Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Hujan singkat, 28.5 ° C

[BELIA] Kesehatan Mental Remaja: Waktunya Kenali Diri Sendiri

Tim Pikiran Rakyat
KESEHATAN mental bagi Belia adalah hal yang tidak boleh diremehkan.*/REGINA HERIYADI
KESEHATAN mental bagi Belia adalah hal yang tidak boleh diremehkan.*/REGINA HERIYADI

HELLO Sobat Belia! Apa kabar nih? Mudah-mudahan selalu baik ya. Gak cuma baik dari fisik aja tapi baik juga kondisi hatinya. Gak galau-galau, no stres-stres, dan jauh-juh dari yang namanya frustrasi. Ya dong, biar kita bisa berpikir jernih, produktif, dan jadi agen perubahan di masyarakat yang selalu bermanfaat. Kayak arti pemuda sesuangguhnya, yang energetik dan penuh dengan kejutan, iya gak? Kali ini, belia lagi mau bahas tentang kesehatan mental nih, buat yang sering ngerasa gelisah, galau, merana, atau bahasa gaulnya gegana. Cus, simak ya...

Usia remaja emang usia yang campur aduk banget. Soalnya, gak cuma fisik kita yang mengalami perubahan tapi kondisi psikologisnya juga. Pada saat itu, pasti banyak banget yang dipikirin, kenapa kayak gini? Kenapa kayak gitu? Atau aku pengen jadi ini dan itu. Banyak lagi deh. Kondisi sosial juga kadang serasa nuntut kita buat menyesuaikan, tapi kadang ada aja berbenturan sama ini dan itu. Ada yang ngerasain kayak gitu?

Aulia Iskandarsyah, seorang psikolog dari Unpad bilang, kondisi seperti itu emang wajar terjadi pada remaja. Usia remaja emang lagi diserang sama fase storm and stress condition. Hal ini terjadi karena, secara biologis terjadi perubahan fisik dan psikologisnya juga mendapatkan perubahan serta mendapat tuntutan sosial.

“Contohnya, secara fisik perkembangan sekunder feminin atau maskulin remaja semakin bertambah dan semakin kuat ekspresinya. Namun secara psikologis, remaja sudah mulai dituntut untuk lebih dewasa. Kemudian, mereka ingin mengekspresikan diri tapi gak bisa lepas dari orang tua,” jelas Aulia.

Masalah remaja juga multifaktor, walaupun kebanyakannya dari segi sosial. Banyak perubahan sosial yang bakal dialami remaja, kayak cara beradaptasi, temen yang tadinya gak suka nutut jadi sering nuntut ini itu, terus ada juga temen yang suka pilih-pilih. Terus masalah fisik juga bisa jadi sumber dari stres remaja, misal karena temannya tumbuh lebih cepat, sedangkan dirinya lambat, begitupun sebaliknya. Rasa tidak pede dan minder tak dapat dipungkiri sering dirasakan remaja. Lalu, kenapa sihh muncul rasa minder?

“Sebenernya, minder itu tergantung dari pemikiran remaja yang bermasalah antara ideal self dan actual self. Misal nih, ideal self-nya pengen punya tubuh kayak Jennie Blackpink, tapi karena tubuh kita jauh dan gak sepadan dengan dia yang susah, sehingga itu bisa jadi menimbulkan stres dan frustrasi. Dia merasa hopeless, helpless dan tidak mampu,” tutur Aulia.

Peran guru BK dan orang tua

Gejala depresi bisa saja muncul karena rasa ketidakmampuan tersebut. Kita bakal ngerasa “da aku mah apa tuh”, dan ngerasa gak ada harganya. Adapun ciri dari gejala depresi itu hilangnya semangat untuk menjalani aktivitas. Kita bisa liat dari segi psikologis atau kognitif kesehariannya, dia sering ngerasa gak berharga, tidak mampu dan merasa tidak ada jalan keluar.

Bawaanya murung aja. Terus dari segi ekspresi fisik, orang itu gak mau gerak, gak mau beraktivitas, menarik diri dari sosial dan lingkungan. Bahkan lebih parah bisa aja terjadi ganggungan pada tidur dan makan. “Orang yang diem aja di tempat tidur, gak mau merawat dirinya dengan baik, bisa aja jadi ciri orang depresi,” kata Aulia lagi.

Nah, kompleks bangetkan masalah remaja. Hal ini juga diungkapkan oleh Guru Bimbingan Konseling SMK Negeri 13 Kota Bandung Hazar Nurbani. Menurutnya, permasalahan yang dialami para siswa itu beragam. “Tentang keluarga, tentang kesulitan belajar, tentang masa depan, tentang jodoh, tentang ambisi, tentang pertemanan, tentang pelajaran, tentang guru. Banyak bangetlah,” jelasnya.

Hazar juga pernah punya pengalaman menangani siswa yang mengalami depresi. Suatu hari, ada seorang siswa yang ingin bertemu dengannya. Lalu, siswa tersebut bercerita bahwa dia merasa lelah dan ingin menyerah, padahal ia adalah murid kelas XII. Pada saat itu, Hazar menelusuri penyebabnya serta mengajak siswa tersebut untuk mengingat kembali niat awal siswa tersebut saat masuk pertama kali.

“Diberi masukan baik buruknya bila menyerah sebelum waktunya. Lalu, saya bekerja sama dengan orang tua untuk membangkitkan kembali motivasi belajarnya. Memang tidak mudah, tapi Alhamdullilah dengan konseling individual siswa dapat terbuka dan mulai bangkit lagi untuk melanjutkan hidupnya,” jelas Hazar yang sudah menjadi guru BK selama 12 tahun.

Kolaborasi antara pihak sekolah, melalui guru BK dengan orang tua memang sangat diperlukan untuk menyelamatkan remaja yang terkena depresi. Irawaty, orang tua salah satu murid SMAN 10 Bandung mengatakan sebagai orang tua tidak bisa bergantung sepenuhnya pada sekolah untuk menyelesaikan kasus ini. Alasannya karena waktu yang dijalankan siswa tidak sepenuhnya berada di bangku sekolah.

“Peran sebagai orang tua yaitu dengan pendekatan dan perhatian secara langsung, memberikan kasih sayang, motivasi, memberikan contoh yang baik. Yang terpenting, tidak membanding-bandingkan dengan temannya yang lain akan memberikan dampak positif bagi anak kita,” ujar Ira.

Rizky Fadliansyah salah satu pelajar di SMA Pasundan 1 Bandung mengatakan bahwa edukasi mengenai kesehatan mental penting diketahui para pelajar. “Penting banget, karena penyebab depresi banyak sumbernya, bisa dari keluarga, pertemanan, dan bahkan sosial media. Jadi edukasi kesehatan mental penting untuk diajarkan,” ucap Rizky.

Edukasi kesehatan mental di sekolah dipelajari melalui pelajaran PJOK (olahraga), dan BK. Namun memang masih kurang maksimal. “Nggak harus ditambah sih menurut aku. Karena dua pelajaran itu udah cukup, tinggal dimaksimalkan aja,” ucapnya.

Terus nih Rizky juga ngasih pesen buat sobat Belia yang ngalamin stress atau depresi untuk lebih bercerita dengan orang sekitar. “Mulai cerita dengan orang-orang sekitar yang dianggap nyaman untuk berbagai. Karena kalo depresi ditanggung sendiri sangat berbahaya,” tutupnya.

Tapi tenang, di samping itu pasti ada kunci sukses untuk menghadapi masa remaja agar menjadi positif. Aulia bilang, jadi remaja itu harus terbuka atau open minded, kalau ada masalah ya ceritain sama orang yang dipercaya dan punya pandangan baik tentang masalah tersebut. Nah, dengan bercerita, kita sebagai remaja juga bisa menambah wawasan dan pengetahuan dari masalah yang dihadapi.

Kedua, selaraskan ideal self dan actual self  kita dengan mengenal diri sendiri, mencari tahu potensi yang bisa dikembangkan dalam diri. “Misal nih, kalau Jennie Blackpink cantik, atau temen kita cantik, pinter terus kaya. Kita bisa cari potensi yang lain dengan jadi diri yang menyenangkan,” jelas Aulia.

Hazar Nurbani juga berpendapat kalau remaja milenial sekarang membutuhkan sentuhan yang lebih dari konseling di sekolah. Menurutnya, peran orang tua juga sangat penting, karena fitrahnya siswa di rumah adalah sebagai anak. “Orang tua harus lebih interaktif dalam berkomunikasi terbuka, menjalin harmonisasi dalam berinteraksi yang sehat,” kata Hazar.

Hazar berpesan kepada remaja milenial agar selalu semangat dan berpikir positif. Menurutnya, tidak ada hal yang tidak mungkin diselesaikan. “Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya tinggal bagaimana kita mencari solusi, mendapatkan dukungan, lakukan, dan tuntaskan. So, tetap berusaha melakukan yang terbaik apapun hasilnya,” ucap Hazar.

Jadi, selalu berpikir positif juga pentig banget guys. Dari situ kita jadi bisa lebih menghargai diri dan produktif sebagai remaja. Sekarang, tuntutan zaman dan perkembangan teknologi bisa aja buat kita terjerumus pada hal yang tidak baik. Aulia juga menambahkan usia remaja di negeri kita memang banyak, tapi jangan mau tergerus oleh zaman dan hanya jadi tukang. Jadilah, agen perubahan dan aktor perubahan zaman dengan selalu berpositif thinking dan produktif.***

[email protected]

[email protected]

[email protected]

 

Bagikan: