Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

[BELIA] Beethoven Tetap Berkarya Usai “Masa Sunyi”

Tim Pikiran Rakyat
BEETHOVEN.*/DOK. DW.COM
BEETHOVEN.*/DOK. DW.COM

TAHUKAH kamu? Komponis terkemuka di dunia, Ludwig van Beethoven ternyata memiliki masalah dengan pendengarannya? Siapa sangka ternyata Beethoven memiliki gangguan pendengaran yang cukup mengganggu performanya dalam berkarya. 

Sebagaimana dirangkum dari Sejarah Musik 2: Musik 1970 sampai dengan akhir abad ke-20, karya McNeill, D. J. (1998); Artikel Harian Umum Pikiran Rakyat (6 Januari 1991, halaman 5) berjudul Mengapa Beethoven Menderita Tuli; dan Ensiklopedi Umum karya Pringgodigdo, P. M. (1973), mengisahkan perjalanan Beethoven saat menghasilkan karya-karya besarnya hingga deritanya saat ia ditimpa penyakit yang mengganggu pendengarannya. 

Ludwig Van Beethoven, lahir dari keluarga yang berkecimpung dalam dunia permusikan. Kakeknya, Ludwig (Louis) Van Beethoven, merupakan seorang penyanyi dan pemimpin musik di Gereja Kecil Istana Bonn. Johann Van Beethoven, ayahnya merupakan seorang penyanyi tenor di tempat yang sama. 

Beethoven yang sedari kecil akrab dengan musik, dilatih berbagai macam cara menggunakan alat musik. Ia berguru pada beberapa komponis, bahkan pada tahun 1787, bertepatan dengan musim semi, ia dikirim untuk menemui komponis agung dunia, Mozart.

Potensi besar yang dimiliki oleh Beethoven membuatnya ditunjukkan oleh hasil karyanya pada awal tahun 1770, ditengah kondisi keluarganya yang sedang kacau setelah kematian ibunya dan karena ayahnya yang seringkali mabuk-mabukan. 

Situasi dan kondisi yang ia hadapi sedikit banyaknya memberi warna pada karya kreasinya –menggebu-gebu, dan memiliki emosi yang mendalam. Sejak saat itu, ia terus menciptakan karya hingga menyelenggarakan konser pertamanya pada 2 April 1800-an. 

BEETHOVEN.*/DOK. WIKIPEDIA

Dalam sunyi Beethoven tidak tenggelam

Bagai dipukul palu godam, ditengah puncak keberhasilannya, pada pertengahan tahun 1802 ia ditimpa otosklerosis. Otosklerosis merupakan sebuah penyakit yang menyerang telinga bagian tengah, yang ditandai dengan tumbuhnya tulang secara abnormal yang mempengaruhi tulang stapes kecil, sehingga tak mampu menghantarkan suara. 

Sumber lain menambahkan bahwa ia mengidap sarkoidosis, yang mampu membuat seluruh anggota tubuh meradang dan dianggap paling menonjol menjadi penyebab ostosklerosis-nya. Perkembangan teknologi kesehatan yang belum modern pun menjadi sebuah kendala yang mempersulit kesembuhan penyakitnya.

Penyakit yang sebetulnya sudah ia rasakan dari tahun 1796, saat usianya sekitar 26 tahunan ternyata merupakan sebuah penyakit degradatif yang terus menggerogoti saraf pendengarannya. Depresi dirasakannya. Banyak permasalahan yang timbul akibat masa sunyi ini. 

Dalam beberapa tahun ia cukup mengalami kesulitan komunikasi, dan tidak dapat mencari pasangan. Pernah dirinya menulis sebuah surat aneh yang ditujukan pada adik-adiknya yang berisi kesedihannya yang begitu mendalam. Ia merasa bahwa ajalnya sudah dekat saat itu. Dengan keadaannya yang seperti itu orang lain mungkin akan berpikir, “Bagaimana bisa seseorang yang kesulitan, bahkan tidak dapat mendengar mampu membuat karya musik yang bahkan ia sendiri pun tak mampu mendengarnya? “. Tapi hal tersebut tidak membuat eksistensinya tenggelam. Akal pikirannya yang masih sehat ia daya gunakan untuk terus mengukir karya. 

Pada 7 Mei 1824, ia mengadakan konser tunggal yang berisikan karyanya. Riuh dan penuh semangat, Beethoven disambut oleh para penggemarnya. Namun, konon katanya Beethoven tak mampu mendengar sambutan penonton pada akhir pertunjukannya hingga ia harus dituntun untuk mengarahkan pandagannya dan memberi “hormat” pada penonton oleh salah seorang penyanyi.

Kurang lebih, tiga tahun setelah kejadian tersebut, Beethoven wafat. Pemakamannya dihadiri oleh 10.000 orang, menandakan ia tetap eksis, meskipun sudah tiada.(JT-Muthi’ah ‘Aabidah)***

Bagikan: