Jumat, 29 Mei 2020

Dampak Virus Corona, Klub-klub Kecil Liga Italia Terancam Gulung Tikar

- 22 Maret 2020, 15:49 WIB
ROMELU Lukaku mengaku harus ikut turun tangan dalam menghadapi kasus rasialisme yang banyak menimpa Liga Italia.* /Instagram @romelulukaku

PIKIRAN RAKYAT - Besarnya biaya operasional yang harus ditanggung setiap klub profesional dunia akibat terhenti kompetisi akibat dampak pandemi virus Corona (Covid-19), membuat mereka memikirkan beberapa solusi. Salah satunya di Liga Italia.

Klub-klub di Serie A Italia berharap para pemain mereka rela dipotong gajinya dalam masa krisis akibat wabah virus corona. Sebab dalam kondisi tanpa pemasukan, klub mesti membayar gaji pemain secara penuh.

Tim-tim kaya seperti Juventus dan Inter Milan mungkin tak bermasalah dengan ini. Namun klub-klub kecil terancam gulung tikar bila tetap mengeluarkan uang tanpa pemasukan dalam kas mereka.

Baca Juga: Ridwan Kamil Beberkan Alasan Rapid Test Virus Corona Diadakan di Tiga Stadion Jawa Barat

Opsi pemotongan gaji ini mengemuka dalam konferensi antarklub Serie A, Sabtu 21 Maret 2020 WIB. Seperti yang dilansir AS, para pemain diharapkan mengorbankan upah mereka pada Maret untuk meringankan situasi.

Langkah ini perlu diratifikasi oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan Asosiasi Pesepak Bola Italia (AIC) untuk mendapatkan legalitas dan dukungan menyeluruh.

Opsi ini sebenarnya sudah dipikirkan klub lain. Barcelona, misalnya, dilaporkan mempelajari pemotongan gaji pemain dan staf selama pandemi Covid-19. Sementara para pemain Borussia Moenchengladbach secara suka rela meminta pemotongan gaji untuk meringankan beban klub.

Baca Juga: Senin 23 Maret 2020, Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Siap Beroperasi

Krisis Covid-19 di Italia telah membuat penyelesaian Liga Italia tak pasti dan menyebabkan masalah keuangan yang signifikan untuk beberapa klub yang kurang mampu.

Dalam skenario kasus terbaik, FIGC memperkirakan pertandingan kompetitif dapat dimulai kembali pada 10 Mei, yang akan memungkinkan musim untuk diselesaikan sebelum 30 Juni.

Namun jika musim 2019/20 dibatalkan secara definitif, perkiraan kerugian sepak bola domestik Italia akan mencapai sekitar 800 juta euro. Klub-klub kecil menghadapi ancaman gulung tikar jika program bail-out pemerintah tidak disetujui. Program ini kemungkinan tak disetujui mengingat prioritas lain membereskan pandemi Covid-19 di Italia.

Baca Juga: Pengemudi Ojek Online Meninggal di Kamar Kos, Jenazah Diperlakukan Sesuai Protokol Covid-19, Sampel Dikirim ke Kemenkes

Dalam konferensi ini, juga dibahas tentang opsi menyingkat kompetisi. Hanya, gagasan play-off untuk juara dan play-out untuk tim degradasi tidak populer di antara klub.

Ketika klub bisa kembali ke pelatihan juga dibahas pada Jumat setelah Lazio menyatakan mereka ingin para pemainnya kembali berlatih pada Senin 23 Maret 2020.

Menolak Potong Gaji

Sementara itu, lantaran menolak pemotongan gaji dalam klausul kontrak terbaru, dua mantan penggawa Arsenal, Alex Song dan Johan Djourou, dipecat oleh salah satu kontestan Liga Super Swiss, Sion. Song dan Djourou termasuk dalam sembilan pemain yang akhirnya dipecat Sion.

Baca Juga: Dokter di Inggris Ceritakan Horor yang Ia Hadapi Saat Tangani Pasien Virus Corona: Andai Saja Aku Bisa Melupakan Wajah-wajah Sekarat Itu..

Selain Djorou dan Song, Sion juga memecat gelandang timnas Swiss, Pajtim Kasami dan penyerang asal Pantai Gading, Seydou Doumbia. Bahkan, kapten Sion, Xavier Kouassi, juga termasuk dalam daftar pemain yang dipecat oleh klub yang bermarkas di Stadion Tourbillon tersebut.

''Manajemen klub menyebut, pemain-pemain tersebut tidak mau menandantangi kontrak baru, termasuk pemotongan gaji, di tengah-tengah penundaan kompetisi domestik,'' tulis keterangan Reuters.

Langkah pemotongan gaji pemain ini terpaksa dilakukan Sion untuk menghindari kerugian yang lebih besar dalam neraca keuangan klub menyusul penundaan Liga Super Swiss sebagai antisipasi penyebaran virus covid-19.

Baca Juga: 5 Tips Menjaga Romansa dalam Hubungan LDR, Salah Satunya Buat Daftar Rencana Perjalanan

Sebelumnya, otoritas penyelenggara Liga Swiss memang menghentikan kompetisi sejak awal Maret lalu. Hal ini sejalan dengan rekomendasi Pemerintah Swiss, yang melarang kegiatan olahraga yang dihadiri lebih dari seribu orang.

Salah satu dampak yang muncul pasca-penundaan kompetisi ini adalah efek finansial terhadap klub. Kehilangan pemasukan, terutama dari penjualan tiket, klub mulai kepayahan untuk menutupi biaya operasional dan gaji pemain. Kondisi ini yang akhirnya mulai menimpa Sion.

Saat Liga Super Swiss dihentikan, Sion masih terpuruk di peringkat kedelapan dari 10 kontestan Liga Super Swiss. Sion hanya terpaut empat poin dari zona degradasi. Pada musim ini, Liga Super Swiss masih menyisakan 13 pekan lagi.***

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X