Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 29 ° C

Mengenang Jasa Abadi Bapak dan Ibu Kasur, Mendidik Melalui Lagu

Sobat Belia
PAK Kasur dan Bu Kasur.*/DOK. ILUSTRASI SOBAT BELIA
PAK Kasur dan Bu Kasur.*/DOK. ILUSTRASI SOBAT BELIA

“Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru. Meletus balon hijau, Dor?! Hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat, ku pegang erat-erat. “

Kalimat diatas pasti dibaca bernada oleh Sobat Belia, betul enggak? Bukan hal yang aneh sih, Sobat sekalian tentunya akrab betul dengan kalimat lagu diatas. Yup! “Balonku” merupakan salah satu dari sekian banyak lagu yang menemani masa kecil Sobat Belia, bahkan jutaan anak Indonesia, hingga detik ini. Masih ingatkah kamu dengan pencipta lagu tersebut? 

Soerdjono a.k.a Pak Kasur 

“Balonku” merupakan salah satu judul lagu dari kurang lebih 140 lagu yang diciptakan oleh Soerdjono. Sosok yang berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah ini lahir pada 26 Juli 1912. Ia mengenyam pendidikan di sekolah Hollandsh-Inlandsche School (HIS) yang setingkat dengan pendidikan sekolah dasar. Kemudian melanjutkannya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah zaman kolonial yang setingkat dengan sekolah menengah pertama. 

Usai bersekolah di MULO, ia tak mampu melanjutkan sekolahnya. Nasib baik, ia dibiayai dana sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke Hollandsche Indische Kweekschool (HIK), yang merupakan pendidikan resmi yang harus ditempuh seseorang yang ingin menjadi guru. Saat itu juga, ia memulai karirnya dengan menjadi pemandu pramuka dan pemandu acara untuk anak-anak yang berjudul “Taman Indria” di Televisi Republik Indonesia (TVRI). 

Saat menjadi pemandu pramuka, ia biasa disapa Kak Soer. Panggilan ini kemudian melekat pada dirinya, bahkan setelah menikah dengan istrinya, Sandiah, yang merupakan mantan pegawai Kantor Keresidenan Priangan yang ia temui di Bandung. Hingga kemudian ia dipanggil, dengan sapaan “Pak” namun masih  menggunaan sapaan lamanya, “Kak Soer” yang lama-lama disebut menjadi “kasur”. 

Idola yang aktif berbagi

Dikutip dari beberapa sumber, singkat cerita, dikisahkan bahwa Pak Kasur menjadi idola anak-anak dan mulai dikenal luas setelah ia menjadi pengasuh dalam siaran anak di Radio Republik Indonesia (RRI). Ketenarannya ini bahkan menyebar hingga ke luar negeri. Ia sempat diundang ke beberapa negara untuk mengisi acara yang berkaitan dengan anak dan pendidikan. Ia juga turut membagikan pengalamannya saat mengajar anak-anak di Indonesia. 

Saat di Belanda, ia mengunjungi salah satu sekolah yang mengajarkan kemandirian pada siswanya sejak dini. Siswa disana mampu melakukan berbagai macam kegiatan tanpa dibantu. Hal ini menjadi sebuah ketertarikan sendiri bagi Pak Kasur. Ia merasa telah menemukan apa yang selama ini ia bicarakan dan bagikan mengenai sistem pendidikan anak. 

Kreatif dalam pengajaran

Membuktikan kecintaannya terhadap pendidikan, ia tak pernah kehabisan akal untuk mencari metode pengajaran bagi anak-anak. Dirangkum dari buku karya Agus Ds yang berjudul “Tips Jitu Mendongeng”, Pak Kasur menggunakan sebuah metode belajar, dimana siswa tak hanya sekadar diberikan penjelasan, namun memperlihatkan visualisasi dan menjelaskan arti dari penjelasan tersebut. 

Pernah pada satu waktu ia mengajar membaca. Saat itu ia tidak hanya sekadar mengajar membaca, namun menjelaskan arti dari apa yang ia bacakan. Saat ia membacakan kalimat, “kucing di bawah meja”, ia membawa seekor kucing yang kemudian ia letakkan di bawah meja untuk memberikan pengertian “di bawah”. Begitu pula sebaliknya, saat kalimat “kucing di atas meja” dibacakan, ia menaruh kucing tersebut diatas meja.

Bapak dan Ibu Kasur, jasamu abadi

Menciptakan lagu dengan lirik yang singkat dan mudah dipahami ternyata tak hanya menjadi keahlian Pak Kasur saja. Istrinya, Bu Kasur juga turut menciptakan kurang lebih 20 lagu. Salah satu judul lagu yang diciptakan oleh Bu Kasur adalah “sayang semuanya”. Keahliannya dalam berkreasi tak lepas dari peran sang suami, yang ternyata senantiasa membimbing dan melibatkan dirinya dalam acara-acara anak yang dipandunya. 

Sekitar tahun 1990-an, Bu Kasur tampil menjadi pembawa acara dalam stasiun televisi swasta RCTI, dengan membawakan acara “Hip Hip Ceria”. Dedikasinya yang tinggi terhadap pendidikan mendorong kedua pasangan ini membangun Taman Kanak-kanak Mini di Jakarta, yag kelak melahirkan tokoh-tokoh terkenal di Indonesia. Megawati Soekarnoputri merupakan salah satu lulusan Taman Kanak-kanak yang mereka dirikan. 

Sekitar tahun 1992, Pak Kasur wafat. Dan pada tahun 2002, tepatnya tanggal 22 oktober, Bu Sur wafat akibat terserang stroke yang sudah lama diidapnya. Ia dimakamkan disamping pusara sang suami. Indonesia kehilangan sosok yang berdedikasi tinggi dalam dunia pendidikan, dan dunia lagu anak –sosok legendaris yang mendidik melalui cara yang asyik, dan tentunya tak akan pernah bisa tergantikan ya Sobat Belia!(JT-Muthi’ah ‘Aabidah)***

Bagikan: