Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 26.2 ° C

[BELIA] Enam Sastrawan Andal Indonesia yang Karyanya Tak Lekang oleh Waktu

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

DILANSIR dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sastra adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Menurut Sumardjo dan Saini (1998:3) dalam buku Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra (2: 2014), sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, membangkitkan pesona dengan alat bahasa.

Sastra terdiri dari dua macam yaitu puisi dan prosa. Contoh puisi seperti puisi dan pantun sedangkan prosa seperti novel, cerpen, dan drama. Sobat Belia! Setelah membaca pengertian diatas, apakah membuat kalian penasaran siapa saja sih sastrawan Indonesia yang mempunyai karya-karya andal dan sudah diakui oleh dunia? Belia akan memberitahu siapa saja sastrawan yang dimaksud. Berikut sastrawan andal tersebut:

Pramoedya Ananta Toer

Bagi penggila sastra mustahil rasanya jika tidak mengenal sosok eyang Pramoedya Ananta Toer. Pram sapaannya lahir di Blora, 6 Februari 1925. Selama hidupnya ia telah menghasilkan lebih dari 50 karya. Pram pernah meringkuk di penjara karena karyanya dianggap berhaluan kiri (komunis). Karya yang paling dikenal yaitu tertralogi buru. Jika Sobat Belia sudah membaca artikel sebelumnya, yang membahas tentang fakta novel Bumi Manusia pastinya tahu apa yang dimaksud Tetralogi Buru. Tetralogi Buru merupakan novel yang mempunyai empat serial yaitu; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Karena karya bung Pram sangat luar biasa, ia mempunyai banyak penghargaan yaitu Ramon Magsaysay Award, Wertheim Award, UNESCO Madanjeer Singh Prize, Doctor of Humane Letter, dan masih banyak lagi. Dan baru-baru ini salah satu roman Tetralogi Buru yang termasyhur yaitu Bumi Manusia difilmkan yang dan akan tayang pada 15 Agustus 2019 nanti.

Salah satu perkataan Pram yang membekas di pembaca adalah “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyrakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Chairil Anwar

“Mampus kau dikoyak-koyak sepi” yang merupakan penggalan sajak (sia-sia 1943) Chairil Anwar sudah menjadi ungkapan umum bagi masyarakat Indonesia. 

Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Ia dianggap sebagai tonggak sastra di tahun 1945-an. Karyanya menyuarakan tentang pemberontakan dari segala penindasan.  “Aku” adalah karyanya yang familiar untuk pencinta sastra loh Sobat Belia. Ini penggalan puisinya: 

Aku adalah binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

WS Rendra

Siapa yang tak mengenal W.S. Rendra? Sastrawan yang mempunyai nama asli Willibrordus Surendra Broto lahir di Solo, 7 November 1935. Rendra memiliki karya-karya hebat dan menakjubkan. Ia dijuluki sebagai “Burung Merak”, nama itu diberi oleh sahabat Rendra dari Australia saat ia mengunjungi Indonesia. Rendra menjadi guide temannya tersebut dan ingin mengenalkan budaya Indonesia, lalu mengajaknya ke Kebun Binatang Gembiraloka. 

Tiba-tiba Rendra mengajak sahabatnya ke kandang burung merak, kemudian berkata “ itu (burung merak) saya”. Sejak itulah sahabatnya dan media-media mempopulerkan sebutan tersebut. Berikut penggalan karya si Burung Merak berjudul “Sajak Pertemuan Mahasiswa”:

Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka
Ada yang duduk, ada yang diduduki
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras
Dan kita di sini bertanya:
Maksud baik saudara untuk siapa?
Saudara berdiri dipihak yang mana?

Sapardi Djoko Damono

Sobat Belia pasti tahu dong, dengan bapak Hujan Bulan Juni? Ia adalah Sapardi Djoko Damono. Lahir di Surakarta, 20 Maret 1940, sajak-sajaknya mampu menderaskan rindu dan menjulangkan cinta tulus Sobat Belia nih. Karena kemegahan karyanya, tak jarang puisinya dijadikan musikalisasi puisi. Seperti puisi yang berjudul “Aku Ingin”, dinyanyikan oleh Ari dan Reda. By the way musikalisasi tersebut dapat Sobat Belia lihat dan dengarkan di kanal youtube kalian. Sedikit penggalan bunyi puisi “Aku Ingin”:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu pada api yang menjadikannya abu

Buya Hamka

Mungkin Sobat Belia penah mendengar film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” bahkan ada juga yang sudah menonton filmnya. Film tersebut bersumber dari novel yang ditulis oleh Buya Hamka. HAMKA sendiri adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Buya Hamka lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981. 

Buya Hamka dulu bekerja sebagai wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Aktif banget bukan Sobat Belia? Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar serta novel-novelnya yang memperoleh perhatian umum dan jadi buku teks sastra di Malaysia serta Singapura adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, serta Merantau ke Deli.

Ramadhan KH

Mungkin Ramadhan Karta Hadimadja kurang dikenal, tapi karyanya sangat menarik loh Sobat Belia. Ramadhan KH lahir di Bandung, 16 Maret 1927, meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 16 Maret 2006. Kang Atun adalah panggilan akrabnya. Beliau merupakan mantan redaktur majalah Kisah, Siasat Baru, dan Budaya Jaya. Berikut beberapa karyanya; Kumpulan Puisi Priangan si Jelita (memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN1957-1958), novel Kemelut Hidup (1976; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1974), Keluarga Permana (1978; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1976). Novelnya Ladang Perminus, membawa pengarang ini ke Thailand, menerima SEA Write Award 1993.

Selain 6 orang di atas masih banyak lagi sastrawan hebat Indonesia. Seperti Eka Kurniawan, Joko Pinurbo, Ahmad Tohari, dan lain sebagainya. Setelah membaca artikel diatas gimana Sobat Belia? Jadi tertarik membaca karya-karyanya tidak? (JT/Alvin Aditya S)***

Bagikan: