Rabu, 22 Januari 2020

[BELIA] Beethoven Tetap Berkarya Usai “Masa Sunyi”

- 12 Juli 2019, 11:27 WIB
BEETHOVEN.*/DOK. DW.COM

TAHUKAH kamu? Komponis terkemuka di dunia, Ludwig van Beethoven ternyata memiliki masalah dengan pendengarannya? Siapa sangka ternyata Beethoven memiliki gangguan pendengaran yang cukup mengganggu performanya dalam berkarya. 

Sebagaimana dirangkum dari Sejarah Musik 2: Musik 1970 sampai dengan akhir abad ke-20, karya McNeill, D. J. (1998); Artikel Harian Umum Pikiran Rakyat (6 Januari 1991, halaman 5) berjudul Mengapa Beethoven Menderita Tuli; dan Ensiklopedi Umum karya Pringgodigdo, P. M. (1973), mengisahkan perjalanan Beethoven saat menghasilkan karya-karya besarnya hingga deritanya saat ia ditimpa penyakit yang mengganggu pendengarannya. 

Ludwig Van Beethoven, lahir dari keluarga yang berkecimpung dalam dunia permusikan. Kakeknya, Ludwig (Louis) Van Beethoven, merupakan seorang penyanyi dan pemimpin musik di Gereja Kecil Istana Bonn. Johann Van Beethoven, ayahnya merupakan seorang penyanyi tenor di tempat yang sama. 

Beethoven yang sedari kecil akrab dengan musik, dilatih berbagai macam cara menggunakan alat musik. Ia berguru pada beberapa komponis, bahkan pada tahun 1787, bertepatan dengan musim semi, ia dikirim untuk menemui komponis agung dunia, Mozart.

Potensi besar yang dimiliki oleh Beethoven membuatnya ditunjukkan oleh hasil karyanya pada awal tahun 1770, ditengah kondisi keluarganya yang sedang kacau setelah kematian ibunya dan karena ayahnya yang seringkali mabuk-mabukan. 

Situasi dan kondisi yang ia hadapi sedikit banyaknya memberi warna pada karya kreasinya –menggebu-gebu, dan memiliki emosi yang mendalam. Sejak saat itu, ia terus menciptakan karya hingga menyelenggarakan konser pertamanya pada 2 April 1800-an. 

Dalam sunyi Beethoven tidak tenggelam

Bagai dipukul palu godam, ditengah puncak keberhasilannya, pada pertengahan tahun 1802 ia ditimpa otosklerosis. Otosklerosis merupakan sebuah penyakit yang menyerang telinga bagian tengah, yang ditandai dengan tumbuhnya tulang secara abnormal yang mempengaruhi tulang stapes kecil, sehingga tak mampu menghantarkan suara. 

Sumber lain menambahkan bahwa ia mengidap sarkoidosis, yang mampu membuat seluruh anggota tubuh meradang dan dianggap paling menonjol menjadi penyebab ostosklerosis-nya. Perkembangan teknologi kesehatan yang belum modern pun menjadi sebuah kendala yang mempersulit kesembuhan penyakitnya.

Penyakit yang sebetulnya sudah ia rasakan dari tahun 1796, saat usianya sekitar 26 tahunan ternyata merupakan sebuah penyakit degradatif yang terus menggerogoti saraf pendengarannya. Depresi dirasakannya. Banyak permasalahan yang timbul akibat masa sunyi ini. 

Halaman:

Editor: Gugum Rachmat Gumilar

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X