Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

[BELIA] Ketika Mahasiswa Sastra Jerman se-Asia Tenggara Berkumpul di Bandung

Tim Pikiran Rakyat
null
null

TAHUN ini lagi-lagi Indonesia patut berbangga dan diapresiasi sebagai tuan rumah dan penyelenggara Sommeruniversität (universitas musim panas) ke-4 Asia Tenggara. Sommeruniversität merupakan sebuah kegiatan yang melibatkan mahasiswa dan dosen muda sastra Jerman se-Asia Tenggara yang diselenggarakan setiap 2 tahun dan mulai dirintis pada tahun 2012 di UI sebagai universitas yang memiliki jurusan sastra Jerman di Ibukota Indonesia. 

Pada tahun 2017, Sommeruniversität diselenggarakan di Universitas Filipina Diliman, yang terletak di Manila. Tahun ini Sommeruniversität diselenggarakan di Indonesia, tepatnya Universitas Padjadjaran. Jurusan sastra Jerman di Unpad sudah ada sejak tahun 1958.

Tahun ini Sommeruniversität yang digelar dari tanggal 24 Juni sampai tanggal 10 Juli tersebut diikuti oleh 30 mahasiswa dan 12 dosen muda dari 6 negara di Asia Tenggara. Meliputi Vietnam, Laos, Thailand, Filipina, Myanmar, dan Indonesia. 

“Dosen muda mengikuti pelatihan metodik didaktik, pengajaran bahasa Jerman melalui berbagai macam teknik. Itu dilakukan lewat permainan, puisi, kuis, dan film. Sementara mahasiswa melakukan workshop kreatif selama seminggu yang berkaitan dengan bahasa Jerman, seperti melatih pelafalan berbahasa Jerman, penampilan teater dalam bahasa Jerman, workshop tentang film yang bertemakan Jerman,” jelas Ketua Program Studi Sastra Jerman Unpad, Dr. Phil. Dian Ekawati.

Selain workshop kreatif dan pelatihan pengajaran bahasa Jerman, peserta Sommeruniversität juga diberikan sajian aktivitas rekreasi seperti Kulturabend (malam kebudayaan) dan Exkursion (wisata) ke Kawah Putih, Ciwidey, Bandung, di mana para peserta dapat mengenal dan belajar mengenai budaya dari masing-masing negara peserta Sommeruniversität dan juga melihat-lihat dan mengenal Kota Bandung secara lebih dalam. Dian juga mengatakan bahwa melalui kegiatan Sommeruniversität ini, para peserta mahasiswa dan dosen dari Unpad dapat lebih mengenal jurusan sastra Jerman di luar.

Satu bahasa

Satu hal yang cukup menarik dalam rangkaian kegiatan Sommeruniversität ini adalah bagaimana para pesertanya berbicara dalam bahasa Jerman setiap hari selama 24 jam di mana pun mereka berada. Pengaturan kamar yang dibuat sedemikian rupa sehingga satu kamar harus diisi oleh peserta dari negara yang berbeda, mengharuskan para peserta Sommeruniversität untuk menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa penghubung komunikasi. 

“Mereka juga mau tidak mau jadi harus berlatih bahasa Jerman selama 2 minggu penuh karena peserta yang lainnya berdatangan dari negara yang berbeda dan mereka juga mungkin bahasa Inggris-nya tidak terlalu bagus jadi bahasa penghubungnya justru adalah bahasa Jerman. Aneh juga sih,” tutur Dian.

Pada tanggal 6 Juli 2019 kemarin, telah diselenggarakan sebuah aktivitas interkultural antara peserta Sommeruniversität yang bertempat di meeting room Unpad Training Center. Acara tersebut merupakan sebuah pementasan yang menampilkan berbagai suguhan bertemakan kebudayaan dari negara asal para peserta Sommeruniversität. 

Acara yang berlangsung dari pukul 6 sore hingga pukul 10 malam itu, dimulai dan diakhiri dengan pementasan teater dari para peserta Sommeruniversität yang telah mengikuti workshop teater dan telah mempersiapkan pementasan tersebut dari satu minggu sebelumnya. 

Malam itu, para peserta tidak hanya bertukar ilmu yang sudah mereka dapatkan selama seminggu, tetapi juga budaya yang mereka bawa dari negara asal mereka. Para hadirin kegiatan itu pun saling mendokumentasikan momen pementasan mereka sendiri dan juga teman-teman baru mereka dari negara tetangga sebagai sebuah momen yang tidak akan terulang lagi dan tidak akan terlupakan.

Percaya diri

Perasaan yang membuat terharu itu pun tidak hanya dialami oleh para peserta mahasiswa, melainkan juga para peserta dosen muda. Nabila Fadhil (22) yang biasa dipanggil Mbak Ola, peserta Sommeruniversität sebagai dosen yang termuda, mengutarakan kesannya terhadap keseluruhan pengalamannya mengikuti kegiatan Sommeruniversität ini. 

“Rasanya unglaublich kalo bahasa Jermannya. Jadi benar-benar enggak nyangka banget sih, itu di luar ekspektasi. Jadi benar-benar banyak belajar. Kita ini belajar bahasa Jerman tapi sambil belajar mengenal budaya negara-negara tetangga terdekat kita, Asia Tenggara,” tutur dia.

Mbak Ola pun menitipkan pesan untuk orang-orang yang berkecimpung dan tertarik dengan bahasa Jerman, “Buat teman-teman yang ke depannya tertarik ingin ikut Sommeruniversitat tapi merasa, aduh bahasa Jerman aku masih jelek, aduh nanti aku tiap hari ngomongnya harus auf deutsch (menggunakan bahasa Jerman) 24 jam, aduh aku harus punya sertifikat bahasa Jerman tingkat B1, aduh aku sudah punya sertifikat B1 tapi nggak bisa ngomong, justru di Sommeruniversitat ini adalah kesempatan terbesar kalian, karena kita ini belajar bahasa Jerman tapi kalian ini masih dipermudah, karena kita ini belajar sama teman-teman yang masih dekat sama kita gitu, teman-teman yang masih negara tetangga sekitar sini, belum sama orang Jerman langsung, pokoknya jangan takut sama bahasa Jerman kalian yang masih kaku, karena ini kesempatan terbesar kalian," kata Ola memotivasi.

Vakansi

Peleburan budaya pun tak berhenti sampai di acara Malam Kebudayaan. Pada kegiatan Exkursion di keesokan harinya, para peserta diajak untuk mengenal kawasan pariwisata Bandung yang sangat terkenal, yaitu Kawah Putih. Selama perjalanan tersebut terjadi hal yang sangat menarik di dalam bus, di mana para peserta bergoyang pada lagu-lagu dangdut koplo yang dinyanyikan oleh Nela Karisma, Duo Serigala dan yang paling pecah yaitu lagu berjudul Jaran Goyang yang dibawakan oleh Vita Alvia. 
Semua peserta di dalam bis pun ikut menyanyi meskipun tidak mengerti arti lagu yang dinyanyikan. Pada akhir perjalanan pun para peserta saling mengucapkan salam perpisahan dan bertukar hadiah yang mereka bawa dari negara asalnya.

Katrina Ose (20), salah satu peserta mahasiswa yang berasal dari Filipina mengatakan, “Bandung sangat indah, sangat dingin, dan jauh lebih murah daripada Filipina. Selain itu udara Bandung sangat menyegarkan dan makanannya sangat enak. Kawah Putih itu bagus sekali tetapi jalan ke Kawah Putih cukup macet, tapi itu tidak jadi masalah, karena Kawah Putih indah sekali. Saya juga masih ingin menetap sebentar lagi untuk mengunjungi Lembang,” kata dia.
Katrina juga mengatakan bahwa ia sangat menikmati waktunya berinteraksi dengan teman-teman dari negara lain di Asia Tenggara. “Secara keseluruhan saya sangat senang dan acaranya sangat bagus dan hebat,” tuturnya. (JT-Monica Lauda Christi)***

Bagikan: