Jumat, 6 Desember 2019

Soekarno, Singa Podium Berlidah Sakti

- 17 September 2019, 14:21 WIB
SOEKARNO,*/DOK. SOBAT BELIA

SIAPA yang tak kenal sosok Soekarno? Beliau merupakan presiden pertama Indonesia, yang juga dikenal sebagai The Founding Father. Hingga detik ini, beliau masih menjadi tokoh yang dikagumi banyak orang. Dengan berbagai keahliannya, ia mampu membawa Indonesia menuju perubahan. Tak sedikit keahlian yang dimiliki oleh Soekarno. Yang ketara terlihat dalam dirinya adalah kemampuan berkomunikasi yang luar biasa. Dengan lidahnya yang sakti, ia mampu membakar semangat rakyat Indonesia yang kala itu tengah dibelenggu penjajahan. Tak heran jika beliau dijuluki Singa Podium. Berikut rangkuman singkatnya yang berhasil dikutip Belia dari beberapa sumber.

Soekarno, Sang Singa Podium

Orasinya yang ia berikan di atas podium mampu membangun kembali semangat para pemuda yang kala itu runtuh. Pantas saja bila beliau dijuluki sebagai singa podium, suaranya yang menggelegar mampu membangunkan semangat para pemuda yang terlelap. Sookarno yang dikenal sebagai sosok yang terbuka ini menggunakan pola komunikasi berkonteks endah, namun tegas. Apa yang beliau bicarakan pun apa adanya, sehingga dengan mudahnya membuat lawan bicaranya mengerti apa yang hendak ia sampaikan. 

Pada masanya, Soekarno merupakan sosok yang begitu disegani. Pria yang lahir di Kota Surabaya pada 06 Juni 1901 ini memiliki nama asli Koesno Sosrodihardjo. Konon katanya, karena nama yang diberikan padanya tidak cocok, sehingga menyebabkan dirinya sakit-sakitan, maka namanya diganti menjadi Soekarno. 

Soekarno lahir dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Pertemuan kedua orang tuanya terjadi saat ayahnya menjadi seorang guru di Bali, dan ibunya merupakan bangsawan Bali. Sejarah mencatat bahwa semasa kecilnya ia tidak tinggal bersama orang tuanya di Blitar, melainkan bersama kakeknya yang bernama Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur. Ia bahkan sempat bersekolah disana, hingga kemudian ikut pindah bersama orang tuanya ke Mojokerto. 

Di Mojokerto, ia di sekolahkan di Eerste Inlandse School, dimana ayahnya juga bekerja disitu sebagai guru. Namun, pada tahun 1911 ia dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS), yang setingkat dengan sekolah dasar dan dipersiapkan masuk ke Hogere Burger School (HBS) di Surabaya. Setelah tamat dan kemudian bersekolah di HBS, Soekarno kemudian tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau H.O.S Tjokroaminoto, yang merupakan kawan dari ayahnya. 

Setelah melalui berbagai macam rangkaian pendidikan, ia tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, tangguh, dan memiliki ketertarikan yang begitu tinggi dalam dunia perpolitikan. Hal tersebut tercerminkan pada usahanya dalam mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) yang kemudian menjadi cikal bakal dari Partai Nasional Indonesia (PNI), yang berdiri pada 4 Juli 1927. Disinilah Soekarno mengamalkan Maerhaenisme yang selama ini ia pelajari, dengan menyisipkan tujuan pendirian partai, agar bangsa Indonesia bisa melepaskan diri dan merdeka dari jajahan Belanda. 

Dari keberanian Soekarno ini, kemudian pemerintah kolonial Belanda menangkapnya di Yogyakarta dan memasukannya ke penjara Banceuy di Bandung. Kemudian, tahun 1930, Soekarno dipindahkan ke Penjara Suka Miskin. Dalam penjara ini, semua kebutuhan hidupnya berasal dari istrinya, Inggit Ganarsih, yang dinikahi Soekarno pada tahun 1923, setelah ia menceraikan Siti Oetari. Berdasarkan beberapa sumber, Soekarno dikenal sebagai tahanan yang mampu mempengaruhi orang lain dalam tahanan agar dapat berpikir dengan bebas dan merdeka.

Kehebatan komunikasi Soekarno


Halaman:

Editor: Ari Nursanti

Tags

Komentar

Terkini

X