Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Berawan, 23.9 ° C

[BELIA] Memahami Literasi

Tim Pikiran Rakyat
LITERASI.*/NET
LITERASI.*/NET

BEBERAPA tahun ke belakang ini, literasi kayaknya jadi hal penting yang harus diketahui oleh para milenial. Termasuk kamu dong ya, pembaca setia belia? Yeps, literasi memang jadi hal penting yang kudu dimiliki oleh tiap individu, terutama kalian nih para pelajar. Kebayang kan, kalau seorang pelajar nggak punya kemampuan untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, serta memecahkan masalah dalam tingkatan tertentu? Makanya, gerakan literasi ini terus digembar-gemborkan banyak pihak, supaya kita nih, nggak ketinggalan informasi.

Apa bener, literasi cuman sekedar bisa baca dan tulis doang? Yha nggak dong ya, di atas tadi udah dijelasin sedikit makna literasi. Literasi sekarang itu nggak hanya sekedar baca dan tulis, tapi juga rangkaian dari baca dan tulis itu sendiri, yakni memahami apa yang dilakukan. Dari event Semua Murid Semua Guru yang diadakan di lo.ka.si., 9 Maret 2019 lalu, belia dapet banyak ilmu baru soal literasi. Kayak yang ditulis di bawah ini nih! 

Founder Angklung Kita, Roswita Amelinda atau akrab disapa Wita, punya pendapat juga soal literasi. Jika dihubungkan sama literasi, Komunitas Angklung ini aktif dalam kegiatan literasi budaya, khususnya kearifan lokal budaya Sunda. Wita bilang, mereka fokus pada kearifan lokal Sunda terutama yang terkandung dalam alat musik tradisional angklung.

Komunitas Angklung Kita merupakan jaringan komunitas angklung di seluruh dunia. Dalam jangkauan Angklung Kita, ada sekitar 482 komuntas angklung di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 90% memang paling banyak berkembang di Jawa Barat. Nah, komunitas ini kan udah banyak dan sebenernya powerfulljadi mereka aktif bergerak di bidang hiburan sekaligus juga edukasi khususnya dalam ranah digital.

“Sekarang kan banyak banget tuh yang punya angklung, mereka asal main aja. Tapi gak tahu sebenernya, gimana sih cara main angklung yang bener? Atau gimana sih sejarah dan filosofi dari angklung sendiri?” jelas Wita.

Dia juga menambahkan, data dan jurnal-jurnal yang layak tentang pengetahuan angklung susah didapatkan. Banyak banget nih artikel yang bertebaran di Google, tapi gak tahu bener apa nggaknya. Gak jelas juga sumber dan data-data yang didapatkannya. Jadi, mereka cuma sekadar main aja, gak tahu dan gak dapet tentang konteks budayanya sendiri. Makanya nih, Angklung Kita lagi ngusahain buat kontribusi untuk membuat literasi kearifan lokal Sunda agar segera terealisasi.

Kontribusi digital

“Kami akan coba berkontribusi. Terutama di bidang digital ya, kami udah megang data-data dari seluruh komunitas angklung. Lalu, nanti akan bikin infografis, metode pembelajaran angklung sampai pada filosofi dan sejarah dari angklung sendiri,” jelas Wita lagi.

Nah, itu semua bisa kalian cek di Instagramnya @angklungkita_id. Mereka juga lagi nyiapin portal khusus www.angklungkita.com untuk menampung segala informasi mengenai apa yang udah dijabarin sama Wita. Oh iya, buat yang mau nikmatin hiburan, khususnya cover musik angklung juga bakal ada kok di sana. Jadi tunggu aja ya gengs!.

belia juga ketitipan pesen dari Wita nih, katanya anak remaja kita kan lagi hype-hype-nya sama budaya luar. Namun, jika dilihat dari komunitas angklung, masih banyak kok yang suka budaya tradisional yang kesannya kayak jadul. Jadi, sebenernya, bibit-bibit untuk melestarikan budaya tradisional masih banyak, tinggal digandakan aja supaya seimbang antara pengetahuan budaya lokal dan budaya global.

“Kalau aku sih lebih seneng nyebutnya think global, act local. Boleh-boleh aja suka budaya luar tapi jangan lupa nilai-nilai lokal yang tertanam di tempat kita lahir. Siapa tahu kalau kita lihat lebih dalam, bakalan banyak banget hal positif yang bisa ditemuin buat ngadepin dunia yang tengah berkembang ini,” pungkasnya.

Pentingnya kemampuan literasi

Pendapat lain soal literasi juga datang dari Puti Ceniza atau yang biasa dipanggil Chicha. Ia merupakan penggagas perpustakaan Pustakalana. Menurut Chicha, literasi di kalangan anak muda atau millenials itu sangat penting, utamanya dalam menyikapi globalisasi.

“Apalagi seperti sekarang, di era revolusi industri 4.0 ini informasi kebanyakan didapat dari media digital. Dan kebanyakan anak-anak muda zaman now mungkin memiliki keterbatasan dalam berpikir kritis untuk memilah informasi mana yang benar dan akurat, dan juga dalam memilih sumber mana yang bisa dipercaya. Itulah kenapa hoax sering terjadi, karena ketidakmampuan kita untuk memilah informasi itu,” tutur Chicha.

Dengan adanya literasi yang diterapkan sejak awal, yakni sejak usia dini, menurut Chicha akan membuat anak-anak yang nantinya bertumbuh menjadi remaja dan kemudian dewasa lebih bisa dan siap untuk menghadapi tantangan-tantangan di era globalisasi yang sudah tidak terbendung ini.

Menurutnya, cara yang paling tepat untuk meliterasi anak muda adalah dengan banyak membaca. Literasi adalah suatu hal yang terkait dengan pemahaman dan mengolah informasi. Literasi adalah sebuah skill. Dan sebuah skill tersebut harus diasah, salah satu cara untuk mengasah skill untuk menjadi lebih orang yang lebih terliterasi adalah dengan banyak membaca. Bukan hanya soal kuantitas berapa banyak yang telah dibaca, akan tetapi mengenai kualitas apa yang dibaca.

Yang perlu dilakukan adalah memupuk kecintaan terhadap kegiatan membaca. Dari membaca akan membentuk sikap berpikir kritis, lebih baik dalam menganalisis sesuatu, dan dapat juga menggugah rasa. Mereka yang memiliki literasi yang tinggi cenderung akan memiliki tingkat sosial dan kepedulian yang tinggi juga. Jadi, kecenderungannya adalah mau memecahkan suatu permasalahan.

Untuk memupuk kecintaan terhadap membaca, Chicha juga ngasih tips, yakni dengan mendengar. Karena mendengar pun termasuk ke dalam bagian dari literasi juga. Bisa dimulai dengan mendengarkan podcast, misalnya. Hingga akhirnya mendapatkan ketertarikan terhadap sesuatu dan kemudian akan memantik dan menggugah keingintahuan dan berujung kepada kebutuhan untuk membaca, baik melalui buku cetak maupun digital. Selain dari mendengar, kegiatan literasi pun bisa dimulai dari menggunakan visual.

Membaca lewat YouTube

Pandangan mengenai literasi datang dari Muhammad Ginanjar Eka Arli. Ia merupakan anggota dari komunitas Booktube Indonesia. Booktube Indonesia adalah komunitas baca yang bergerak melalui platform YouTube.

Komunitas yang terbentuk pada 2016 ini memiliki konten video yang berkaitan dengan buku, seperti review buku, vlog mengunjungi pameran buku, dan lainnya. “Kami melihat tren membaca semakin luas. Yang awalnya dari blog beralih ke Instagram . Teman-teman butuh wahana kreasi baru dan akhirnya memilih YouTube sebagai mediumnya,” jelas pria yang akrab disapa Agi Eka.

Mungkin pertanyaan yang ada di benak kalian adalah, “Kok ngajak orang baca buku tapi lewat YouTube?”

Agi Eka menjelaskan kalau YouTube hanya menjadi medium saja. “Kami berharap bisa jadi jembatan atau perantara. Ketika orang sudah melihat kontennya dan tertarik dengan bukunya, orang akan mencari tau lebih dalam, baca review di blog, cari di Goodreads, liat di IG, ujungnya orang akan membaca juga,” paparnya.

Ketika berbica soal literasi, Agi Eka mengungkapkan pendapatnya. Menurutnya, literasi adalah kemampuan memahami konteks. Baginya, hubungan literasi dengan generasi milenial adalah kemampuan memilah dan memilih konteks apa yang tepat untuk dikonsumsi.

Lebih dalam lagi, Agi Eka mengungkapkan keresahannya saat ini dengan mengutip pernyataan dari Zen RS, penulis dan founder Panditfootball: “Yang berbahaya itu ketika minat baca menurun, minat berkomentar meningkat.”

Agi Eka berharap ketika budaya literasi bisa meningkat, para remaja generasi milenial dapat memahami duduk perkaranya. “Ketika ada suatu masalah, mereka tidak gegabah. Ketika ada suatu info yang belum tentu benar (hoax), mereka tidak menyebarkannya,” ujarnya.

Agi Eka berbagi tips buat kalian juga. Katanya, "Kalau kalian ingin mengembangkan pengetahuan dan potensi kalian, salah satu jalannya adalah perbanyak membaca." ***

Reginaheryadi.rh@gmail.com

Lupiy22@gmail.com

elzaxtriani@gmail.com

rifqican@gmail.com

Bagikan: