK.
 
"Leeds United mengonfirmasi bahwa para pemain, staf pelatih, dan manajemen senior rela dipotong gajinya ke depan demi memastikan staf non-sepakbola di Elland Road dan Thorp Arch (fasilitas latihan) bisa tetap gajian, sekaligus menjaga roda bisnis agar tetap berjalan di saat-saat sulit seperti ini," ujar pernyataan resmi Leeds United.
 
 
"Tidak adanya pertandingan, banyaknya event yang dibatalkan, sangat berdampak kepada pemasukan klub, dan klub terbebani dengan pengeluaran klub yang mencapai jutaan paun per bulannya," ujar klub Leeds.
 
Sebelum kompetisi ditangguhkan, Leeds merupakan favorit untuk promosi ke Liga Premier Inggris musim depan. Mereka memuncaki Championship berkat 72 poin dari 37 laga, unggul satu poin dari West Bromwich di posisi kedua.***

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X