Jumat, 13 Desember 2019

[BELIA] Chat: The Panturas - Berselancar di Dunia Maya Bersama The Panturas

- 22 Maret 2019, 12:00 WIB
THE Panturas.*/DOK.

BAGI kalian penggemar musik indie, pasti kalian langsung tau ketika mendengar namanya. Bagi yg belum, belia mau ngajak kalian berkenalan dengan grup band ini. Langsung simak aja, yuk! Namanya The Panturas. Kalo orang yang baru denger namanya, mungkin akan mengira kalau The Panturas adalah grup musik dangdut. Tetapi, The Panturas adalah sebuah band yang beraliran surf rock. Surf rock merupakan sebuah subgenre dari musik rock yang sangat populer di California, Amerika Serikat pada 1962-1964.

The Panturas  terbentuk di Jatinangor, Kabupaten Sumedang pada 2016. Personilnya ada empat orang dan semuanya adalah alumni Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, yaitu Surya Fikri atau Kuya (Drum), Rizal (Gitar), Bagus Gogon (Bass), dan Abyan alias Acin (vokal). Nama The Panturas sendiri merupakan hasil plesetan dari salah satu band asal Amerika yang berjaya pada 1960-an, The Ventures.

Setelah dua tahun ‘berselancar’ ke pelbagai kota di Indonesia, seperti Bandung, Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, The Panturas akhirnya melahirkan album pada 2018. Album yang diberi nama Mabuk Laut, berisikan tujuh lagu hasil karya sendiri serta satu buah lagu cover. Ketika mendengarkan album ini, sobat Belia diajak untuk merasakan suasana pesisir pantai dan cerita di dalamnya. Seru banget, deh!

Nah setelah berkenalan dengan karya-karyanya, sekarang kenalan sama The Panturas lebih dalam lagi, khususnya di dunia media sosial. Melalui akun @thepanturas di Twitter, mereka sering mengomentari banyak hal. Mulai dari video atau thread yang sedang rame hingga beropini mengenai persoalan yang terjadi di negeri.

Opini yang keluar dari admin akun @thepanturas merupakan hasil buah pikir bersama antara manajemen dengan para personil. Menariknya lagi, saat mengomentari pelbagai hal, akun @thepanturas mengaku mempunyai sebuah nama, yaitu Abdullah. Abdullah ini adalah karakter fiksi ciptaan The Panturas sebagai pengganti admin atau mimin yang seringkali digunakan oleh akun-akun lain.

“The Panturas sebagai sebuah band berusaha untuk tetap selalu berada dalam frame. Kendalanya adalah apabila terus-terusan membahas musik atau kegiatan kami yang tidak menarik ini, kami tidak akan selalu berada dalam frame dan menjadi top of mind,” ujar Abdullah saat diwawancarai by email terkait alasan sering beropini di Twitter.

Hal tersebut tentu mengundang para netizen yang budiman untuk mengomentari berbagai opini, khususnya terkait kebijakan pemerintah. Abdullah menanggapi ini dengan santai. Katanya, selama ini kami menyuarakan hal yang benar dan urgensi yang jelas.

“Toh, harga senar gitar kita saja hasil kebijakan pemerintah. Mau ngga mau ya ikut membantu mengawasi pemerintah. Santai saja, semua berhak beropini,” jawab Abdullah.

Geliat The Panturas di media sosial gak hanya di Twitter saja. Selain vlog yang isinya adalah pengalaman dan cerita saat konser ke pelbagai tempat, kini di kanal YouTube mereka mengenalkan konten baru dengan judul Bully Gear. Hmmm…kalian pasti sudah menebak-nebak, ya!


Halaman:

Editor: Syauqy Lukman

Tags

Komentar

Terkini

X