Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Cerah, 28.3 ° C

[BELIA] Mengenal Lebih Dalam Soal Buteyko, Teknik Pernapasan dengan Plester Mulut

Tim Pikiran Rakyat
INSTAGRAM @andienaisyah.*
INSTAGRAM @andienaisyah.*

SOBAT Belia, kamu ingat enggak kalau beberapa waktu lalu, jagat Instagram sempat dihebohkan oleh postingan foto Instagram story penyanyi jazz wanita kenamaan di Indonesia? Bukan apa-apa, di fotonya, ia terlihat menutup mulutnya dengan plester. Hmm.. Kira-kira, kamu tahu gak siapa penyanyi yang dimaksud? Ya, ialah Andien Aisyah. 

Dianggap unik dan berbeda, apa yang Andien lakukan ini sontak menimbulkan tanda tanya netizen “Negara Berflower”. “Huaa, ternyata banyak yang nanyain foto isengku semalam sebelum tidur.. kenapa diplester?”  begitu caption yang ia tulis di bawah fotonya. Sebenarnya apa sih yang Andien lakukan? Apa manfaat dan risikonya bagi kesehatan? Yuk kita bahas sama-sama!

Buteyko Breathing Technique

Kegiatan yang ditampilkan di “Foto iseng” yang Andien posting ternyata merupakan sebuah latihan pernapasan melalui hidung, yang dinamakan Buteyko Breathing Technique. Dilansir dari website sciencebasedmedicine.org, Buteyko Breathing Technique atau teknik bernapas Buteyko, merupakan sebuah teknik pengobatan untuk penyakit asma. Teknik ini pertama kali muncul sekitar tahun 1952 di Rusia. 

Ditemukan Pavlovich Buteyko

Konstantin Pavlovich Buteyko, adalah sosok di balik teknik pernapasan ini. Penemuannya terbilang unik nih Sobat Belia, karena berasal dari “ilham” dan pengalaman yang ia dapatkan saat ia menatap langit malam bercahayakan bintang. Saat itu, Buteyko sedang merenungkan penyakit hipertensi parah yang di idapnya pada usia muda juga diagnosa dokter, yang mengatakan bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa bulan.

Di tengah helaan napasnya yang berat, seketika ia berpikir bahwa napas berat yang ia alami bukanlah sebuah gejala penyakit, melainkan “penyebabnya”. Kemudian ia sengaja memperlambat dan mengatur napasnya. Ajaib, seketika Buteyko merasa lebih baik dan lebih tenang. Dari pengalaman itu, ia menemukan bahwa terdapat hubungan antara pola pernapasan dengan tingkat kesehatan seseorang. 

Proses Penelitian

Buteyko meneliti dan mempraktikkan teknik ini dari tahun 1952 hingga kemudian mendirikan sebuah klinik pada tahun 1987. Namun, berdasarkan keterangan yang diperoleh dari situs Buteyko Center, penemuannya ini banyak mengalami ejekan hingga sabotase. Bahkan, setelah hampir 30 tahun pun uji coba mengenai kemanjurannya tidak pernah dipublikasikan oleh rekan sejawatnya.

Namun, pada tahun 1980, teknik ini akhirnya didukung oleh Kementrian Kesehatan Rusia, yang kemudian tersebar dan berkembang di Australia. Persebarannya tak lepas dari keterlibatan publikasi media dan dukungan para ahli medis mengenai teknik itu. Hingga akhirnya Buteyko Breathing Technique berkembang sebagai pendukung dalam pengobatan di masa kini. 

Manfaat 

Bukan mai, ternyata teknik pernapasan Buteyko ini sarat manfaat, lho! Dilansir dari akun Instagram resmi Buteyko Indonesia (@buteykoindonesia), ternyata teknik pernapasan Buteyko ini tidak membayahayakan kondisi kesehatan. Di sisi lain, teknik ini juga membuat orang yang mempelajarinya terbebas dari kebutuhan konsumsi obat-obatan. Dengan terbebas dari konsumsi obat-obatan, kita bisa jauh lebih hemat dan tidak perlu lagi mengeluarkan uang. 

Selain itu, teknik ini ternyata penting sekali untuk melatih kendali pernapasan seseorang yang memiliki penyakit asma, bahkan yang sudah kronis sekalipun. Menariknya, teknik Buteyko ini ternyata mampu menormalkan kadar karbondioksida dalam tubuh kita, sehingga mampu membersihkan paru-paru, yang berdampak baik pada imunitas tubuh. Sumber lain menyebutkan bahwa Buteyko Breathing Technique ini ternyata berkaitan dengan self healing juga lho, Sobat Belia!

Risiko

Eits! Dibalik manfaatnya, ternyata teknik ini juga memiliki risiko. Dr Gia Pratama, seorang dokter yang gemar membagikan pengetahuan di Twitter menuliskan pendapatnya melalui thread “tentang mulut diplester”. Dalam thread yang diposting pada tanggal 12 Juli 2019 itu, ia menjelaskan mengenai “Apakah perlu mulut diplester setiap tidur?”

Jawabannya; “Ga perlu. Malah ada beberapa kondisi yang membuat kita tidak boleh memplester mulut dan harus memeriksakan diri, kenapa setiap malam tidak bisa bernapas normal lewat hidung. Seperti terjadi pembesaran konka karena alergi tiap malam, atau terjadi pembesaran adenoid. Keduanya akan menghambat aliran udara dari hidung, sehingga mulut akan bertindak sebagai cadangan. Nah, bila kondisi ini terjadi pada orang yang hanya ikut-ikutan plester mulut tanpa tau kondisi dirinya, ini sungguh berbahaya,” jelas Gia Pratama. 

Pada tweet lain, ia menuliskan bahwa ia tidak melarang seseorang yang melakukan tindakan plester mulut, apabila mereka sudah diperiksa dan merasa aman atas yang dilakukannya. Satu hal yang ia tekankan, bahwa dalam bertindak, seseorang harus mempunyai dasar informasi yang cukup, jangan sekadar mengikuti tren dan berekspektasi berlebih. Takutnya, alih-alih sembuh dari penyakit, justru kita malah kena penyakit baru. Amit-amit... jangan sampai deh!

Nah, kalau Sobat Belia sendiri, bagaimana? Sudahkah mencoba Buteyko? Jangan asal bertindak, ya. Pastikan kondisi kesehatanmu memungkinkan sebelum melakukan ini. Bila perlu, gunakan anjuran dari dokter, agar yang kamu lakukan jelas. (JT-Muthi’ah ‘Aabidah)***

Bagikan: